Poligami dan Poliandri

Poligami dan Poliandri

Category : Kuliah Fiqh III



Syukri Abubakar. Menarik untuk diulas kembali tentang apa yang didiskusikan pada semester III kemarin ketika membahas Poligami. Pada sesi pertanyaan, ada dua penanya yang menurut saya perlu diperjelas jawabannya.
Pertanyaan pertama datang dari Khairunnisa. Ia mempertanyakan Poligami yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Ia berpendapat bahwa Rasulullah Saw. adalah panutan umat. Apapun yang beliau lakukan harus kita ikuti, termasuk dalam hal poligami. Jadi Poligami bisa lebih dari empat orang sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw.
Menjawab pertanyaan ini, pemakalah saudari Ernawati mengatakan bahwa Nabi memiliki keistimewan-keistimewaan yang tidak dimiliki oleh umatnya, diantaranya adalah dibolehkannya menikahi wanita lebih dari empat, diwajibkannya beliau untuk sholat duha, sholat witir, berkurban dan siwakan, menceraikan isteri-isteri yang memilih kehidupan dunia dan mempertahankan isteri-isteri yang memilih kehidupan akhirat, dan lain-lain.
Mendengar jawaban tersebut, penanya tidak puas dan meminta jawaban yang lebih membuka cakrawala keilmuan. Nah, untuk memberi penjelasan lebih lanjut, saya coba menayangkan penjelasan berikut ini yang mungkin bisa memenuhi hasrat keilmuannya.
Coba kita perhatikan lagi QS. An-Nisa 3 : tersebut dibawah ini:
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS An-Nisa 4 :3).

Jika kita perhatikan dengan teliti ayat di atas, maka anda akan menemukan kata “Jika kamu takut tidak akan berlaku adil�. Nah, kepada siapakah kata-kata itu ditujukan?. Kata itu ditujukan kepada pengikut nabi Muhammad. Jadi batasan jumlah 4 istri itu berlaku bagi pengikut nabi bukan termasuk nabi. Mengapa?. Karena Nabi adalah orang teradil sepanjang sejarah hidup manusia. Itulah mengapa Allah mengangkat Nabi saat usia 40 tahun. Dan itulah mengapa juga banyak para nabi Allah yang memiliki isteri lebih dari 4 seperti Nabi Daud yang memiliki istri 99 orang, Nabi Sulaiman yang memiliki isteri 70 orang.
Jadi kalau bisa kita simpulkan bahwa:
1. Bagi para nabi boleh menikahi wanita lebih dari 4
2. Bagi pengikut nabi yang bisa berlaku adil boleh menikahi wanita maksimal 4 dan
3. Bagi pengikut nabi yang takut tidak bisa berlaku adil maka cukup menikahi 1 orang wanita saja

Pertanyaan kedua diajukan oleh saudara Rahmi Juang. Ia mempertanyakan dasar dilarangnya poliandri dalam ajaran Islam. Menjawab pertanyaan ini, pemakalah menjelaskan dalam Islam mengenal kejelasan nasab keturunan. Jika suaminya banyak, maka tidak akan diketahui anak itu nasab ke siapa. Padahal masalah warisan, masalah nikah, dan lain-lain harus jelas siapa bapaknya. Mendengar jawaban pemakalah tersebut, Rahmi Juang mengatakan bahwa saat ini teknologi sudah canggih, teknologi sudah bisa menentukan siapa bapak biologis anak tersebut dengan melakukan tes DNA. Jadi menurutnya kalau jawabannya hanya sekedar alasan kejelasan nasab, maka sudah terbantahkan.
Menanggapi bantahan saudara Rahmi Juang ini, saya coba menjelaskan begini, bahwa keharaman poliandri bukan semata-mata disebabkan karena khawatir akan terjadinya kerancuan keturunan. Tetapi karena semata-mata keharaman yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Buktinya, poliandri tetap haram dilakukan oleh seorang wanita yang mandul. Kalau seandainya keharamannya hanya karena khawatir akan terjadi kerancuan dalam masalah keturunan, seharusnya wanita mandul boleh berpoliandri. Sebab dia tidak akan berketurunan, sehingga tidak akan timbul masalah kerancuan tersebut.

Degitu juga hal yang sama berlaku buat laki-laki mandul. Meski sudah bisa dipastikan tidak bisa mengakibatkan kehamilan pada diri seorang wanita, tetap saja dia diharamkan berzina. Sebab haramnya zina bukan semata-mata mengkhawatirkan lahirnya anak di luar nikah.
Dalam syariat Islam, jangankan poliandri, melamar wanita yang sedang dalam lamaran orang lain pun hukumnya haram. Termasuk melamar wanita yang sudah dicerai suaminya, selama masa iddah belum selesai, juga haram hukumnya. Apalagi sampai menikahi isteri orang, maka keharamannya dua kali lipat.
Karena itu sangat keliru kalau ada orang berasumsi bahwa haramnya poliandri hanya dikarenakan di masa lalu belum dikenal tes DNA.

Terdapat beberapa bentuk pernikahan yang pernah dilakukan sebelum Islam datang dan diharamkan ketika Islam Islam hadir di tanah arab. diantaranya:
1. Seorang lelaki meminta isterinya yang baru saja suci dari menstruasi untuk pergi kepada seorang lelaki yang dipandang cerdas atau ganteng.Isteri tersebut diminta untuk melayani laki-laki yang diinginkan suaminya itu hingga ada tanda-tanda hamil. Dan, bila nyata telah hamil maka isteri tersebut kembali kepada suaminya. Suami boleh mengumpuli kembali bila menghendakinya. Nikah yang begini ini untuk mendapatkan keturunan yang ganteng atau cerdas. Ini namanya nikah istibdha.
2. Sekelompok laki-laki yang banyaknya kurang dari sepuluh orang, secara bergiliran berzina dengan seorang wanita. Apabila hamil dan melahirkan seorang anak, semua laki-laki diberitahu bahwa dia telah melahirkan anak. Wanita itu memilih salah satu yang paling dia sukai sebagai ayah anak tersebut. Nasab anak itu disandarkan pada laki-laki yang paling dicintai oleh wanita tersebut.
3. Wanita pelacur memasang bendera di pintu rumahnya sebagai tanda untuk menerima lelaki siapa saja yang mau berzina dengannya. Bila hamil dan melahirkan, dia panggil semua lelaki yang pernah menggaulinya. Lalu, wanita tersebut memanggil juru tebak dan menetapkan ayah bayi itu kepada orang yang dianggap paling mirip.

Ke tiga macam praktek pernikahan tersebut dianggap perzinahan yang pada saat ini sama dengan poliandri.
Wallahu a’lam
Bima, 10 Nopember 2014


Leave a Reply