Promosi Jalur Barat (2); Soromandi dan Donggo

Promosi Jalur Barat (2); Soromandi dan Donggo

Category : Kronik

Terakhir, kami balik haluan menuju SMAN 1 Soromandi, MA Mutmainnah Punti , Ponpes al-Ikhlas Doridungga dan SMAN 1 Donggo. Di SMAN 1 Soromandi kami hanya membagi brosur, kebetulan ada mahasiswa PPL dan ada alumni STIT yang mengabdi disitu, kami minta bantuan untuk menyebarkan brosur ke siswa-siswi khususnya yang kelas III. Harapannya semoga brosur ini dapat memberikan informasi yang cukup bagi mereka dalam menetukan sikap melanjutkan study ke depan.

Di MA Mutmainnah Punti, kami diterima oleh dua orang guru dan mereka berjanji akan menyampaikan informasi ini ke semua siswa kelas III. Setelah dari sini kami mendaki puncak Doridungga. Di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan alumni yang sudah banyak jasanya membesarkan kampus yaitu bapak Nasarudin. Kami juga meminta bantuan beliau agar tidak lupa mempromosikan kampus. Beliau menjawab dengan mengupayakan empat sampai lima orang akan didaftarkan ke STIT. Beliau juga menyarankan kami agar bertemu dengan pendiri ponpes al-Ikhlas Doridungga bapak Syamsudin dan membagi brosur di SMAN 1 Donggo.

Bang Yasser pun melaju si merah maron perlahan-lahan karena jalan yang sedikit rusak. Mendekati doridungga, jalan sudah diaspal hotmik sehingga kecepatan bisa ditambah sedikit sampai depan ponpes al-Ikhlas. Depan ponpes al-Ikhlas tersebut, om Yasser memarkir si merah maron. Saat itu, pengasuh pondok yang sudah saya kenal sebelumnya, pak Syamsudin hendak pulang. Melihat kedatangan kami, beliau kembali menaiki tangga kantornya sambil mengajak kami memasuki ruangan kerjanya. Kepada beliau, kami sampaikan permohonan maaf karena sudah mengganggu waktu beliau. Lalu saya utarakan maksud dan tujuan kedatangan kami yaitu ingin menginformasikan keberadaan kampus STIT saat ini dengan tiga prodinya. Kami mohon bantuan kepada beliau selaku pengasuh pondok dan selaku kepala sekolah agar kampus STIT ini dipromosikan kepada siswa-siswanya siapa tau ada yang berminat. Begitu juga kami minta agar diinformasikan kepada masyarakat sekitar tentang keberadaan ke tiga prodi di kampus STIT. Untuk SMAN 1 Donggo, kami tidak sempat masuk sekolah karena jam sekolah sudah bubar. Kebetulan ada alumni yang kami kenal disitu bernama Mutlak. Ia mengaku mengajar di SMAN 1 Donggo. Kami titipkan brosur kepadanya agar disampaikan pada siswa-siswinya terutama yang kelas III.
Selesai sudah tugas promo kami hari ini, kami pun menikmati pemandangan donggo yang begitu indah. Apalagi saat itu, kabut tebal sedang menyelimuti gunung gemunung donggo di atas puncak sana. Rumah-rumah penduduk berjejer dengan rapinya laksana jari jemari yang disimpan diatas meja. Lembah-lembah terhampar sejauh mata memandang yang ditanami dengan berbagai macam tanaman ada padi, jagung, kedelai dan pohon-pohon jambu mete tertata dengan apik. Terlihat di bawah sana lautan Bima yang membentang dari ujung selatan Bandara Sultan Muhammad Salahudin sampai ujung utara teluk Bima kampung Kolo, pulau kambing dan kota Bima secara keseluruhan terlihat begitu dekatnya. Duh, ternyata indah ya Donggo!.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.15 tanda waktu duhur sudah tiba. Kami pun segera meraih pahala sholat dhuhur berjama’ah di masjid desa Rada Kec. Bolo. Sehabis sholat, kami berencana menikmati bandeng bakar depan Bandara Sultan Muhammad Salahudin, namun karena perut kami tidak lagi bersahabat untuk melanjutkan perjalanan, maka kami bertiga sepakat untuk menikmati bakso goyang lidah Sila. Sehabis nikmatin bakso, kami langsung joss menuju Bima. Di tengah perjalanan, kami ingat ada satu madrasah yang kami lewati, yaitu MA al-Maliki Penapali yang dipimpin oleh bapak Fitrah Malik salah seorang Qori’ terkenal yang dimiliki Bima.
Beliau bercerita banyak tentang proses pendirian Pondok al-Maliki, angin kencang dan hujan deras yang mengusik ketenangan santri sehingga mereka banyak yang pulang kampung dan sedikit bangunan rusak. Beliau juga bercerita mengenai muridnya, seorang qori’ yang lolos sampai tingkat nasional yang tidak dihiraukan oleh pemerintah sementara seorang penyanyi dangdut begitu dielu elukan sampai-sampai balihonya dipasang dimana-mana. Alangkah pincangnya perhatian pemerintah antara qori’ dengan penyanyi dangdut, begitu kritiknya. Pada akhir pertemuan, kami perkenalkan diri satu persatu, dan beliau kaget mengetahui kalau kami-kami ini adalah anak-anak dari orang-orang yang beliau kenal dekat.
Demikianlah tugas dan kewajiban yang kami jalankan hari ini semoga berbuah manis. Aminnnn ya Allah ya rabbal alamin.
Wallahu a’lam.
Kota Bima, 22 Februari 2015

Leave a Reply