Munawir Sjadzali dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia

Munawir Sjadzali dan Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia

Category : Jurnal


Oleh: Syukri, M.Ag.[1]
Abstrak :
Munawir Sjadzali adalah salah satu tokoh yang sangat gigih memperjuangkan pembaharuan pemikiran di Indonesia. Selain mengkampanyekan reaktualisasi hukum Islam, ia juga sangat getol melakukan pembaharuan dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan Islam. Karena menurutnya pendidikan merupakan salah satu media untuk mempersiapkan pemimpin bangsa yang cerdas di  masa depan, sehingga mereka diharapkan mampu memperjuangkan ketertinggalan negara kita sejajar dengan dunia Barat. Ia telah melakukan beberapa hal yang fundamental dalam menata pengembangan pendidikan di Indonesia. Paling tidak ada tiga hal penting yang telah diupayakannya, yaitu (1) Menyamakan kedudukan IAIN dengan Perguruan Tinggi Umum lainnya, MI, MTs, MA dengan SD, SMP, dan SMA. (2) Mengadakan projek percontohan Madrasah Aliyah Program Khusus yang alumninya banyak yang berhasil. (3) Upaya penguatan kemampuan dosen IAIN dengan mengirim mereka ke negara Barat. Usaha-usahanya itu, kini telah menampakkan hasil dengan berkembangnya lembaga pendidikan tinggi Islam serta banyaknya dosen yang bergelar Master dan Doktor lulusan dalam dan luar negeri.
Kata kunci : Pembaharuan – Lembaga Pendidikan – Pemimpin 
Pendahuluan
Pembaharuan mengandung arti fikiran, aliran, gerakan dan upaya untuk memahami kembali sumber Islam dengan melepaskan diri dari pemahaman lama dengan maksud untuk merelevankan Islam dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern[2]. Maksud pembaharuan disini bukan ditujukan untuk mempertanyakan keabsahan sumber ajaran Islam, melainkan upaya mengubah pola pemikiran umat Islam agar tidak terikat secara kaku kepada pola pemahaman dan pemikiran masa lampau.
Istilah pembaharuan ini sudah sering kita dengar pada era 80an yang digulirkan oleh para cendekiawan Islam pada saat itu. Sebut saja Nurcholis Majid, Abdurrahman Wahid, Djohan Effendi, dan Amin Rais. Tidak ketinggalan juga yang ikut meramaikan wacana pembaharuan ini adalah Munawir Sjadzali, yang pada waktu itu sedang menjabat Menteri Agama Republik Indonesia selama dua periode (1983-1988 dan 1988-1993).
Dengan bekal kemampuannya terhadap penguasaan kitab-kitab klasik, dan kecenderungannya terhadap tradisi pemikiran Islam klasik sebagai hasil dari pendidikan pesantren yang ditempuhnya di Mamba’ul Ulum Solo, Munawir juga memiliki minat yang tinggi untuk mengaktualisasikan pemikiran Islam klasik itu dengan perkembangan dunia modern. Sebab ia sangat akrab dengan wacana intelektual Barat khususnya Amerika dan Inggris. Kemampuan ini memperkayanya untuk melakukan analisis atas gejala historis dan menghadapkannya dengan ajaran Islam dan khazanah pemikiran Islam.
Kondisi umat Islam sekarang ini, menurut Munawir, sudah jauh tertinggal dari dunia Barat. Hal ini terjadi karena negara-negara Barat terus mencari perubahan dengan akal budi, yang merupakan pemberian Tuhan yang paling utama pada umat manusia. Sementara pengembangan intelektual pada dunia Islam boleh dikatakan sejak lama terhenti.  Meskipun ungkapan pintu ijtihad telah tertutup sudah jarang terdengar, tetapi pemikir Islam sekarang tampaknya masih tetap belum berani untuk berpikir kritis. Akibatnya Islam yang dulu di tangan Nabi Muhammad saw. merupakan ajaran revolusioner, sekarang ini mewakili aliran terbelakang kalau tidak hendak dikatakan out of date. Oleh sebab itu, satu-satunya langkah untuk mengejar ketertinggalan itu, menurutnya, perlu melakukan pembenahan di bidang pendidikan khususnya yang berhubungan dengan lembaga pendidikan dan tenaga pendidik, karena pendidikan merupakan sarana untuk  menggembleng pemimpin masa depan.
Biografi Singkat Munawir Sjadzali
Munawir lahir di Klaten Jawa Tengah pada tanggal 17 Nopember 1925. Ia merupakan anak yang tertua dari delapan bersaudara, dari pasangan Abu Aswam Hasan Sjadzali (putra Tohari) dengan Tas’iyah (putri) Badruddin.[3]Ayahnya Munawir merupakan salah seorang yang mendalam ilmu agamanya karena beliau pernah mengenyam pendidikan agama di beberapa pondok pesantren tradisional semisal Jamsaren Solo, Tebuireng Jombang, Tremas Pacitan, sehingga tidak heran pada masa tua ayahnya menjadi ulama panutan banyak orang di desanya yang digelar Kyai. Di samping aktif dalam organisasi Muhammadiyah dimana beliau menjadi pimpinan ranting di desanya, beliau juga aktif dalam tarekat Sjadzaliyah.
Dengan demikian secara organisatoris dapat dikatakan ada pengaruh gerakan reformis Islam di Indonesia terhadap diri Munawir dari segi keturunan, sekaligus ada pengaruh mistisisme Islam. Pada diri ayahnya nampak adanya kemampuan untuk mengolah proses interaksi mistisisme atau tarikat disatu pihak dan reformisme dipihak lain tanpa menimbulkan kontradiksi dalam pribadi beliau, dan tanpa harus memilih salah satu saja yang ekstrim. Kemampuan itu mungkin saja berpengaruh juga pada diri Munawir yang diwarisi pada diri ayahnya.
Kehidupan masa kecil, Munawir lalui dengan suasana yang memprihatinkan, dimana ia berangkat sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu, ia tekun membantu ibunya di rumah bahkan dalam hal masak memasak dilakukannya. Sehingga pada waktu usia tuanya, ia tidak ingin anak-anaknya merasakan keprihatinan yang dialaminya dahulu.  
Setelah menyelesaikan Sekolah Dasar, ia melanjutkan studi di Mamba’ul Ulum Solo [4] sampai pada bulan April 1943. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mambaul Ulum Solo ini, Munawir melakukan pengembaraan panjang, menjadi guru di sekolah Muhammadiyah Salatiga dan kemudian pindah menjadi guru di Gunungpati, Semarang. Dari Gunungpati inilah keterlibatan Munawir dalam kegiatan-kegiatan umat Islam dalam skala nasional dimulai. Kegiatan Munawir yang tadinya hanya mengajar, berkembang ke arah kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. Munawir hampir selalu dilibatkan dalam kegiatan yang diadakan oleh badan-badan resmi maupun swasta. Bahkan di Gunungpati inilah untuk pertama kalinya Munawir bertemu dengan Bung Karno yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Umum Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dan berkunjung ke Gunungpati, sebagai penghargaan atas suksesnya kecamatan ini dalam mengumpulkan dukungan untuk Putera.[5]
Munawir adalah tipe seorang aktifis yang banyak berkiprah dalam beberapa organisasi, di antaranya: sebagai Ketua Angkatan Muda Gunungpati, Ketua Markas Pimpinan Pertempuran Hizbullah-Sabilillah (MPHS) dan Ketua Umum Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Semarang. Kehidupan Munawir selama setahun di Semarang sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya. Pertama, Munawir menemukan jodohnya, seorang gadis bernama Murni, yang waktu itu aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Setelah melewati proses sederhana, pada 25 Mei 1950, Munawir melangsungkan “pernikahan sirri� dengan Murni, putri Tas Sekti, cucu Tasripin, seorang konglomerat pribumi Semarang. Acara pernikahan resmi yang diikuti resepsi selanjutnya dilaksanakan pada 11 Oktober 1950. Pernikahan Munawir-Murni ini dianugerahi enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga wanita. Kedua, karena memiliki banyak waktu luang di Semarang seusai muktamar GPII, Munawir mencoba menelaah konsepsi politik Islam yang berkembang di masa klasik. Dengan memanfaatkan perpustakaan KH. Munawar Kholil, yang penuh dengan kitab-kitab Islam klasik, Munawir berhasil menulis buku setebal 80 halaman dengan judul: “Mungkinkah Negara Indonesia Bersendikan Islam?.�[6]
Buku ini akhirnya dicetak sebanyak 500 copy dan habis terjual dalam kurun waktu empat bulan. Salah satu toko buku yang menjualkan buku tersebut adalah toko buku Tinta Mas yang terletak di Jalan Kramat Raya Jakarta. Kebetulan yang punya toko itu adalah Bapak Zein Zambek, ipar Bung Hatta, wakil presiden RI ketika itu. Malalui dia, buku tersebut sempat terbaca oleh Bung Hatta. Suatu hari ketika Munawir ke Jakarta, ia dipertemukan dengan Bung Hatta. Bung Hatta memuji atas keberaniannya berfikir mandiri dan meninggalkan klise yang usang. Atas jasa Bung Hatta inilah akhirnya Munawir kemudian diterima sebagai Pegawai Kementerian Luar Negeri, sebagai loncatan untuk dapat meneruskan pendidikannya di luar negeri. Dari tahun 1954-1983, Munawir menghabiskan waktu di luar negeri sebagai diplomat dan juga diisi dengan melanjutkan belajar. Ia belajar ilmu politik di Inggris pada Universitas of Exeter dengan lama belajar satu tahun yakni 1953-1954. Kemudian pada tahun 1956-1959, Munawir ditugaskan sebagai diplomat di Washintong DC. Disinilah ia melanjutkan lagi belajarnya pada jurusan Ilmu Politik di Universitas George Town.
Selanjutnya Munawir diangkat menjadi Menteri Agama dalam kurun waktu dua periode 1983-1988 dan 1988-1993. Pada saat menjadi Menteri Agama ini, Munawir juga meneruskan ketertarikannya mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan mengajar di Pasca Sarjana IAIN Syarief Hidayatullah Jakarta pada Mata Kuliah Islam dan Tata Negara. Sebagaimana yang dikatakan Tarmidji Taher bahwa Munawir tampak merasa feeling at home di lingkungan Departemen Agama ketimbang hari-hari panjangnya di Departemen Luar Negeri[7]. Hal ini tampaknya karena selama di Departemen Agamalah Munawir merasa mendapat anugerah dari Allah Swt. yang tidak banyak orang memperolehnya, yaitu kemampuan menggabungkan tiga kecenderungan sekaligus yakni kepakaran dalam ilmu politik, kehandalan diplomatik dan keahlian dalam study Islam. Lebih-lebih kecenderungan yang ketiga ini mendapat saluran yang tepat di IAIN Syarief Hidayatullah Jakarta.
Selama menjabat sebagai Menteri Agama, banyak hal penting yang dilakukannya untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya, di antaranya adalah (1) Pemasyarakatan Ketetapan MPR-RI No. IV tahun 1983 tentang Pancasila sebagai satu-satunya Azas bagi kehidupan masyarakat, (2) Melakukan pembenahan terhadap lembaga IAIN, Madrasah disamakan dengan Sekolah Umum yaitu MI disamakan dengan SD, MTsN disamakan dengan SMP, MAN disamakan dengan SMA, (3) Memprakarsai diadakannya pilot project Madrasah Aliyah Program Khusus MAPK dengan kurikulum bermuatan 70% pengetahuan agama dan 30% pengetahuan umum (4) Menghidupkan kembali program yang pernah dilakukan oleh Mukti Ali yang mengirim penyandang S1 untuk memperdalam ilmu pengetahuan di Barat (5) Ikut andil dalam penyelesaian pembahasan UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah dirintis sejak tahun 1961.[8]
Pada hari Jum’at 23 Juli 2004 pukul 11.20 Wib., (pada umur 78 tahun) Munawir menembuskan napas terkahirnya di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Jenazah mantan anggota Dewan Pertimbangan Agung (1993-1998), ini disemayamkan di rumah duka di Jalan Bangka VII No.5-B Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan dimakamkan di tempat pemakaman keluarga Giritama, Bogor, Jawa Barat, hari Sabtu 24 Juli 2004.
Di mata para sahabatnya, ia seorang pemimpin pembaharu pemikiran Islam dan mempunyai banyak gagasan. Dialah yang menggagas pertemuan tahunan Menteri-Menteri Agama Negara Brunei Darussalam, Republik Indonesia, Malaysia dan Singapura. Ide dan gagasannya dalam kongres Menteri-Menteri Agama seluruh dunia di Jeddah pada tahun 1988, telah diterima beberapa negara, sehingga diadakan empat kali pertemuan tahunan untuk meningkatkan pembaharuan pemikiran perihal Islam di kalangan negara anggota. 
Dalam pengabdiannya, ia telah mendapatkan sejumlah penghargaan, termasuk dari sejumlah negara sahabat. Antara lain, penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana dan Satyalencana Karya Satya Kelas II dari Pemerintah Indonesia, Great Cordon of Merit dari Pemerintah Qatar, Medallion of the Order of Quwait-Special Class dari Kuwati, dan Heung in Medal-Second Class dari Korea Selatan. 
Langkah-langkah Pembaharuan Pendidikan Munawir Sjadzali
Munawir sangat getol melakukan pembenahan di bidang pendidikan, khususnya pendidikan di wilayah Departemen Agama. Hal ini karena, menurutnya, pendidikan merupakan media yang paling tepat untuk menyiapkan calon pemimpin bangsa yang tangguh.[9] Oleh karena itu, ada tiga agenda besar yang menjadi pikiran Munawir yang harus segera dituntaskan.
Pertama, terkait dengan masalah IAIN. Meskipun telah berdiri puluhan tahun, sebagai lembaga pendidikan tinggi agama negeri, pada saat itu, IAIN belum memiliki dasar hukum yang kuat. Juga anggaran belanjanya jauh di bawah perguruan tinggi umum negeri yang dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Untuk menuntaskan penataan IAIN ini menurutnya sangat rumit. Namun dengan usaha kerasnya melobi dua departemen (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang pada waktu itu dijabat oleh Dr. Nugroho Notosusanto dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara yang dijabat oleh Prof. Dr. Saleh Afif) masalah pembenahan IAIN ini dapat terselesaikan dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 1985 yang memberikan status, perlakuan, dan fasilitas kepada 14 IAIN di seluruh Indonesia sama dengan perguruan tinggi umum negeri yang dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PP itu dijabarkan dengan keputusan Presiden Nomor 9 tahun 1987, dan kemudian merupakan bagian dari Undang-undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Kedua, terkait dengan penataan jenjang pendidikan di bawah IAIN yaitu Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan Pesantren. Dalam  rangka penetapan tersebut, satu rintisan Pak Mukti Ali melalui SKB Menteri 1975 yang bertujuan mengangkat kondisi madrasah sejajar dengan kondisi sekolah-sekolah umum, perlu adanya penyempurnaan atau koreksi, yang dalam istilahnya Abdullah Sukarta “terpaksa Munawir sempurnakanâ€�.[10] Dengan SKB tersebut banyak anak lulusan Madrasah Aliyah dapat meneruskan ke Perguruan Tinggi (Umum) negeri, tetapi akibatnya merugikan IAIN. Lulusan MAN dengan kurikulum 70% pengetahuan umum dan 30% pengetahuan agama dianggap kurang siap untuk meneruskan pendidikan ilmu agama di IAIN. Untuk mengatasi hal itu, Munawir mengadakan proyek percontohan Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus (MANPK) dengan kurikulum 70% pengetahuan agama dan 30% pengetahuan umum. Pada tahun 1988 proyek ini dimulai dengan membuka 5 buah MANPK di Padang Panjang, Ciamis, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ujung Pandang dan Jember. Kemudian pada tahun 1990 MANPK dikembangkan 5 buah lagi di Banda Aceh, Lampung, Solo, Banjarmasin dan Mataram. Dalam perkembangannya, menurut Dr. Zamakhsjari Dhofier, jumlah MANPK sudah membengkak menjadi 110 buah. Salah satu keberhasilan proyek ini, menurut Munawir adalah berhasilnya 48 alumni MANPK tahun 1991 mengikuti proses belajar mengajar di Universitas Al-Azhar. Melihat keberhasilan proyek MANPK ini, Presiden Soeharto memberikan saran agar proyek serupa juga diterapkan untuk Madrasah Tsanawiyah. Untuk proyek tersebut, Munawir menitipkan kepada Tarmizi Taher Menteri Agama Kabinet Pembangunan VI, dan tampaknya proyek itu tidak bisa dilaksanakan karena pencanangan wajib belajar sembilan tahun.
Ketiga, Menghidupkan kembali tradisi pengiriman dosen IAIN untuk studi ke negara-negara Barat –khususnya ke Universitas McGill, (Montreal, Kanada) dan Universitas Leiden (Belanda)- yang dulu pernah dirintis Mukti Ali. Menurutnya, ilmuwan Muslim Indonesia yang mampu berkomunikasi dengan dunia modern adalah mereka yang di samping mendapat pendidikan S1 di Timur, juga mengenyam pendidikan S2 dan S3 di Barat. Munawir menunjuk nama-nama seperti Prof. Dr. HM. Rasjidi, Prof. Dr. Mukti Ali, dan Prof. Dr. Harun Nasution sebagai prototype ilmuwan Muslim Indonesia.
Pada periode 1988-1991, program pengiriman dosen ini mengalami sukses besar. Menurut catatan Munawir, selama ia menjadi Menteri Agama, Departemen Agama telah mengirim sebanyak 225 mahasiswa ke Barat. Mereka diterima untuk program S2 dan S3 di universitas-universitas Barat, seperti McGill di Kanada; UCLA di Columbia, Chicago, dan Harvard di USA; London, Leiden, dan Hamburg di Eropa Barat; serta ANU, Monash, dan Flinders di Australia. Sampai awal tahun 1993, dari mereka itu telah kembali ke Indonesia sebanyak 12 orang dengan menyandang gelar Ph.D dan sebanyak 67 orang dengan gelar MA. Dan sekitar 200-an orang tamatan Madrasah Aliyah dikirim ke Kairo untuk melanjutkan studi di Universitas al-Azhar.[11] Terhadap pengiriman dosen ke Barat, Munawir memberikan alasan (1) agar para lulusan IAIN dapat lebih memperluas cakrawala ilmiah mereka dan belajar untuk berpikir kritis terhadap ilmu pengetahuan termasuk ilmu keagamaan, (2) agar tidak terjadi kesenjangan dan demi terjadinya komunikasi yang lancar dan serasi dengan mitra-mitra perjuangan mereka yang berpendidikan Barat.
Terhadap pendidikan luar negeri ini, perhatian Munawir sangat besar. Ia tidak segan-segan membantu para petugas belajar yang menghadapi birokrasi atau finansial. Dengan kecenderungan Munawir seperti itu, Abdullah Sukarta menyarankan kepada mereka yang “bermasalah� agar tidak ragu-ragu melaporkan masalah yang mereka hadapi kepada Munawir. Dan nyatalah Munawir dengan senang hati membantu mahasiswa-mahasiswa tersebut baik dalam rangka penelitian, perpanjangan studi atau mendatangkan istri yang terpisah lama.[12]
Penutup
Munawir telah “berhasil� mewujudkan mimpinya mencetak generasi masa depan dambaan bangsa. Hal ini terbukti dengan keberhasilannya dalam (1) Menyamakan kedudukan IAIN dengan Perguruan Tinggi Umum lainnya, MI, MTs, MA dengan SD, SMP, dan SMA. (2) Mengadakan projek percontohan Madrasah Aliyah Program Khusus yang alumninya banyak yang berhasil. (3) Upaya penguatan kemampuan dosen IAIN dengan mengirim mereka ke Universitas McGill, Montreal (Canada), UCLA di Columbia, Chicago dan Harvard di USA; London, Leiden, dan Hamburg di Eropa Barat; serta ANU, Monash dan Flinders di Australia. Dari merekalah cakrawala pemikiran keislaman berkembang di UIN, IAIN, STAIN sampai saat ini.
Daftar Pustaka
Abdullah Sukarta, Dari Thamrin Hingga Ke Banteng Kilas Balik Bersama Pak Munawir, Jakarta: Paramadina, 1995.

Abdurrahman Kasdi, Munawir Sjadzali dan International Studies; Menembus Kebekuan Pendidikan Islam, Makalah, 2008.

Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1996.
Munawir Sjadzali, Ijtihad Kemanusiaan, Jakarta: Paramadina, 1997.
________, Kontekstualisasi Ajaran Islam , Jakarta: Paramadina, 1995.
Tarmidzi Taher, “Menuju Lapangan Banteng: Kenangan Bersama Pak Munawir�, dalam Kontekstualisasi Ajaran Islam, Jakarta: Paramadina, 1995.
Syukri Abubakar, Munawir Sjadzali dan Pemikirannya tentang Ijtihad Masa Kini, Skripsi, Fakultas Syari’ah IAIN Surabaya, 1998.


[1] Penulis adalah Dosen IAIN Mataram diperbantukan di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima.
[2] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1996), 11.
[3] Syukri Abubakar, Munawir Sjadzali dan Pemikirannya tentang Ijtihad Masa Kini, Skripsi, Fakultas Syari’ah IAIN Surabaya, 1998.
[4] Konon sekolah ini merupakan kaderisasi untuk merekrut tenaga di Bidang kepenghuluan dan hakim agama yang masa dulu didirikan oleh Kesunanan Surakarta guna mengisi tenaga kepenghuluan. Di Mamba’ul Ulum ini diberikan pengetahuan Fiqh dengan menggunakan kitab-kitab fiqh yang beraliran Syafi’i, antara lain; Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Fathul Wahab, dan lain-lain. 
[5]Abdurrahman Kisdi, Munawir Sjadzali dan Internasional Studies; Menembus Kebekuan Pendidikan Islam, Makalah, 2008. Sumber: http://www.ditpertais.net/jurnal/vol62003lo.asp.
[6]  Ibid., lihat juga, Syukri Abubakar, Munawir Sjadzali…, 20.  
[7]Tarmidzi Taher, “Menuju Lapangan Banteng: Kenangan Bersama Pak Munawir�, dalam Kontekstualisasi Ajaran Islam (Jakarta: Paramadina, 1995), 145.
[8]  Munawir Sjadzali, Kontekstualisasi Ajaran Islam, (Jakarta: Paramadina, 1995), 81-86.
[9] Abdurrahman Kisdi, Munawir….Makalah, 2008.
[10]Abdullah Sukarta, “Dari Thamrin Hingga Ke Banteng Kilas Balik Bersama Pak Munawir�, dalam Kontekstualisasi Ajaran Islam (Jakarta: Paramadina, 1995), 153.
[11] Ibid.,154.
[12] Ibid.,155.

Leave a Reply