Belajar Mengeja Huruf Hijaiyah

Belajar Mengeja Huruf Hijaiyah

Category : Artikel


Syukri Abubakar. Senin, 6 Oktober 2014 saya mendapat kabar kalau semester 1 PAI dan PGMI pada jam pertama dan kedua, dosennya tidak bisa masuk mengajar karena ada halangan. Untuk mengisi kekosongan jam pertama itu, saya berinisiatif untuk mengisinya. Saya minta kepada kedua kelas itu untuk bergabung dalam satu kelas agar saya bisa mengajarkan secara sekaligus. Pada pertemuan itu, saya berfikir, materi apa kira-kira yang harus saya sampaikan. Oh ya saya ingat ketika pertemuan dosen dulu, ada usulan dari beberapa dosen agar mahasiswa kita ini digembleng sejak dini mengenai baca al-Qur’annya,

karena berdasarkan keterangan dosen pembimbing skripsi dan hasil ujian lisan kemarin, terdapat beberapa mahasiswa yang belum bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar. Oleh sebab itu, dalam pertemuan ini, saya ingin mengetahui kemampuan mereka dalam hal baca tulis al-Qur’an.
Ketika saya masuk di kelas mereka, saya informasikan bahwa dosen untuk jam pertama dan kedua hari ini tidak bisa hadir karena ada halangan. Maka untuk mengisi kekosongan, saya menyediakan waktu untuk sharing ilmu terutama berkaitan dengan baca tulis al-Qur’an. Saya katakan kalau mereka adalah calon guru, maka guru harus bisa terlebih dahulu baca tulis al-Qur’an sebelum diajarkan ke orang lain, minimal untuk pengetahuan diri sendiri dan jika pun nantinya sudah memiliki anak, maka ilmu yang saya ajarkan ini bisa ditularkan ke anak cucunya.
Saya mulai mengajari mereka dengan mengenal huruf hijaiyah. Mengapa mengajarkan huruf Hijaiyah? Karena ketika saya mendengar bacaan al-Qur’an kebanyakan mahasiswa yang banyak salah adalah cara pengucapan makhraj hurufnya. Asumsi saya, mereka belum bisa sepenuhnya membedakan cara pengucapan huruf hijaiyah yang satu dengan huruf hijaiyah yang lain.
Setelah saya memperkenalkan satu persatu huruf hijaiyah beserta cara pengucapannya, saya kemudian menyuruh mereka satu persatu untuk melafalkan huruf hijaiyah yang sudah saya tulis di papan. Dari sekian mahasiswa yang saya suruh, saya merasa lega, ternyata mereka bisa melafalkannya walau belum sempurna. Paling tidak ada dua hal yang menonjol yang saya anggap perlu dipelajari ulang oleh mereka (1) pengucapan hurufnya seperti; Tsa, Ha, Dzal, Sin Syin, Shod, Za, ‘ain, ghain (2) membedakan antara dua huruf yang mirip pengucapannya, seperti; pengucapan antara Kaf dengan Qof, antara tsa dengan sin, syin dan shoad. Antara Dzal dengan dal dan Za. misalnya Dzalika dibaca Zalika, Alladzina dibaca Allaziina, dll.
Dari kekurangan yang saya identifikasi itu, saya meminta kepada mereka untuk belajar lagi cara pengucapannya dengan modal yang saya ajarkan itu. Dan saya katakan kalau ada waktu kosong lagi, saya akan masuk kembali untuk memantapkan cara pelafalan huruf hijaiyah yang baik dan benar. Karena kalau cara pelafalannya salah, maka artinya pun akan salah. saya contohkan; Qul huwallahu ahad, artinya katakanlah bahwa Allah itu Esa. Tapi kalau dibaca Kul huwallahu Ahad, maka artinya akan menjadi; Makanlah bahwa Allah itu Esa. 
Jadi saya tekankan agar benar-benar mempelajari pelafalan yang baik dan benar agar apa yang kita baca benar-benar sesuai dengan makhroj hurufnya sehingga tidak merubah arti al-Qur’an.

Bima, 6 Oktober 2014


Leave a Reply