Memorable Journey (1)

Memorable Journey (1)

Category : Kronik


Syukri Abubakar. Sebelum Asesor kami antar ke Bandara Sultan Muhammad Salahudin Bima, Pada pagi hari Sabtu 6 Desember 2014, Saya dan Pakde Sirajudin mendampingi salah seorang Asesor yang bernama Dr. Sembodo Ardi Widodo, MA. untuk melihat-lihat suasana Kota Bima. Sehari sebelumnya beliau bercerita kalau ia hoby mengambil gambar ketika berkunjung ke lokasi visitasi Akreditasi.

Lima bulan terakhir ini saja, beliau sudah mengunjungi 11 perguruan tinggi untuk divisitasi dan Prodi PAI STIT Sunan Giri Bima ini adalah kunjungan terakhir untuk visitasi akreditasi periode ini. Kita bisa bayangkan sudah berapa puluh foto yang beliau koleksi yang beliau simpan dalam laptopnya. Sayangnya, foto-foto koleksinya itu sudah tidak bisa dibuka lagi karena laptopnya terkena virus. Beliau bercerita kalau nilai sejarah dan pemandangan dalam foto-fotonya itu sangat tinggi dan indah. Beliau merasa menyesal tidak menyimpannya di tempat lain.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah ASI MBOJO. Di sini, beliau mengambil gambar di depan ASI, lalu di depan pintu masuk bagian Barat, kemudian masuk ke dalam, beliau berpose depan ASI dan Meriam. Foto di depan meriam ini, Prof Hasan Asari seakan-akan menyulut meriam, sementara Dr. Sembodo berdiri di depan Meriam sambil angkat tangan. Entah apa maksud beliau angkat tangan, kemungkinan gaya menyerah karena akan di dor, heheheh.
Sebenarnya kami ingin memperkenalkan kepada mereka berdua, peninggalan kerajaan Bima dalam museum ASI MBOJO, tapi pada saat itu, ruangan sedang di pel oleh petugas dan masih basah, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi berikutnya yaitu Pelabuhan Bima. Sesampainya disana, terlihat aktivitas buruh yang sedang bongkar muat isi kapal. Walaupun keadaan jalan lagi becek, beliau tetap turun untuk mengambil gambar dan melihat-lihat aktivitas anak kapal. Terlihat disana ada kapal yang sedang bongkar SEMEN. Kami mendekat ke kapal, ternyata penuh dengan semen. Menurut informasi, kenapa semen beberapa hari yang lalu sempat kosong dan kalaupun ada harganya selangit, ternyata kapal pengangkutnya semennya baru bersandar. Jika demikian adanya, maka harga akan stabil kembali. Dr. Sembodo mengatakan bahwa harga semen di Yogyakarta berkisar Rp. 73.000,an. Ini artinya harga semen di Jawa dan di Bima beda-beda tipis.
Beliau bertanya, apakah pelabuhan ini sudah lama ada?. Saya jawab bahwa menurut sejarah Bima yang telah tertulis dalam beberapa buku, bahwa pelabuhan ini ada sejak jaman kerajaan sebelum Belanda datang menjajah.  Sebagaimana catatan Rafles ketika singgah di pelabuhan Bima, ia bercerita bagaimana suasana pelabuhan Bima pada saat itu, digambarkan bahwa pelabuhan Bima adalah tempat singgah kapal-kapal yang hendak berlayar ke arah barat, ke arah utara dan timur. Selama masa singgah itu, mereka menukarkan barang-barang dagangan dengan hasil alam Bima seperti rempah-rempah, kayu gaharu, dll.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju pantai KOLO. Selama dalam perjalanan menuju KOLO, sering keluar dari mulut beliau suara pujian terhadap keindahan pemandangan pantai ULE dan pinggiran pantai yang memanjang sampai KOLO. Menurut beliau, jika saja lokasi seperti ini ada di Jawa, sudah berapa lokasi pantai yang dijadikan lokasi wisata dan dikunjungi oleh banyak orang.   
Ketika beliau melihat pemandangan yang indah, saya sengaja memelankan laju kendaraan atau berhenti sebentar memberi kesempatan kepadanya untuk take picture alias mengambil gambar sebagai memory ketika beliau pulang.
Sepanjang jalan menuju KOLO, beliau banyak melihat lahan yang kosong. Lalu beliau bertanya kepada saya, berapa jumlah penduduk Bima? saya jawab sekenanya karena tidak tau pasti, kira-kira ratusan ribu jiwa, ya tidak sampai sejuta jiwa. Beliau menimpali dengan berkelakar, karena lahannya masih banyak yang kosong, maka bisa satu keluarga memiliki anak sampai sepuluh orang, tuturnya sambil tertawa.
Sesampainya di pantai KOLO, beliau merasa kagum dengan keindahan pantai KOLO, beliau memandang ke arah Barat sambil mengambil gambar sejauh mata memandang. Kemudian kami foto bersama-sama sambil mengobrolkan mengenai pantai KOLO ini. Saya katakan, kalau hari minggu, banyak masyarakat yang datang ke sini untuk sekedar berlibur bersama keluarga sambil mandi dan bakar-bakar ayam.  
Kota Bima, 6 Desember 2014

Leave a Reply