Sebuah Refleksi di Hari Guru

Sebuah Refleksi di Hari Guru

Category : Artikel


Ahmad Syagif. Hari guru nasional yang setiap tahunnya diperingati setiap tanggal 25 Nopember biasanya diperingati dengan melaksanakan upacara resmi yang dipimpin oleh kepala daerah setempat dan  diikuti oleh para pembuat kebijakan pendidikan dalam pemerintahan, pengurus PGRI, serta para guru di berbagai jenjang pendidikan. Dan menjadi sebuah tradisi, di sekolah-sekolah murid-murid yang biasanya mengikuti kegiatan belajar menjadi disibukkan dengan berbagai persiapan meranyakan hari guru.
Ada yang menghias kelas mereka dengan berbagai pernak-pernik, ada pula yang mengadakan acara makan-makan dengan para guru mereka. Rutinitas sekali setahun tersebut menjadi lumrah  sebagai perwujudan terima kasih para peserta didik terhadap para gurunya karena sangat berjasa dalam mendidik mereka di sekolah.

Sementara di beberapa tempat, tidak jarang para guru menjadikan momen lahirnya PGRI ini untuk berunjuk rasa menyampaikan aspirasi mereka. Dan yang menjadi tuntutan utama mereka biasanya adalah masalah peningkatan kesejahteraan, karena memang kenyataannya pemerintah masih kurang maksimal memperhatikan nasib para guru, khususnya  mereka yang masih honorer maupun yang sudah mengabdi bertahun-tahun.

Jika kita melihat lebih dalam, selayaknya upacara hari guru tidak hanya menjadi sebuah formalitas dan rutinitas. Para kepala daerah, para pembuat kebijakan pendidikan (anggota dewan), serta para pejabat kementerian pendidikan yang setiap tahunnya mengikuti upacara hari guru harusnya lebih memperhatikan masalah guru di Negara kita, baik dalam hal kualitas dan profesionalitasnya, maupun dalam hal penghargaan dan kesejahteraanya yang masih kalah jauh, bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita. Demikian pula di sekolah, jangan sampai ada kesan bahwa setiap hari guru, hari belajar efektif menjadi ditiadakan, para siswa seakan dituntut untuk memberikan “servisâ€� istimewa bagi gurunya, hingga harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Para guru pun seolah “memanfaatkanâ€� momen ini untuk bebas tugas mengajar dan “mendapatkanâ€� parcel, hadiah, atau makanan gratis sebanyak-banyaknya dari para siswanya. Sementara itu, unjuk rasa dengan cara dan tuntutan yang  berlebihan oleh para guru dikhawatirkan menimbulkan persepsi negatif dari masyarakat bahwa guru yang lekat dengan julukan pahlawan tanpa tanda jasa menjadi para pencari jasa dan pamrih. Hal ini semakin diperparah dengan berbagai perilaku negatif para guru yang mencederai citra pendidik dan pengayom siswa-siswanya, seperti kekerasan, pelecehan seksual, memberi contekan pada siswa saat UN, manipulasi data, rekayasa jam mengajar, pengedar dan pemakai narkoba, plagiasi, dan sebagainya. Bahkan alasan tidak dibebankannya pembuatan silabus kepada para guru pada kurikulum 2013 disinyalir akibat ketidakmampuan sebagian guru dalam membuatnya saat KTSP masih berlaku. Guru yang merupakan profesi mulia baik dalam agama maupun masyarakat menjadi kehilangan ruh dan spiritnya. Tidak salah jika peribahasa  guru kencing berdiri murid kencing berlari menjadi fakta actual dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, dengan momentum hari guru ini seharusnya menjadi ruang untuk refleksi bagi berbagai pihak khususnya para guru agar selalu mengintrospeksi diri dan meningkatkan kompetensinya, baik pedagogik, personal, profesional maupun sosial dalam mendidik putera-putera bangsa ini menjadi anak yang berguna di masa mendatang. Seorang guru harus lebih kreatif dan inovatif, tidak boleh merasa puas dengan ilmunya, harus selalu belajar dan mengembangkan dirinya mengikuti perkembangan iptek. Pendeknya seorang guru harus menjadi sosok yang dapat digugu dan ditiru oleh anak-anak didiknya.


Leave a Reply