Menomor-Satukan Kejujuran

Menomor-Satukan Kejujuran

Category : Artikel

Imam Suprayogo Tiga. Persoalan brikut ini sebenarnya sangat sederhana, ialah terkait dengan menjatuhkan  pilihan yang sebenarnya tidak rumit. Alternatif pilihan itu sebenarnya juga tidak banyak, hanya ada dua, yaitu apakah harus jujur tetapi membawa resiko akan mengorbankan lembaga yang dicintainya, ataukah boleh tidak jujur demi membela lembaga dimaksud. Sekedar memilih di antara dua pilihan itu, ternyata seseorang  merasa kesulitan dan  hingga  bertanya kepada saya.
Menjawab orang yang kebingunangan itu, saya menjelaskan bahwa Islam mengajarkan tentang kejujuran. Kejujuran dan keadilan dengan resiko apapun harus ditegakkan. Sebagai seorang muslim tidak boleh berbohong.  Memberikan kesaksian palsu, dan atau memberikan keterangan yang tidak benar tidak dibolehkan dalam Islam.

Agar lebih jelasnya, saya mengingatkan  sebuah kisah di zaman rasulullah. Pada suatu saat, datanglah  seseorang,  menanyakan kepada Nabi  tentang  kegiatan sederhana yang diperintahkan oleh Islam, tetapi jika  dijalankan akan menjadi selamat. Pertanyaan sederhana itu dijawab oleh rasulullah dengan jawaban yang sederhana pula, ialah “jangan berbohongâ€�. 

Mendengar jawab dimaksud, semula  dianggap terlalu sederhana dan mudah dilakukan. Akan  tetapi dalam pelaksanaannya ternyata  tidak mudah. Sekedar berbuat jujur saja, setelah dirasakan menjadi sesuatu yang tidak mudah dan ternyata tidak sembarang orang mampu melaksanakannya.

Selanjutnya, saya  menegaskan bahwa berbohong atau berbuat tidak jujur itu sangat membahayakan, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Di zaman modern seperti sekarang ini, betapa sulitnya mencari orang yang benar-benar mampu berbuat jujur. Padahal sumber malapetaka dalam hal apa saja,  adalah terletak pada ketidak jujuran itu. Perusahaan yang semula berkembang dan maju, ternyata menjadi  bangkrut atau bahkan mati oleh karena di dalamnya terdapat orang-orang yang tidak jujur.

Contoh lainnya, seseorang yang semula dihormati, disanjung-sanjung, didengarkan ucapannya, diikuti perintah dan petunjuknya, dijadikan sebagai orang yang dituakan, namun setelah diketahui bahwa yang bersangkutan  adalah pembohong, korup, atau tidak jujur, maka akhirnya segera ditinggalkan oleh para pengagumnya.  Begitu pula, banyak pemimpin atau pejabat yang kemudian dijauhi dan bahkan dihujat oleh karena kebohongannya.

Berbohong adalah perbuatan yang sangat membahayakan terhadap  keselamatan berbagai pihak, baik individu, lembaga atau institusi, organisasi, dan bahkan negara atau pemerintahan. Oleh karena itu, kepada orang yang  bertanya kepada saya tentang apakah harus jujur dengan resiko mengorbankan lembaga yang dicintai ataukan berbohong untuk menyelamatkan semuanya, maka dengan tegas saya jawab, bahwa manakala masih beriman dan meyakini kebenaran ajaran Islam, maka harus berani mengatakan apa saja yang sesungguhnya terjadi atau mengatakan sejujur-jujurnya.

Jawaban tersebut  masih saya pertegas lagi  bahwa, umpama dengan  sikap jujur  itu membawa resiko  berupa dirinya, anaknya, isterinya, dan bahkan orang tuanya sendiri masuk penjara, maka kejujuran dan keadilan itu harus tetap ditunaikan.  Kita harus berani  menjadi tidak populer dan bahkan menderita, tatkala harus mengatakan bahwa  yang benar itu adalah benar dan yang salah  sebenarnya adalah memang salah.

Hal yang sudah sedemikian jelas tersebut masih saya tambahkan lagi bahwa sebuah kaum, kelompok, suku, atau bangsa,  tidak akan musnah hanya karena terbelit persoalan politik, ekonomi, sosial, dan sejenisnya. Tetapi bangsa itu akan  hancur  oleh karena banyak orang atau pemimpinnya yang tidak jujur. Kaum Ats dan Tsamut menjadi hancur dan bahkan musnah oleh karena kebohongan-kebohongan yang dilakukannya. Oleh karena itu,  apapun resikonya, kejujuran harus ditegakkan. Kejujuran harus dinomor-satukan. Wallahu a’lam.


Leave a Reply