Poligami dan permasalahannya

Poligami dan permasalahannya

Category : Kuliah Fiqh III


H. Puspo Wardoyo bersama ke empat isterinya
Syukri Abubakar. Mengawali pembicaraan masalah poligami ini ada baiknya dijelaskan terlebih dahulu dasar hukumnya apakah diperbolehkan atau dilarang. Ayat yang sering dijadikan rujukan poligami adalah QS. An-Nisa’ ayat 3 yang artinya:

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.

[265]berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.

[266]Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat Ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh para nabi sebelum nabi Muhammad s.a.w. ayat Ini membatasi poligami sampai empat orang saja.

Ayat ini turun pada tahun ke delapan setelah Rasulullah saw berhijrah ke Madinah, setelah meninggalnya Khodijah ra pada bulan Ramadhan tahun ke sepuluh kenabian dan juga setelah beliau saw menikahi seluruh istrinya dan wanita terakhir yang dinikahinya adalah Maimunah pada tahun ke-7 H.

Sebab turunnya ayat ini sebagaimana disebutkan dalam ash-shahihain (bukhari-muslim) adalah bahwa Urwah bin az Zubeir bertanya kepada Aisyah tentang firman Allah ÙˆÙŽØ¥Ù�نْ Ø®Ù�Ù�ْتÙ�مْ أَلا تÙ�قْسÙ�Ø·Ù�وا Ù�Ù�ÙŠ الْيَتَامَى , maka Aisyah berkata,â€� “Wahai anak saudaraku, gadis anak yatim yang disebutkan dalam ayat di atas berada dalam penguasaan walinya. Gadis itu mempunyai harta yang dikongsi bersama dengan harta walinya. Pada saat yang sama, harta dan kecantikan gadis itu menarik perhatian walinya, justeru, si wali ingin mengawininya tetapi tidak mau berlaku adil daripada segi mahar. Wali itu memberikannya mahar seperti yang diberikan kepada orang lain. Oleh karena itu, syara’ melarang para wali menikah dengan gadis-gadis kaya yang berada di bawah pengawasan mereka kecuali dengan syarat harus berlaku adil pada mereka dan memberikan mas kawin yang sewajarnya. Para wali juga diperintahkan supaya menikah dengan wanita-wanita lain yang baik selain gadis-gadis yang berada di bawah pengawasan mereka kerana dikhawatirkan mereka tidak berlaku adil jika menikah dengan gadis yang berada di bawah pengawasan mereka itu.”

Dari asbabun nuzul ayat di atas, maka dapat kita pahami bahwa persoalan poligami ini sudah dipraktekkan lama sebelum Islam datang. Praktek poligami ini sudah dijalankan sejak masa Nabi-nabi terdahulu. Tunjuk misal, Nabi Ibrahim AS menikahi Siti Hajar dan Siti Sarah. Di dalam Perjanjian Lama, diceritakan mengenai Isu’ bin Ishak mengumpulkan lima orang isteri. Nabi Ya’kub putra Nabi Ishak juga mengumpulkan empat orang isteri. Nabi Daud AS dalam sejarah kehidupannya menikahi 99 orang isteri, sementara Nabi Sulaiman mengumpulkan 70 orang isteri. Pendek kata, poligami dalam syariat nabi-nabi terdahulu tidak ada batasan sama sekali.

Nah kalau kita cermati QS. An-nisa’ ayat 3 ini secara seksama, maka ada beberapa hal yang dapat kita ambil intisarinya, yaitu:

Pertama, bahwa poligami itu dibatasi hanya kepada empat orang isteri saja. Hal ini terjadi pada jaman rasulullah Saw. bahwa sahabat yang memiliki isteri lebih dari empat, Nabi Saw. meminta mereka untuk memilih hanya empat saja. Sebagaimana hadist Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Tirmizi, Hakim, Dar Al Qutni, Haithami dan Baihaqi dari Ibnu Umar bahwa Ghailan Bin Salamah Al Thaqafi memeluk Islam sedangkan pada masa itu, ia mempunyai 10 orang isteri, maka Rasulullah SAW berkata: “Pilih di antara mereka empat orang saja�.

Kedua, Jika ingin melakukan poligami, maka harus memenuhi syarat yaitu dapat berlaku adil di antara isteri-isterinya. Adil yang bagaimana yang dimaksud oleh QS. An-nisa’ ayat 3 tersebut di atas, sementara dalam QS. An-Nisa: 129 secara tegas menjelaskan bahwa seorang laki-laki tidak akan mampu berlaku adil sekuat apapun usahanya. Sebaimana firman Allah sebagai berikut:  

وَلَنْ تَسْتَط�يع�وا أَنْ تَعْد�ل�وا بَيْنَ الن�ّسَاء� وَلَوْ حَرَصْت�مْ �َلا تَم�يل�وا ك�لَّ الْمَيْل� �َتَذَر�وهَا كَالْم�عَلَّقَة� وَإ�نْ ت�صْل�ح�وا وَتَتَّق�وا �َإ�نَّ اللَّهَ كَانَ غَ��ورًا رَح�يمًا

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang�. [An-Nisa: 129]

Menafsirkan kata adil dalam ayat tersebut, Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah mengabarkan ketidakmampuan merealisasikan keadilan di antara para istri adalah dalam masalah cinta, jima’ dan bagian hati. Allah telah menjelaskan sifat manusia bahwa mereka adalah makhluk yang tidak mampu menguasai kecondongan hati mereka terhadap sebagian, tidak  kepada sebagai yang lain.â€� Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu’alayhi wasallam membagi nafkah di antara para istri beliau dengan adil kemudian bersabda  [yang artinya]: “Ya Allah, ini adalah pembagianku terhadap apa yang aku mampu menguasainya, maka janganlah mencelaku terhadap apa yang Engkau kuasai dan tidak kukuasai [maksudnya adalah hati] HR. Abu Dawud.

Jadi kecenderungan hati atau kecintannya kepada salah satu istri yang lebih besar daripada yang lain wajib tetap berada pada tempatnya yaitu di dalam hati. Tidak boleh ditampakkan dengan ucapan maupun perbuatan agar tidak menyakiti istri-istri yang lainnya. Juga tidak boleh mengurangi maslahat para istri yang lain dan anak-anaknya demi memenuhi kecintaannya kepada seorang istri yang lebih dicintainya berikut anak-anaknya. Kita adalah manusia bukan malaikat. Oleh karena itu kita wajib berbuat adil sebatas kemampuan kita. Sementara keadilan mutlak itu hanya milik Allah Swt. 

Ayat di atas tidak serta merta menyuruh kita untuk berpoligami, namun menginformasikan bahwa ada peluang jika memang menghendaki berpoligami. Ada beberapa alasan mengapa poligami boleh dilakukan, di antaranya adalah; 1) Isteri tidak bisa melahirkan alias mandul. Maka suami boleh menikah lagi, karena salah satu tujuan perkawinan adalah untuk mendapatkan keturunan dengan cara yang halal. 2) Isteri memiliki penyakit kelamin yang sulit disembuhkan sehingga menghambat penyaluran nafsu seksual suami. Maka suami pun diijinkan untuk menikah lagi, karena di antara tujuan perkawinan adalah menyalurkan kebutuhan seksual dengan cara yang halal. 3) Diantara lelaki itu ternyata ada yang hyper seks sehingga sang isteri tidak mampu melayaninya dengan seksama. Bagi laki-laki yang punya kelainan seperti ini, maka agar isterinya tidak tersakiti secara fisik, dia diperbolehkan untuk menikah lagi daripada menlakukan hal-hal yang dilarang agama. 4) Jumlah wanita lebih banyak dari jumlah laki-laki yang diakibatkan oleh peperangan atau memang jumlah penduduk suatu daerah itu kebanyakan wanita.    

Waalahu a’lam

Bima, 08 Nopember 2014


Leave a Reply