Berjilbab berakhlak buruk atau tidak berjilbab berhati mulia?

Berjilbab berakhlak buruk atau tidak berjilbab berhati mulia?

Category : Artikel


Syukri Abubakar. Ketika dalam perjalanan menuju Sumbawa kemarin, saya mendengar percakapan sopir bis Surya Kencana dengan kondekturnya tentang rasa prihatinnya terhadap kelakuan sebagian warga muslimah Bima yang memakai Jilbab. Kondektur itu mengatakan bahwa jika malam hari labih-lebih malam minggu, mulai wilayah Amahami sampai Panda banyak wanita berjilbab duduk berduaan sambil berpelukan mesra di atas motor atau berbuat lebih dari itu siapa yang tau di pinggir-pinggir pantai yang gelap dengan seorang laki-laki entah itu pacarnya atau selingkuhannya.
Perilaku seperti itu tidak pantas dilakukan oleh seorang muslimah yang memakai jilbab. Tepatnya tidak sedap atau tidak elok dipandang. Sang supir kadang-kadang sengaja menyorotkan lampu kepada mereka dan mereka pun tidak perduli. Pemandangan seperti ini, menurutnya kerap terlihat ketika mereka melewati daerah tersebut. Menjawab penuturan kondekturnya, sang sopir mengajukan sebuah ide dengan mengatakan; Mungkin perlu dibuat peraturan khusus, kalau berduaan di sekitar wilayah itu tidak usah memakai jilbab karena merendahkan martabat seorang muslimah. Sang kondektur pun tidak setuju dengan pandangan sopir tersebut seraya mengatakan walaupun dibuat aturan main yang ketat tetap saja mereka berbuat seperti itu. Memang dulu pernah diadakan razia oleh polisi tiap malam pukul 10.00 Wita ke atas tidak diperkenankan nongkrong di wilayah-wilayah yang dicurigai sebagai tempat mesum. Jika ditemukan muda mudi yang masih nongkrong di wilayah-wilayah tersebut, maka mereka akan dibawa paksa ke kantor polisi. Namun razia seperti itu, saat ini sudah tidak terdengar lagi mungkin kebijakannya berubah kali ya.  
Mendengar perbincangan kondektur dan supir tadi, dan itu cuman salah satu sampel saja mungkin ada di tempat lain juga. Rasanya miris mendengar pergaulan muda mudi akhir-akhir ini. Kira-kira apa yang salah dengan mereka? Apakah kurang pendidikan dari orang tuanya? Kurang pendidikan budi pekerti di sekolah kah? Atau pengaruh lingkungan sekitar? atau juga  pengaruh menonton TV dan penggunaan media sosial HP dan internet? Saya kira semuanya bisa saja berpengaruh. Hemat saya, Pertama, pondasi pendidikan agama harus ditanamkan oleh orang tua sejak dini. Orang tua mempunyai peran besar dalam mendidik anak-anaknya sehingga kelak menjadi anak yang sholeh membanggakan orangtua, bukan anak yang menyusahkan orang tua. Bukankah orang tua adalah lembaga pendidikan pertama dan utama? Seperti hadist Nabi Muhammad Saw. yang mengatakah bahwa; “Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrahsuci, kedua orang tuanyalah yang menyebabkan dia Yahudi, Nasrani dan Majusiâ€�. Ini menandakan bahwa peran orang tua sangat vital dalam membentuk, mendidik dan membesarkan anaknya agar anak tetap konsisten dalam kesucian. Kedua, bagi yang sudah umur sekolah tentu saja lembaga pendidikan formal mulai TK/RA, SMP/MTs, SMA/MA memiliki peran signifikan dalam membentuk kepribadian anak sesuai dengan tujuan pendidikan.  Saya teringat cerita seorang Tuan Guru di Bima tentang bagaimana keikhlasan seorang guru pada zaman dulu dalam mengajar anak muridnya. Guru-guru zaman dulu mengajar dengan hati dan perasaan. Mereka mengajar dan membina murid-muridnya setulus hati. Mereka mengajar sampai murid-muridnya benar-benar mengerti apa yang mereka ajarkan. Kita bisa melihat prodak-prodak zaman dulu. Mereka di samping unggul dengan kecerdasan dan kepintaran, juga unggul dalam beretika baik dengan orangtuanya, gurunya dan lingkungan sosialnya. Nah, bagaimana dengan sikap murid-murid saat ini? Kita bisa menilai sendiri dengan melihat sikap mereka terhadap orang tua, guru dan lingkungan sosialnya. Ketiga, lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap karakter seseorang. Anak yang hidup di lingkungan yang baik-baik, taat beribadah tentu anak itu akan baik-baik dan taat beribadah pula mengikuti apa yang biasa dikerjakan di lingkungan tersebut. Anak yang hidup di lingkungan orang jahat maka akan ikut-ikutan jadi orang jahat karena terpengaruh dengan apa yang ia lihat kemudian ia praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang hidup di lingkungan orang yang terbiasa merokok, misalnya, maka lama-kelamaan dia akan mencoba merokok dan pada akhirnya dia akan menjadi perokok. Begitulah seterusnya. Keempat, Televisi dan media sosial HP dan Internet tidak bisa kita anggap enteng. Keduanya memiliki dua implikasi sekaligus. Jika kita menginginkan hal-hal yang baik dan bermanfaat, maka kita akan mendapatkan segala informasi yang kita butuhkan. Kita juga bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan berbisnis online misalnya atau kebutuhan-kebutuhan lainnya. Jika kita menghendaki kemafsadatan, maka peluangnya terbuka lebar karena memang hal-hal yang demikian juga bisa diakses dengan mudah kapan saja dimana saja dan oleh siapa saja yang bisa mengaksesnya. Anak TK aja saat ini sudah memegang HP dan Ipad, malah orang tuanya yang ketinggalan zaman tidak tau atau tidak bisa mengoperasikan HP dan Ipad tersebut. Tidak heran kita baca di Koran-koran atau berita televisi bahwa perilaku buruk anak-anak di bawah umur banyak dipengaruhi oleh menonton gambar-gambar atau film2 yang seronok.  
Jadi menurut hemat saya, saat ini, keempat hal itulah yang melatarbelakangi pembentukan kepribadian seseorang yang perlu diperhatikan sejak dini oleh para orangtua. Jika keempat hal tersebut tidak diindahkan niscaya akan tumbuh berkembang generasi tanpa dasar agama yang kuat yang sewaktu-waktu bisa melakukan sesuatu yang tidak baik, tidak elok, diantaranya menggunakan symbol-symbol agama pada tempat yang salah sebagaimana yang terjadi di sekitar wilayah Panda sampai Amahami tersebut. Ini bukan berarti orang yang tidak menggunakan jilbab lalu diperbolehkan berbuat seperti itu di wilayah Amahami sampai Panda. Alangkah baiknya jikalau mereka yang berjilbab memberi contoh dan tauladan yang baik kepada semua orang bukan sebaliknya.

Ketika sampai di BIL, saya juga sempat membaca artikel di Kompasiana yang berjudul; “Jilboob� Fenomena Jilbab Sexy� tulisan Wahyu Triasmara. Ia mengulas tentang fenomena orang yang memakai jilbab tapi baju dan celananya ketat dan bahkan sangat ketat sehingga terlihat lekak lekuk tubuhnya dan lekak lekuk pantatnya. Penulis itu mempertanyakan, apakah salah sementara orang yang mengatakan; “ngapain memakai jilbab kalau kelakuannya buruk, mendingan tidak memakai jilbab tapi berakhlak baik�.

Dalam menanggapi pernyataan tersebut penulis itu menjelaskan begini;

Sebagai seorang muslimah, jilbab itu hukumnya WAJIB. Tidak ada tawar-menawar dalam hal ini. Namun, terkadang jilbab dijadikan tolak ukur perilaku seseorang. “Dia berjilbab, tapi kelakuannya buruk�. Pertanyaan saya, kenapa jadi menyalahkan jilbabnya?!
Jika ada seorang wanita berjilbab, tapi kelakuannya buruk. Berarti, wanita itu hanya sekedar ‘mengetahui’ belum ‘memahami’.Kita tidak boleh menyalahkan jilbabnya, karna itu kewajiban, cukup pribadinya.
Lalu, seorang wanita yang baik, tapi tidak berjilbab. Apakah bisa dipastikan yang bersangkutan sudah yakin/pasti baik? sementara kalau memang mengaku seorang muslimah yang baik, lalu dia benar paham dan mengetahui apa yang diperintahkan agamanya, tentunya ia akan mulai berlajar mengenakan jilbab.
Maka yang perlu diketahui disini bahwa, dosa berkelakuan buruk dan tidak berjilbab itu adalah dosa tersendiri. Sebagaimana seseorang yang rajin shalat atau rajin mengaji tapi ternyata dia masih berbuat jahat. bahkan seorang kyaipun tak menjaminkan bisa terlepas dari perbuatan jahat dan buruk?
Perlu juga diingat bahwa perilaku individu tidak bisa digunakan untuk menilai secara umum para wanita yang berjilbab. Bahkan diluaran sana saya jamin, masih lebih banyak wanita yang berhijab dan akhlaqnya sungguh mulia. Sebaliknya banyak juga perempuan tak berjilbab tapi kelakuannya kurang baik.
Jilbab yang sudah dikenakan dengan benar, insaaAllah akan memberikan pengaruh besar untuk melakukan kebaikan, sedangkan menanggalkannya bisa membuka peluang besar bagi jalannya bermacam-macam maksiat. Karena pada dasarnya tidak berjilbab itu sendiri juga sudah merupakan sebuah kemaksiatan.

Sungguh penjelasan dan analisa yang cukup memuaskan bagi saya karena memang yang disalahkan seharusnya bukan aturan mainnya yang sudah ada nasnya dalam al-Qur’an:
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ’Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.� [QS. Al Ahzab (33): 59]
tapi yang harus diberi pengetahuan dan pemahaman adalah orang atau pelaku yang menjalankan aturan tersebut.

Sementara artikel berikutnya berjudul; “berjilbab tapi….� Penulis ini mengaku seorang non muslim tapi merasa prihatin muslimah yang berjilbab menyalahgunakan jilbabnya untuk kepentingannya sendiri. Seperti ketika terjerat kasus korupsi tiba-tiba muncul dengan menggunakan jilbab dihadapan penyidik. Entah apa motivasinya. Banyak yang menggunakan jilbab tapi baju dan celananya tembus pandang dalam artian baju dan celananya super ketat. Seharusnya, menurut dia, kalau berjilbab mbok ya menyesuaikan dirilah baik itu dari segi berpakaiannya lebih-lebih segi akhaknya dapat dijadikan contoh tauladan bagi yang lain.

Jakarta, 08 Agustus 2014 

Leave a Reply