Berkenalan dengan Aksara Bima

Berkenalan dengan Aksara Bima

Category : Artikel


Syukri Abubakar. Tadi sore saya ditelpon Pak Munawar mengajak ketemuan di rumah INA KAU MARI. Ia menjelaskan bahwa ada hal penting yang ingin dibicarakan. Ada wartawan majalahTempo wilayah NTB yang ingin wawancara dengan kita terkait dengan Aksara Bima, katanya diujung telpon sana.

Dia mengajak saya kesana setelah sholat Magrib. Saya katakan bahwa saya tidak bisa kesana setelah magrib karena ada urusan dengan keluarga. Ia mempersilahkan saya menyelesaikan dulu urusan keluarga, baru kesana.
Setelah isya’, saya meluncur ke rumah INA KAU MARI, disana ada pak Munawar dan INA KAU MARI yang sedang berbincang mengenai penerbitan Disertasi beliau. Saya tidak melihat ada wartawan disitu. Sesaat kemudian Pak Munawar menelpon wartawan Tempo itu kapan bisa ke rumah INA KAU MARI, dijawab tunggu sebentar.

Selang beberapa saat datanglah wartawan itu. Pak Munawar yang sudah kenal terlebih dahulu, memperkenalkan saya kepada wartawan Tempo itu. Dia mengaku bernama Akhyar. Dia menjelaskan bahwa dia ditugaskan untuk meliput Aksara Bima yang akan dimasukkan dalam penerbitan edisi ke depan ini. Ia meminta kami bercerita tentang awal mula mengetahui aksara Bima, proses mempelajarinya, proses penulisan buku aksara Bima, mana buktinya kalau yang kami tulis itu adalah aksara Bima, apa bedanya dengan aksara bugis?. Dari beberapa pertanyaan tersebut, kami bertiga menjawab secara bergantian saling melengkapi jawaban yang masih kurang.
Dia menambahkan bahwa akan dimasukkan komentar dari orang yang mengajarkan aksara Bima ini kepada orang lain. Dia meminta saya dan pak Munawar untuk menuliskan dalam satu halaman mengenai pengalaman masing-masing yang berisi pesan dan kesan serta harapan terhadap keberadaan aksara Bima ini. Dia mengharapkan mala mini juga bisa diselesaikan dan langsung dikirim ke emailnya karena dikejar deadline hari ini.
Untuk memenuhi permintaan tersebut, saya tuliskan pengalaman saya beerikut ini;
Saya pertama kali mendengar aksara Bima dari Pak Mukhlis dosen IAIN Mataram sekitar tahun 2003/2004. Pada waktu itu, beliau mengajak saya ke rumah Bunda Maryam R. Salahuddin di Mataram untuk melihat langsung naskah aksara Bima tersebut yang tersimpan di Perpustakaan Pribadi Bunda Maryam di rumahnya.
Awalnya saya tidak percaya kalau Bima memiliki aksara tersendiri, karena selama ini saya belum pernah mendengar cerita atau informasi tentang itu. Namun setelah pak mukhlis jelaskan ke saya tentang aksara Bima dan menunjukkan bukti, maka saya mulai percaya dan merasa bangga bahwa orang Bima tempo dulu memiliki peradaban yang begitu tinggi.
Selanjutnya pada tahun 2007, terdapat Symposium Internasional Pernaskahan Nusantara yang diadakan di Bima. Pada saat itu diperkenalkanlah aksara Bima itu kepada seluruh peserta Syimposium oleh panitia yang bertempat di ASI MBOJO Kerajaan Bima. Saat itulah momentum awal aksara Bima ini diperkenalkan pada masyarakat umum dan lebih khusus masyarakat Bima.
Sejak saat itu, banyak orang yang bertanya-tanya mengenai aksara Bima ini. Bagaimana ceritanya kok baru sekarang diperkenalkan, kok tidak diperkenalkan sejak dulu, bentuknya seperti huruf apa, dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya. Oleh sebab itu, Bunda Maryam yang pada saat itu sudah tinggal di Bima, meminta saya dan Munawar untuk mendalami dan menulis mengenai aksara Bima ini sampai nantinya bisa berbentuk sebuah buku.
Kami berdua sebenarnya sangat awam tentang aksara Bima ini, namun karena dorongan kuat dari bunda Maryam menyuruh kami berdua untuk mempelajarinya sedikit demi sedikit, maka dalam rentang waktu yang sangat lama, sekitar lima tahun yaitu sejak 2007 s/d 2012, barulah kami bisa menghasilkan sebuah buku yang kami beri judul “Aksara Bima, Peradaban lokal yang sempat hilangâ€�. Buku ini secara umum menginformasikan  tentang sejarah kerajaan Bima, sejarah ditemukannya aksara Bima dan bentuk aksara Bima beserta contohnya. Buku ini dicetak pada awal 2013 yang dikarang oleh tiga orang yaitu Bunda Maryam, saya (Syukri Abubakar) dan Munawar.
Untuk mewujudkan aksara Bima ini sebagai sebuah buku, saya dan munawar terlebih dahulu mengumpulkan bahan-bahan yang ada kaitannya dengan aksara Bima, baik tulisan-tulisan ahli aksara mapun naskah-naskah aksara Bima yang ada di bunda Maryam. Kami sangat terbantu dengan Huruf Bima menurut catatan Zollinger (1850) dan Huruf Bima menurut catatan Raffles 1978). Dari dua rujukan tersebut, kami mencoba membaca aksara Bima yang ada di bunda Maryam satu per satu, sampai akhirnya kami menemukan jumlah huruf aksara tersebut mulai A sampai Z. Namun dalam aksara Bima, belum kami temukan huruf Q, V, X dan Z. Tapi biasanya huruf Q diganti dengan huruf K dan huruf Z diganti dengan J.
Harapan besar kami aksara Bima ini dapat dikenal oleh masyarakat luas, lebih-lebih masyarakat Bima sendiri dengan cara dimasukkan dalam muatan lokal (MULOK) di Sekolah-sekolah Dasar  di seluruh Kota dan Kabupaten Bima. Dengan begitu aksara Bima akan terus hidup di tengah masyarakat. Hingga saat ini, harapan kami itu belum terwujud karena belum ada political will dari pemkot dan pemkab Bima. Mudah-mudahan harapan ini cepat direspon oleh pemangku kebijakan di Kota dan Kabupaten Bima.
Untuk mensosialisasikan aksara Bima ini, sebagaimana di daerah lain, bisa ditulis di setiap nama kantor, nama jalan, nama bandara, nama pelabuhan, nama sekolah dan nama-nama fasilitas umum lainnya yang terdapat di kota dan kabupaten Bima.
Yang bisa kami lakukan pada saat ini adalah hanya menyebarkan buku hasil karya kami itu di beberapa sekolah, memposting via facebook, dan secara pribadi saya memperkenalkannya kepada mahasiswa saya di sela-sela kami mengajar, memperkenalkan kepada rekan-rekan kerja di kantor dan saudara-saudara di rumah.
Itulah beberapa hal yang dapat saya gambarkan mengenai pengetahuan saya terhadap aksara Bima. Semoga ada manfaatnya. Amin.
Bima, 26 Oktober 2014

Leave a Reply