Tafsiran QS. al-Baqarah ayat 221

Tafsiran QS. al-Baqarah ayat 221

Category : Kuliah Tafsir III


221. Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

Asbabun Nuzul Ayat 
Mengenai sebab turunnya ayat ini, oleh Al-Wahidi diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sebagai berikut:
“Rasulullah saw. telah mengutus Mursad Al-Ganawi pergi ke Mekah guna menjemput sejumlah kaum muslimin yang masih tertinggal di sana untuk dibawa ke Madinah. Kedatangan Mursad ke Mekah itu terdengar oleh seorang wanita musyrik bernama `Anaq, yaitu teman lama Mursad sejak zaman jahiliah. Dia adalah seorang perempuan yang rupawan. Semenjak Mursad hijrah ke Madinah, mereka belum pernah berjumpa. Oleh sebab itu, setelah ia mendengar kedatangan Mursad ke Mekah, ia segera menemuinya. Setelah bertemu, maka `Anaq mengajak Mursad untuk kembali berkasih-kasihan dan bercumbuan seperti dahulunya. Akan tetapi Mursad menolak dan menjawab: “Islam telah memisahkan antara kita berdua; dan hukum Islam telah melarang kita untuk berbuat sesuatu yang tidak baik.� Mendengar jawaban itu `Anaq berkata: “Masih ada jalan keluar bagi kita, yaitu baiklah kita menikah saja.� Mursad menjawab: “Aku setuju, tetapi aku lebih dahulu akan meminta persetujuan kepada Rasulullah saw.� Setelah kembali ke Madinah, Mursad melaporkan kepada Rasulullah hasil pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, dan di samping itu diceritakannya pula tentang pertemuannya dengan `Anaq dan maksudnya untuk menikahinya. Ia bertanya kepada Rasulullah saw.: “Halalkah bagiku untuk mengawininya, padahal ia masih musyrik?� Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban atas pertanyaan itu.“

Tafsiran Ayat

Yang dimaksud dengan syirk dalam ayat di atas menurut Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah Juz 1 hal. 577 adalah mempersekutukan sesuatu dengan sesuatu. Dalam pandangan agama, seorang musyrik adalah siapa yang percaya bahwa ada Tuhan bersama Allah atau siapa yang melakukan aktivitas yang bertujuan utama ganda, pertama kepada Allah Swt. dan kedua kepada selain-Nya. Dengan demikian semua orang yang mempersekutukan Allah Swt. dari sudut pandang ini adalah musyrik. Orang-orang Kristen yang percaya tentang Trinitas, kalau mengikuti pandangan tersebut di atas adalah dikategorikan musyrik. Namun demikian, al-Qur’an tidak menamai mereka orang-orang musyrik, tetapi menamai mereka dengan Ahli Kitab. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Baqarah: 105.

“Orang-orang kafir dari ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar”.

Juga firman Allah Swt. dalam QS. Al-Bayyinah: 1 yang berbunyi:

“Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”.

Dari kedua ayat tersebut dijelaskan bahwa orang kafir itu ada dua kategori, yaitu: orang-orang Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (penyembah berhala). Orang musyrik secara gamblang ditegaskan keharamannya untuk menikahi mereka. Baik dari pihak laki-laki maupun pihak perempuan. Sementara ahli kitab, terdapat satu ayat yang membolehkan laki-laki muslim menikahi wanita-wanita ahli kitab, yaitu dalam QS. Al-Ma’idah (5): 5. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa halal menikahi perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan diantara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian.

Menanggapi ayat ini, lagi-lagi Quraish Shihab berpendapat bahwa ahli kitab itu sudah masuk dalam kategori kafir sebagaimana dijelaskan dalam dua ayat di atas. Jadi sebelum mereka beriman dengan iman Islam, maka keharamannya tetap berlaku. Hal ini sesuai dengan QS. Al-Mumtahanah (60): 10 yang menjelaskan bahwa wanita-wanita muslimah tidak diperkenankan dinikahkan dengan laki-laki ahli Kitab. “ Mereka wanita-wanita muslimah tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.

Lalu alasan utama larangan menikah dengan non-muslim sebagaimana dijelaskan dalam ayat di atas adalah perbedaan iman. Tujuan perkawinan dalam Islam adalah agar mendapatkan kehidupan yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Perkawinan yang mendapatkan ketiga hal tersebut adalah perkawinan yang se iman. Dua iman berbeda yang disatukan dalam satu keluarga, tentu saja memiliki rintangan yang sangat berat. Iman yang kepada Tuhan Yang Esa harus terus dipupuk sampai ke anak cucunya. Jika terdapatp dua keyakinan dalam keluarga, maka yang dikalahkan adalah keyakinan yang lemah diantara keduanya. Jika keyakinan pihak muslim dikalahkan, maka bisa-bisa dia akan diseret masuk mengikuti keyakinanya dan melepas keyakinan Islamnya. Inilah yang dikhawatirkan jika perkawinan itu tetap dilangsungkan.

Disamping itu, ulama juga menjadikan faktor anak yang menjadikan larangan nikah dengan non-muslim. Anak membutuhkan waktu bimbingan yang sangat lama hingga ia berumur remaja. Orangtuanyalah yang membimbingnya sampai umur dewasa. Jika orang tua yang membimbingnya tidak memiliki nilai-nilai ketuhanan yang Esa, maka dapat dipastikan imannya memiliki kekeruhan akibat pendidikan orang tuanya di masa kecil.

Setelah menjelaskan larangan tersebut, Allah Swt. melanjutkan alasan mengapa pernikahan itu dilarang. Secara terang benderang Allah Swt. menegaskan bahwa dilarangnya pernikahan itu karena mereka mereka orang-orang kafir itu mengajak kamu, anak-anakmu, yang lahir dari buah perkawinan ke neraka dengan ucapan, perbuatan dan keteladanan mereka, sedang Allah mengajak kamu dan siapapun menuju amalan-amalan yang dapat mengantar ke surga atas izinnya.

Wallahu a’lam

Bima, 04 Nopember 2014



Leave a Reply