Syirik dalam Cinta

Syirik dalam Cinta

Category : Artikel

Zhuna La Bhona. Mau nilai bagus atau hati hangus? bergaul sehat atau bergaul bebas ? Mungkin beberapa pertanyaan itulah kiranya yang cocok diutarakan pada generasi muda kita. Pemuda-pemudi yang tidak bisa terlepas dari rasa yang dalam, sebut saja cinta (mahabbah). Hal istimewa yang dinanti-nanti kawula muda, sebagai virus ampuh yang melumpuhkan daya kerja otak kanan. Sehingga semua hal yang berkaitan dengan penalaran, akan penuh dengan hal demikian. Dalam pelajaran biologi otak kanan fokus pada hal-hal bersifat penalaran,
sebaliknya otak kiri fokus pada hal bersifat hitungan. Katakanlah kanan bahasa, kiri matematika. Maka jangan heran ketika cinta menyapa, pelajaranpun sulit terserap dalam memori otak kita.Beberapa alasan terjalinya cinta kawula muda versi Burhan Sodiq (2009) antara lain karena paras semuanya menjadi deras, sebagai kebanggaan, akibat tidak menjaga pandangan, dorongan teman, dan lainnya. Sebagai manusia normal memang wajar kita memiliki daya tarik pada lawan jenis. Namun tak semestinya membuat kita buta dan tuli, bahkan masa depan harus hancur karena terlalu dalam berprofesi sebagai penikmat cinta.
Dari segi agama, pada dasarnya cinta merupakan landasan semua agama, dalam Islam cinta juga disebutkan pada Surat Al-Baqarah ayat 165 yang artinya “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allahâ€�. Dari ayat di atas, cinta dibagi 2, cinta karena Allah, seperti diperkenalkan oleh seorang sufi wanita bernama Robiatul Al-Adawiyah, dilahirkan di kota Basrah  (Iraq) sekitar awal kurun kedua Hijrah, dan cinta pada selain Allah(syahwat), katakanlah cinta manusia contohnya, rela berkorban waktu dan materi, terik matahari terasa dingin, hujan terasa hangat, tiba-tiba demam. Tanpa sadar kita lupa akan Allah dan tujuan hidup kita. Dalam surat az-zumar ayat 43 Allah berfirman “Bahkan mereka mengambil pemberi syafaat selain Allah. Katakanlah: “Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?”. Dalam hal ini, cinta terlalu besar kepada selain Allah dan dapat dikatakan syirik dalam cinta.
Dalam medika edisi ketiga telah dibahas, seperti yang disampaikan oleh salah seorang dosen sebut saja Irwan Supriadin J, M.Sos.I bahwa menganggap adanya sebuah kekuatan lain selain kekuatan Allah SWT yang mempengaruhi kehidupan kita, itu dikatakan sebagai syirik. Tengok halnya dengan cinta, banyak perkataan-perkataan romantis seperti “aku tidak dapat hidup tanpa kamu, aku rela mati demi cintaku padamu� dan sebagainya yang apabila diperhatikan kembali, cinta merupakan sesuatu hal yang sangat berpengaruh dalam kehidupanya. Bahkan Allah SWT pun secara pemikiran logika kita dapat digambarkan dan merasa iri,�dia ciptaan-KU menyembah -KU, dia ciptaan-KU memuja ciptaan-KU�.
Sadar brooo…cinta merupakan urusan hati. Semakin banyak cinta membumbuhi hati, maka semakin terasa pula penyakit yang timbul. Mulai dari bisikan kemaksiatan, dengki, iri, ria, angkuh, dan lainnya. Merasa diri cantik hingga tidak sudi untuk menoleh pada sapaan. Itu semua penyakit hati yang dalam kajian agama apabila hati rusak, maka semuanya ikut rusak, termasuk masa depan.
Tengok faktanya, seorang gadis bernama Nur 16 tahun asal Pekanbaru tewas di tangan  pacarnya Borju usia 18 pada (24/3/2007) dengan cara dicekik. Tidak hanya itu, Napsiah (16 thun) bakar diri karena putus cinta, tenggerang. Belum lagi karena terlalu dalam mencintai, seorang gadis rela memilih hidup dengan kekasihnya daripada orang tuanya sendiri pada 2 juni 2008, serta lainya. Peristiwa-peristiwa tersebut berlandaskan hal sepele(cinta), namun menambah halaman baru rusaknya generasi muda bangsa Indonesia.
Kembali pada koridor keislaman kita, ingat orang tua kawand. Masa depan masih sangat panjang, perasaan takut tidak mendapatkan jodoh, merasa sulit melupakan si doi, serta cerita telenovela lainya hanya memperkeruh suasana dan menghambat karier. Manis sebentar, pahit setahun. Kalaulah memang sudah pas, langsungkan saja ke jenjang pernikahan. Semakin lama pacaran, maka semakin banyak fitnah dan dosa yang akan kita tampung.
Pertanyaan kemudian, Lalu bagaimana solusinya ?, fokus pada cinta Allah , perbanyak sholat tahajud dan jaga diri, jaga jarak, kejar cita-cita dan impianmu, dan mulailah sedikit menyisihkan pacaran dengan sahabat. Sahabat tidak akan bisa hilang hanya karena kata putus, camkan. Teman adalah buku-buku motivasi harian kita, pilih persahabatan yang sehat. Jangan terlalu lugu menerima sinyal, dan jangan salah mengartikan sebuah perhatian.
Allah menegaskan melalui firmanya “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara…â€�(al-imran : 103)
Wallahu alam…..Semoga bermanfaat…amien.


Leave a Reply