Kawin Paksa

Kawin Paksa

Category : Artikel , Kuliah Fiqh III

 

Syukri Abubakar. Kemarin saya disapa via inbox oleh seorang kawan alumni STIT yang menceritakan seorang kawannya  yang lagi galau sebut saja namanya si A. Masalahnya, si A ini sudah memiliki perjaka pilihannya sendiri yang akan menikahinya nanti setelah selesai study. Sementara ini, jarak tempat tinggal si A dengan perjaka pilihannya itu begitu jauh karena dipisah oleh daratan dan lautan. Sementara ayahnya tidak menyetujui pilihan si A tersebut dengan berbagai macam alasan dan memaksa si A untuk menikah dengan perjaka pilihan bapaknya.

Jika tidak, si A dianggap anak yang durhaka kepada orang tua bahkan bapaknya menyerahkan nyawanya ditangan putrinya tersebut dengan mengatakan jika kamu tidak mengikuti permintaanku, kuburkan saja bapakmu ini, begitu ancaman bapaknya sebagaimana dituturkan oleh kawan alumni STIT ini.

Pertanyaannya, bagaimana pandangan hukum Islam dalam menjawab persoalan yang dihadapi oleh si A ini? Dan bagaimana seharusnya si A menyikapi persolan tersebut?.
Untuk mengurai persoalan si A ini, saya coba menjelaskannya begini; berbicara mengenai persoalan kawin paksa ini, kita kembali kepada persyaratan calon mempelai sebagaimana tercantum dalam pasal 6 ayat 1 UU No. 1 tahun 1974. Disana disebutkan bahwa syarat calon mempelai laki-laki dan perempuan salah satunya adalah tidak dipaksa atau adanya persetujuan kedua calon mempelai. Jika si calon ini dipaksa untuk menikah, sementara ia tidak mau menikah dengan alasan yang dapat diterima oleh akal sehat, maka pernikahan tersebut bisa dibatalkan.
Bagaimana bisa lelaki yang tidak dicintai dan tidak disukai menjadi pendamping hidupnya. Alangkah merananya dia selama menjalani kehidupan suami isteri yang tidak dilandasi suka sama suka. Oleh sebab itu, undang-undang memberikan rambu-rambu bahwa pernikahan itu harus dilandasi rasa cinta, dilandasi kerelaan antar kedua belah pihak yang mau menikah sehingga rumah tangga yang dibina nanti akan melahirkan kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.
Terkait dengan perjodohan yang terjadi pada masa Rasulullah Saw., dimana Aisyah dinikahkan oleh Abinya pada saat umur kanak-kanak dan berkumpul dengan Nabi Muhammad Saw. setelah masa baligh. Tentu saja hal ini dilakukan oleh Abubakar  atas persetujuan putrinya dengan berbagai macam pertimbangan dan budaya perjodohan yang berlaku saat itu.
Sebagaimana hadist Nabi Muhammad Saw. menjelaskan bahwa terdapat seorang sahabat yang meminta untuk dinikahkan dengan seorang muslimah. Selang beberapa waktu, Rasulullah Saw. pun menemukan muslimah yang mau dinikahi oleh sahabat tersebut. Lalu mereka dinikahkan dengan mahar mahar menghapal beberapa ayat al-Qur’an.
Jadi kesimpulannya, perjodohan yang dilakukan oleh orang tua itu sah-sah saja dilakukan asal anak perempuannyaa atau anak laki-lakinya menyetujui perjodohan tersebut. Begitulah yang diajarkan oleh Islam yang sebenarnya.
Wallahu a’lam
Kota Bima, 20 Januari 2015

Leave a Reply