Hukuman Mati dalam Pandangan Islam

Hukuman Mati dalam Pandangan Islam

Category : Artikel

Hukuman mati jilid satu yang telah dilaksanakan oleh kejaksaan Agung RI terhadap enam terpidana mati narkoba, banyak mendapat penolakan dari dalam dan luar negeri. Bahkan pasca eksekusi, dua negara yang warganya ikut dieksekusi, yakni Belanda dan Brasil, menarik pulang masing-masing duta besarnya yang berada di Indonesia.

Begitu juga Australia menggunakan cara-cara yang lunak sampai cara-cara yang keras untuk meminta pengampunan pada presiden Jokowi agar eksekusi mati terhadap dua orang warganya dibatalkan. Bahkan Sekjen PPB Ban Ki Moon turut berkomentar agar pemerintah Indonesia menghapus aturan hukuman mati. Menanggapi sikap Australia dan PBB tersebut, pemerintah tidak bergeming, pemerintah berketetapan hati bahwa eksekusi mati tersebut akan segera dilakukan, menunggu waktu yang tepat.

Berdasarkan komentar pengamat dan masyarakat dari berbagai media sosial, bahwa pihak yang menentang adanya hukuman mati ini berpendapat, hukuman mati itu sadis, tidak manusiawi dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka menambahkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup yang tidak boleh dikurangi dalam keadaan apapun. Tak satu pun orang di dunia ini yang memiliki hak untuk menjatuhkan hukuman mati, hanya Tuhan yang berwenang mengambil hidup seseorang.
Sementara yang mendukung pelaksanaan eksekusi mati ini tidak kalah banyaknya bahkan mayoritas penduduk Indonesia mengamini pelaksanaan hukuman mati yang dilakukan oleh pemerintah tersebut. Alasannya bahwa Indonesia dalam kondisi darurat narkoba. Bayangkan, menurut BNN setiap hari hampir 40 orang meninggal dunia akibat pengaruh narkoba. (Harian Umum Pelita, Selasa, 20 Januari 2015).
Bagaimana sebenarnya Islam memandang hukuman mati ini. Tulisan yang pernah dimuat dalam www.hidayatullah.com menjelaskan mengenai hukuman mati tersebut Detailnya sebagai berikut; dalam hukum Islam, sanksi pidana yang dapat menyebabkan pelakunya dihukum mati terjadi pada tiga kasus.
لَا يَح�ل�ّ دَم� امْر�ئ� م�سْل�م� إ�لاَّ ب�إ�حْدَى ثَلَاث� : قَتْل� نَ�ْس� ب�غَيْر� نَ�ْس� وَ وَزْنٌ بَعْدَ إ�حْصَان� وَ ك��ْرٌ بَعْدَ إ�يْمَان�
“Tidak halal darah seseorang muslim kecuali sebab tiga hal: karena membunuh jiwa, seorang janda/duda berzina dan orang yang meninggalkan agamanya.� (HR. Bukhari dan Muslim)
Hukuman bagi pelanggar aturan dalam hukum Islam bersifat tegas dan adil untuk semua pihak. Hal itu menjadi wajar karena hukum Islam bersumber kepada Al-Qur’an yang menegaskan dirinya sebagai wahyu Allah yang tidak pernah salah sesuai dengan QS. Al-Baqarah: 147;
اَلْحَقÙ�Ù‘ Ù…Ù�Ù† رَّبÙ�ّكَ Ù�َلاَ تَكÙ�وْنَنَّ Ù…Ù�Ù†ÙŽ الْمÙ�مْتَرÙ�يْن 
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu�. [QS Al-Baqarah [2]: ayat 147]
Selain itu Al-Qur’an memposisikan dirinya sebagai hakim yaitu pemutus perkara atas semua permasalahan yang ada di mukabumi ini dan menyelesaikan setiap perselisihan diantara manusia, sebagaimana dalam Qur’an Surat Yaasiin (36): 2:
وَالْق�رْآن� الْحَك�يم�
“Demi Al-Qur’an sebagai Hakim�.
Vonis yang dikeluarkan oleh mahkamah Islam melalui hakim didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur’an, hadist, dan hukum Islam yang sesuai dengan kedua sumber hukum yang utama tersebut. Maka vonis itu pada hakekatnya dari kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, yang prosesnya melalui hakim dengan seizin Allah, sebagaimana dalam Qur’an Surat An-Nisa; 64.
وَمَا أَرْسَلْنَا م�نْ رَس�ول� إ�لا ل�ي�طَاعَ ب�إ�ذْن� اللَّه� وَلَوْ أَنَّه�مْ إ�ذْ ظَلَم�وا أَنْ��سَه�مْ جَاء�وكَ �َاسْتَغْ�َر�وا اللَّهَ وَاسْتَغْ�َرَ لَه�م� الرَّس�ول� لَوَجَد�وا اللَّهَ تَوَّابًا رَح�يمًا
“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka, ketika menganiaya dirinya [313] datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.�. [QS: An Nisa’ [4: 64]
Ketika Nabi Muhamad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam masih hidup, jabatan eksekutif, legislatif dan yudikatif masih dipegang oleh beliau, maka jika ada umat Islam yang melanggaran aturan Allah, mereka datang kepada beliau selaku pemegang kekuasaan yudikatif, sebagaimana ayat di atas.
Setelah mereka berada dihadapan beliau, maka proses peradilan pun berjalan untuk menentukan hukuman sesuai Al-Qur’an dan putusan itu menjadi yurispundensi bagi hukum Islam. Setelah zaman Muhamad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, maka diangkatlah hakim untuk memutuskan perkara umat yang dilaksankan di Mahkamah Islam dan putusannya harus diterima sebagai putusan yang datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana dalam Qur’an Surat An-Nisa: 65:
�َلا وَرَب�ّكَ لا ي�ؤْم�ن�ونَ حَتَّى ي�حَك�ّم�وكَ ��يمَا شَجَرَ بَيْنَه�مْ ث�مَّ لا يَج�د�وا ��ي أَنْ��س�ه�مْ حَرَجًا م�مَّا قَضَيْتَ وَي�سَل�ّم�وا تَسْل�يمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya�. [QS; An Nisa’ [4]: 65].
Orang yang menerima dan melaksanakan putusan hakim berupa hukuman badan atau putusan lainnya seperti denda bahkan hukuman mati maka dimata Allah adalah mulia karena si terhukum sebagai pelaksana hukum Islam yang bersumber pada Al-Qur’an.
Jadi tidak ada kehinaan dan kerendahan martabat atas si terhukum walaupun perbuatannya sangat memalukan dan atau kejam sekalipun. Oleh karena itu manusia pun dilarang menghina atau merendahkan si terhukum.
Salah satu dasar penyelesaian perselisihan diantara manusia dalam Islam adalah qishos yaitu hukuman yang setimpal dari perbutan manusia atas manusia yang lain. Sebagai contoh jika seseorang memukul maka hukumannya dipukul, bila seseorang merusak mata orang lain maka hukumannya mata si pelaku tersebut dirusak, bila seseorang membunuh maka dihukum bunuh, demikian seterusnya. Sepintas memang kejam namun dibalik itu ada palajaran berharga bagi manusia, yaitu mendidik manusia supaya perbuatannya tidak semena-mena atas manusia yang lain.
Manusia akan berpikir berulang kali untuk berbuat kejahatan atas manusia lain, karena hukuman yang didapat sesuai dengan perbuatannya. Kalau tidak mau dipukul, jangan memukul, kalau tidak mau matanya dirusak maka jangan merusak mata orang lain, kalau tidak mau di hukum bunuh maka jangan coba-coba membunuh. Jadi untuk hukum qishos ini bersifat preventif, pencegahan, sehingga kejahatan bisa dicegah sebelum terjadi,mengingat hukumannya setimpal.
Dalam Islam, sebelum putusan hakim dieksekusi maka korban atau keluarga korban mempunyai hak untuk mencabut atau membatalkan putusan hakim, karena korban atau keluarga korban memaafkan tindakan si terhukum dan biasanya si terhukum diganjar dengan denda atau pembatalan. Itulah yang menjadi penebus dosa bagi si korban, sebagaimana dijelaskan dalam Qur’an Surat 5 (Al-Maidah): 45:
“Dan Kami (Allah) telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak qisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.� [QS: Al Maidah [5]: 45]
Pada dasarnya, agama Islam tidak menetapkan hukuman mati kecuali pada kejahatan besar yang apabila dibiarkan maka akan mengakibatkan kerusakan dan menghilangkan rasa aman dan kedamaian dalam masyarakat. Beberapa kejahatan itu seperti pembunuhan terencana, penyerangan, perampokan atau merampas barang orang lain secara paksa di bawah ancaman senjata.
Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menolak adanya hukuman mati karena hanya Allah yang telah memberikan kehidupan dan Dia pula yang berhak menetapkan kapan hidupnya berakhir. Allah jugalah yang berhak menetapkan jenis kejahatan apa saja yang menuntut hal tersebut.
Wallahu a’lam bissowab.
Kota Bima, 19 Februari 2015

Leave a Reply