Menikahi Wanita Hamil karena Zina

Menikahi Wanita Hamil karena Zina

Category : Artikel , Kuliah Fiqh III


Ibu hamil

Syukri Abubakar. Rabu, 31 Oktober 2014 saya mendampingi semester III PAI mendiskusikan masalah MENIKAHI WANITA HAMIL KARENA ZINA. Pada saat itu yang menjadi pemakalah adalah Mardatillah dan Eripuspitasari. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa menikahi wanita hamil di luar nikah itu ada beberapa pendapat para ulama. Diantaranya adalah;

Pertama, Imam Hanafi dan Imam Syafi’i. Menurut keduanya bahwa wanita hamil karena zina boleh dinikahi oleh lelaki yang menghamilinya atau laki-laki lain. Imam Hanafi berargumen bahwa; wanita hamil karena zina itu tidak memiliki iddah, maka boleh menikahinya tapi tidak boleh melakukan hubungan suami isteri sampai kandungannya lahir. Ketidakbolehan melakukan hubungan badan ini sesuai dengan hadist Nabi Saw. yang menyatakan: “Janganlah kamu melakukan hubungan seks dengan wanita hamil sampai ia melahirkanâ€�.  Sementara Imam Syafi’i berpandangan sama dengan Imam Hanafi dalam hal boleh dinikahi bahkan Imam Syafi’i juga membolehkan berhubungan badan walaupun dalam keadaan hamil. Hal ini beliau bersandaran pada hadist Nabi Muhammad Saw. yang artinya: “Bagi dia mas kawinnya, karena kamu sudah meminta kehalalannya untuk mengumpulinya sedangkan anak itu adalah hamba bagimuâ€�. Jadi karena dia sudah menikahinya dan memberinya mahar yang artinya sudah halal, maka tidak ada masalah baginya untuk berhubungan badan.
Bolehnya wanita hamil karena zina itu dinikahi karena mereka beranggapan bahwa wanita yang hamil di luar nikah itu, tidak bisa disamakan dengan wanita yang hamil dengan perkawinan yang sah. Ketentuan iddah itu adalah untuk menghargai sperma yang ada dalam kandungan wanita yang menikah sesuai dengan aturan agama. Sementara sperma dari hasil hubungan di luar nikah tidak ditetapkan oleh hukum. 
Mereka berpandangan demikian merujuk pada QS. An-Nur: 3 yang artinya;

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin”.[1028].
[1028]  maksud ayat Ini ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.
Ayat tersebut menjelaskan kebolehan perempuan hamil karena zina menikah dengan laki-laki yang menghamilinya. Juga menjelaskan keharaman laki-laki mukmin menikahi wanita pezina. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kehormatan laki-laki yang beriman.
Kedua, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa wanita hamil karena zina itu tidak boleh dinikahi. Mereka harus mensucikan diri dalam waktu yang sama dengan iddah. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad Saw.: “Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya (spermanya) kepada tanaman orang lain, yakni wanita-wanita tawanan yang hamil. Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir mengumpuli wanita tawanan perang sampai menghabiskan masa istibra’nya (Iddahnya) dalam satu kali haidh.
Juga hadist lain dari Nabi Muhammad Saw. beliau bersabda: “Janganlah kamu melakukan hubungan seks dengan wanita hamil sampai ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil sampai haid satu kali�.
Dari dua hadist tersebut di atas mereka memahaminya secara umum bahwa wanita yang hamil, baik hamil karena pernikahan yang sah maupun hamil karena zina, mereka harus menjalankan masa iddah. Sehingga otomatis mereka harus melahirkan dahulu sebelum melangsungkan perkawinan. Imam Ahmad menambahkan wanita-wanita itu diharuskan juga untuk melakukan taubatan nasuha.
Menanggapi persoalan menikahi wanita hamil karena zini ini, mazhab Fiqh Indonesia menjawabnya dalam pasal 53 Kompilasi Hukum Islam (KHI) sebagai beirikut: 1) Seorang wanita hamil di luar nikah dapat dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya, 2) Perkawinan dengan wanita hamil yang tersebut dalam ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya, 3) Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
Bagaimana dengan status anak yang ada dalam kandungan ibu itu? Anak itu akan menasab kepada siapa? Kepada laki-laki yang menikahi ibunya kah, atau kepada laki-laki yang menghamili ibunya kah atau kepada ibunya sendiri?. Dalam hal ini para ulama juga berbelah pendapat:  Menurut Imam Syafi’i anak itu akan menasab ke laki-laki yang mengawini ibunya jika anak itu lahir setelah enam bulan perkawinan (karena batas minimal umur kandungan adalah 180 hari atau enam bulan). Sedangkan bila anak itu lahir sebelum enam bulan, maka akan dinasabkan kepada ibunya. Sedangkan menurut Imam Hanafi, anak itu dinasabkan kepada laki-laki yang menghamili ibunya. Alasannya, beliau memahami lafad al-firasy dalam hadist Nabi Saw. tersebut dengan laki-laki (suami), maka hubungan nasab anak tersebut adalah dengan suami ibunya. Disamping itu, beliau memahami lafad nikah, secara hakiki yang berarti setubuh. Oleh sebab itu, setiap anak yang dilahirkan oleh ibu yang hamil karena zina, itu dinasabkan kepada laki-laki yang mempunyai bibit. Itu artinya, walaupun laki-laki itu tidak menikah dengan ibunya, maka laki-laki itu tetap menjadi ayahnya karena laki-laki itulah yang menaruh bibit sperma kepada ibunya. Sementara itu, KHI menetapkan adanya pengakuan terhadap anak itu karena dia dilahirkan dalam perkawinan yang sah.
Wallahu a’lam
Bima, 3 Nopember 2014

Leave a Reply