TV one; Se jam lebih dekat Hamdan Zoelva

TV one; Se jam lebih dekat Hamdan Zoelva

Category : Artikel


Syukri Abubakar. Tiap hari saya sangat suka nonton tv one karena beritanya selalu up to date dan pembahasannya tuntas. Malam ini tv one menampilkan acara yang spesial dan membanggakan bagi ku, yaitu acara satu jam lebih dekat Hamdan Zoelva. Special karena tamu yang diundang sangat aku kenal, tersohor dan menurut ibu-ibu sangat ganteng dan unyu unyu.

Sebelum lebih jauh berbincang, pembawa acara memperkenalkan sosok hakim ganteng ini secara singkat, Sekolah Dasar Negeri No. 4 Salama NaE Bima (1974), Madrasah Tsanawiyah Negeri Padolo Bima (1977), Madrasah Aliyah Negeri Saleko Bima (1981),  S1 Sarjana Ilmu Hukum Internasional, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Sarjana Muda, Fakultas Syari’ah IAIN Makassar (tidak selesai 1981-1984), S2 Magister Ilmu Hukum Bisnis, Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan Jakarta (tidak selesai 1998-2001), S2 Magister Ilmu Hukum Pidana, Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Bandung, S3 Doktor Ilmu Hukum Tata Negara, Universitas Padjajaran Bandung, Pendidikan Pasar Modal, Badan Diklat Departemen Keuangan RI (1994).

Selanjutnya Hamdan bercerita bagaimana awal mula membina karier di Jakarta. Sebenarnya, Ia tidak berniat melamar pekerjaan sebagai pengacara. Ia lebih suka menjadi dosen. Namun takdir berkata lain, ketika sampai di Jakarta malah melamar pekerjaan sebagai pengacara di kantor pengacara terkenal OC Kaligis. Pada saat mendatangi kantor itu, ia tidak membawa ijazah. Namun ia menyampaikan maksud mau melamar pekerjaan disitu. Pada saai itu juga, ia langsung diterima untuk bekerja di kantor itu. Entah pertimbangan apa yang dipakai sehingga ia langsung diterima.
Setahun membina karier di sini, ia menemukan tambatan hati yang bernama Nina Damayanti. Ini bermula ketika Nina melamar pekerjaan di kantor itu. Nina ini datang melamar atas saran Irsan Ginting yang lebih dulu kerja disitu. Nina menjelaskan bahwa Irsan Ginting adalah teman kuliahnya. Ketika itu, Nina dikerjain oleh Irsan Ginting untuk menemui OC Kaligis di lantai lima. Sampai di lantai tiga, Nina kebingungan mencari arah ke lantai lima. Pada saat itulah, ia melihat Hamdan yang lagi telpon, mau menanyakan keberadaan ruangan pak OC Kaligis. Setelah mengetahui maksud Nina ini, Hamdan pun mengantarnya ke ruang pak OC. Dari pertemuan ini, pak Hamdan rupanya menaruh hati kepada Nina. Begitu pun sebaliknya, Nina menaruh hati ke pak Hamdan karena menurutnya di samping ganteng, pak Hamdan juga baik hati.
Dari perkenalan tersebut, maka dilanjutkanlah  dengan perkenalan yang lebih dalam lagi sehingga sampailah pada keinginan bersama untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan. Disampaikanlah keinginan ini kepada ayah Nina, pak Bob. Sebelum pak Bob menyetujui permintaan tersebut, beliau ingin mengetahui benar siapa sesungguhnya hamdan ini. Kebetulan pada saat itu, yang menjabat kepala kejaksaan Bima, beliau kenal. Maka dimintalah kepala kejaksaan ini untuk meneliti siapa sebenarnya Hamdan ini. Setelah dilakukan penelitian oleh kepala kejaksaan Bima, maka dilaporkanlah kepada pak Bob bahwa Hamdan adalah anak orang baik di Bima. Maka, ketika dilakukan lamaran oleh kakaknya Prof. Thibraya, langsung diterima oleh pak Bob. Namun demikian, Prof Thibraya menyampaikan keinginan ibunya agar nama Nina ditambah Ha menjadi Hanina yang dalam bahasa arab diartikan sebagai “yang selalu merindukanâ€�. Karena menurut pandangan dan keyakinan ibunya, agar bahtera rumah tangga bahagia dan langgeng, maka namanya harus ada kesamaan huruf. Ini hanya sekedar usulan kalau diterima syukur dan kalau ditolak tidak menjadi soal. Begitu Prof. Thibraya menjelaskan.
Mendengar usulan tersebut, pak Bob tidak menerima begitu saja karena menurutnya, nama Nina itu sudah disahkan melalui aqikah dan do’a, tidak bisa begitu saja dirubah-rubah. Maka pada saat ijab Kabul, Nina menunggu-nunggu dengan hati yang berdebar, apakah ayahnya menggunakan nama Nina atau Hanina. Tanpa disangka, ternyata ayahnya menggunakan nama Hanina sebagaimana permintaan ibu Hamdan.
Pada segmen lain Hamdan diminta klarifikasi mengenai pernyataannya di koran terkait masalah pelantikan kapolri dan hukuman mati. Mengenai pelantikan kapolri, Hamdan menyarankan agar tidak dilantik, karena jika kepala kepolisian menjadi tersangka, akan menyandera kewibawaan kepolisian itu sendiri. Jika saja pihak kepolisian menyematkan status tersangka kepada seseorang, maka orang itu akan mengatakan; kenapa saya dinyatakan tersangka sementara kepala kepolian mu tersangka juga. Bagaimana bisa si tersangka menghukum orang lain? Jika ini yang terjadi, apa kata dunia??. Begitu tegasnya.
Mengenai hukuman mati bagi tervonis mati narkoba, hamdan secara tegas menyatakan persetujuannya, karena hampir setiap hari ada 40 orang meninggal dunia akibat mengkonsumsi barang haram tersebut, bahkan hampir 5 juta warna Negara kita yang terkena narkoba. Jika ada orang yang menyatakan bahwa hukuman mati itu melanggar HAM. Malah Hamdan mempertanyakan HAM yang mana yang dilanggar?. Bukankah si tervonis mati itu sudah banyak melanggar HAM orang lain yang sudah terkena virus narkoba itu. Kita jangan hanya melihat HAM dari sisi tereksekusi mati, lihat juga HAM mereka-mereka yang terkena narkoba yang jumlahnya jutaan itu. Belum lagi keluarga mereka yang bersusah payah menanggung malu akibat perbuatan anak, suami, istri atau keluarga dekatnya, kemudian mereka berusaha keras dengan berbagai macam cara bisa sembuh dari jeratan narkoba ini.
Wallahu a’lam
Kota Bima, 31 Januari 2015

Leave a Reply