Mendiskusikan Masalah Bid’ah

Mendiskusikan Masalah Bid’ah

Category : Artikel

Ngaji peringatan 44 hari saudara wafat
Syukri Abubakar. Pada hari ini, Selasa, 21 Oktober 2014 saya mengajar semester III PAI menggantikan jam pak Kurais yang tidak bisa hadir karena ada urusan keluarga. Saya katakan pada mahasiswa bahwa materi yang akan dibahas adalah mengenai BID’AH. Saya tertarik membahasnya karena pro kontra yang timbul di masyarakat yang tidak sedikit menyebabkan perpecahan di kalangan keluarga dan antar golongan, khususnya di kalangan masyarakat Bima.

Banyak terdengar cerita bahwa dalam satu keluarga jika meninggal seorang bapak, di antara anak-anaknya ada yang ingin memperingati 7 hari kematian, 44 hari kematian dstnya dengan cara membaca al-Qur’an dan Tahlilan, sementara ada anaknya yang lain tidak mau melakukan hal itu karena dianggap perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya.
Untuk mengetahui pemahaman orang-orang Ahli Sunnah Wal Jama’ah khususnya kaum Nahdiyyin yang menjalankan praktek-praktek yang dikatakan Bid’ah itu, saya coba paparkan logika berfikirnya sebagai berikut:
Biasanya hadist yang dijadikan landasan oleh kaum salafi adalah ;
Hadist Nabi yang termaktub dalam kitab Riyadlus Solihin hal. 62:
أَمَّا بَعْد� �َإ�نَّ خَيْرَ الْحَد�يْث� ك�تَاب� الله, وَ خَيْرَ الْهَدْى� هَدْى� م�حَمَّد� صَلَّى الله عَلَيْه� وَ سَلَّمَ, وَ شَرَّ اْلأ�م�وْر� م�حْدَثَات�هَا, وَ ك�لَّ ب�دْعَة� ضَلاَلَةٌ. رواه مسلم
Yang artinya : �Amma ba’du, maka sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah hal yang baru dan setiap bid’ah adalah sesat�.
Juha hadits Rasulullah SAW yang terdapat dalam kitab Riyadlus Sholihin Hal. 62 disebutkan :
عَنْ أ�م�ّ اْلم�ؤْم�ن�يْنَ أ�م�ّ عَبْد� الله� عَائ�شَةَ رَض�يَ الله عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَس�وْل� الله صَلَّى الله عَلَيْه� وَ سَلَّمَ : مَنْ أَحْدَثَ �ى� أَمْر�نَا هَذَا مَا لَيْسَ م�نْه� �َه�وَ رَدٌّ. (مت�ق عليه(
Artinya : �Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak�.
Menurut para ulama’, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bid’ah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’). Al Imam Al Hafiz Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa perbuatan bid’ah yang dimaksud dalam hadist tersebut adalah hal-hal yg tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah SWT:
بَد�يع� السَّمَاوَات� وَالأَرْض� …الأية
Yang artinya : “Allah yang menciptakan langit dan bumi�. (Al-Baqarah 2: 117).
Terdapat sebuah hadist Nabi juga yang berbunyi
ك�ل�ّ ب�دْعَة� ضَلاَ لَةٌ وَك�ل�ّ ضَلاَ لَة� ��ى النَّار� yang artinya : “Semua bid’ah itu adalah sesat dan semua kesesatan itu di neraka�.
Jika kita memahami redaksi hadist ini secara lafdziah maka sudah pasti dapat diambil kesimpulan bahwa segala sesuatu yang baru dalam agama (dalam hal ini segala sesuatu yang tidak pernah ada pada zaman nabi) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah sudah pasti sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
Namun demikian, mari coba kita kaji dari sudut pandang ilmu balaghogh. Dalam kajian ilmu balaghogh disebutkan bahwa setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus.
Bid’ah itu merupakan kata benda, yang sudah barang tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas. Hal seperti ini dalam Ilmu Balaghah dikatakan;
حد� الص�ة على الموصو� yaitu “membuang sifat dari benda yang bersifat�. Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka akan terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama;

 ÙƒÙ�Ù„Ù�Ù‘ بÙ�دْعَةÙ� حَسَنَةÙ� ضَلاَ Ù„ÙŽØ©ÙŒ ÙˆÙŽÙƒÙ�Ù„Ù�Ù‘ ضَلاَ Ù„ÙŽØ©Ù� Ù�Ù�Ù‰ النَّارÙ� Yang artinya : “Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk nerakaâ€�. Hal ini tidak mungkin, bagaimana bisa sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua; ÙƒÙ�Ù„Ù�Ù‘ بÙ�دْعَةÙ� سَيÙ�ئَةÙ� ضَلاَ Ù„ÙŽØ©ÙŒ ÙˆÙŽÙƒÙ�Ù„Ù�Ù‘ ضَلاَ Ù„ÙŽØ©Ù� Ù�Ù�Ù‰ النَّاÙ�ر Yang artinya : “Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk nerakaâ€�.
Hal yang sama dengan kajian ilmu balaghogh diatas terjadi pula dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah membuang sifat kapal dalam firman-Nya pada QS Al-Kahfi : 79 yang berbunyi:
وَكَانَ وَرَاءه�م مَّل�كٌ يَأْخ�ذ� ك�لَّ سَ��ينَة� غَصْباً ﴿٧٩﴾
Aartinya: “Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa�.
Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menyebutkan kapal baik apakah kapal jelek; karena dalam kondisi normal kapal yang jelek tidak akan diambil oleh raja. Maka lafadh
كل س�ينةsama dengan كل بد عةtidak disebutkan sifatnya, walaupun pasti punya sifat, ialah kapal yang baik كل س�ينة حسنة.
Kemudian kajian lain terhadap hadist tersebut adalah pendapat dari Al-Imam Al-Hafidz Al-Nawawi yang menyatakan dalam kitab Syarh-nya atas kitab Shohih Muslim, bahwa kata
كل adalah bermakna sebagian besar bukan bermakna seluruh, sehingga hadist itu oleh beliau dimaknakan “sebagian besar perbuatan bid’ah itu adalah sesat�.
Kalau kita perhatikan amalan-amalan ulama-ulama terdahulu yang kita ikuti sampai saat ini seperti tahlilan, tentu saja berdasarkan al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad Saw. yang dipahami secara umum. Misalnya dalam Qs. Al-Hasr: 10.
والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغ�ر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل �ي قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رءو� رحيم
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr 59 ; 10)
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم كلما كان ليلتها من رسول الله صلى الله عليه وسلم يخرج من آخر الليل إلى البقيع �يقول السلام عليكم دار قوم مؤمنين وأتاكم ما توعدون غدا مؤجلون وإنا إن شاء الله بكم لاحقون اللهم اغ�ر لأهل بقيع الغرقد.
“Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada malam hari yaitu keluar pada akhir malam ke pekuburan Baqi’, kemudian Rasulullah mengucapkan “Assalamu’alaykum dar qaumin mu’minin wa ataakum ma tu’aduwna ghadan muajjaluwna wa innaa InsyaAllahu bikum laa hiquwn, Allahummaghfir lil-Ahli Baqi al-Gharqad�.

Ini salah satu ayat dan hadits yang menyatakan bahwa mendo’akan orang mati adalah masyru’ (perkara yang disyariatkan), dan menganjurkan kaum muslimin agar mendo’akan saudara muslimnya yang telah meninggal dunia.

Juga diperkuat oleh hadist Nabi yang termaktub dalam kitab Riyadlus Sholihin Halaman 63 yang berbunyi :
مَنْ سَنَّ ��ى اْلا�سْلاَم� س�نَّةً حَسَنَةً �َلَه� أَجْر�هَا وَأَجْر� مَنْ عَم�لَ ب�هَا بَعْدَه� م�نْ غَيْر� اَنْ يَنْق�صَ م�نْ أ�ج�وْر�ه�مْ شَيْئٌ, وَمَنْ سَنَّ ��ى اْلا�سْلاَم� س�نَّةً سَي�ئَةً �َعَلَيْه� و�زْر�هَا وَ و�زْر� مَنْ عَم�لَ ب�هَا م�نْ بَعْد�ه� م�نْ غَيْر�اَنْ يَنْق�صَ م�نْ أَوْزَار�ه�مْ شَيْئٌ. رواه مسلم

Yang artinya : “Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun�. HR. Muslim.
Dan hadist Nabi yang lain yang termaktub dalam kitab Sunan Ibnu Majah Juz I hal. 414 :
إ�نَّ أ�مَّت�ي لَنْ تَجْتَم�عَ عَلَى ضَلاَلَة� �َإ�ذَا رَأَيْت�م� اخْت�لاَ�ًا �َعَلَيْك�مْ ب�السَّوَاد� اْلأَعْظَم�. رواه ابن ماجة عن انس ابن مالك
Yang artinya : “Bahwa ummatku tidak akan sepakat dalam kesesatan, bila kamu melihat perbedaan pendapat diantara kalian, maka ikutilah pendapat mayoritas�. HR Ibnu Majah dari Anas bin Malik.
Disamping itu, terdapat contoh perbuatan bid’ah yang pernah dilakukan sahabat-sahabat terdekat Nabi termasuk khulafaur rasyidin, diantaranya :
1. Pembukuan Al-Qur’an pada masa Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq atas usul Sayyidina Umar ibn Khattab
2. Pemberian titik-titik dan syakal/baris-baris pada tulisan Al Qur’an yang baru dilakukan pada masa kekholifahan Sayyid
ina Ustman bin Affan.
3. Sayyidina Umar ibn Khattab mengumpulkan semua umat Islam untuk mendirikan shalat tarawih berjamaah. Kala itu, iaberkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini�.
4. Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali. Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam kitab Shahih-nya bahwa penambahan adzan tersebut karena umat Islam semakin banyak. Selain itu, Sayyidina Utsman juga memerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di atas az-Zawra’, yaitu sebuah bangunan yang berada di pasar Madinah.
Begitulah beberapa argumen yang dibangun oleh kalangan Ahli Sunnah Wal Jama’ah dalam menanggapi tuduhan bid’ah yang disematkan oleh kaum salafi.

Wallahu a’lam bissowab
Bima, 21 Oktober 2014



Leave a Reply