Studium General: Bung Alan, Tokoh Pendidikan Bima yang penuh Inspiratif

Studium General: Bung Alan, Tokoh Pendidikan Bima yang penuh Inspiratif

Category : Kronik

Selasa, 24 Februari 2015 sekitar pukul 09.00 Wita terlintas keinginan saya untuk mengontak Aba Du Wahid lewat BBM sekedar menanyakan kabar dan kedatangannya ke Bima. Ia katakan saat itu, sedang dalam perjalanan menuju Bima, tepatnya di cabang Banggo. Saya katakan, bahwa Senin kemarin, saya di mataram untuk mengurus LBKD. Kalau tau Abu Du juga pulang ke Bima, maka saya akan ikut bergabung. Ia juga menyesalkan kenapa tidak menghubunginya. Apalagi dalam mobil itu hanya berdua saja dengan sopir. Kami start jam 12 malam. Begitu jelasnya.


Dari situ, saya langsung kontak pak Irwan J. agar segera menyiapkan agenda kegiatan di kampus STIT untuk menyambut kedatangan tamu istimewa ini. Rabu, 25 Februari 2015, Aba Du Wahid didampingi sopirnya menyempatkan diri menyambangi kampus ijo. Dalam pertemuan itu, Aba Du memperkenalkan sopirnya yang tak lain adalah bung Alan Guteres seorang tokoh pendidikan Bima yang telah memberikan inspirasi kepada banyak orang ketika ia diundang pada acara talk show kick Andy Metro TV. Aba Du menjelaskan bahwa kita perlu mendapuk bung Alan yang nota bene sopir BUS Surya Kencana Bima Mataram untuk menjelaskan bagaimana langkah-langkahnya sehingga ia dapat meraih posisi yang prestisius seperti sekarang ini.
Menindaklanjuti hasil pertemuan tersebut, KP3M pak Irwan J. segera berkoordinasi dengan kawan-kawan dalam rangka mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam acara esok hari. Dari komunikasi antar kawan dosen tersebut, tercetuslah bentuk acara STUDIUM GENERAL dengan tema “Mencetak Generasi yang Kreatif, Inovatif, dan berjiwa Enterpreneur dalam Menghadapi Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) kerjasama P3M STIT Sunan Giri Bima dengan AlamTara Institute dan Yayasan Darul Ulum Tololai Ambalawi.
Dalam paparannya, Bung Alan menceritakan latar belakang didirikannya Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudhalul Athfal (RA) Darul Ulum Tololai Ambalawi.
Pertama, Ia melihat kondisi anak muda di kota dan kabupaten Bima saat ini sudah jauh dari nilai-nilai moral agama. Kalau dulu waktu kecil, setelah magrib, selalu didengar anak-anak yang mengaji di rumah-rumah guru ngaji, anak muda selalu taat kepada orang tua dan tidak banyak yang terpengaruh dengan narkoba. Saat ini, dalam pengamatannya, sedikit anak muda yang belajar mengaji, anak muda sudah mulai berani kepada orang tuanya dan anak-anak muda sudah mulai terpengaruh dengan narkoba atau narkoba masuk desa. Melihat kondisi ini, maka terbersit dalam pikirannya untuk mendirikan madrasah. Karena menurutnya, hanya madrasahlah yang dapat memfasilitasi mereka dalam memahami nilai-nilai agama. Kalau nilai-nilai agama sudah ditanamkan sejak dini, maka apapun bentuk serangan yang merusak mental anak muda, dapat diatasi dengan mudah.
Kedua, Ia juga melihat banyak sarjana pendidikan di desanya dan desa-desa yang lain yang menganggur. Untuk menampung mereka ini, yang pas menurutnya adalah mendirikan madrasah. Tentu saja, madrasah yang didirikan ini harus beda dengan madrasah-madrasah lainnya yang pernah ada di Bima ataupun di luar Bima. Konsepnya, sekolah sambil kerja. Sekolah pagi, kerja sore. Artinya tidak hanya ilmu yang diperoleh tapi uang pun didapatkan. Konsep ini bisa diwujudkan karena wilayah Tololai adalah daerah pantai dan pertanian.
Untuk tanah pertaniannya, yayasanlah yang menyediakan dengan tanamannya. Yayasan akan melihat-lihat tanaman apa yang cocok ditanam sehingga dapat hidup dengan subur dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Disini anak-anak hanya dibebani pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. Misalnya, kalau tanamannya Lombok gepeng atau Lombok kriting, maka anak-anak hanya bekerja memetik buah Lombok saja. Setelah terkumpul banyak, Lombok itu dijual sesuai dengan harga pasar. Kadang harganya rendah kadang harganya setinggi langit tergantung keadaan. Nah, dari hasil jualan inilah, upah mereka dibayarkan.
Pada awal pendiriannya, madrasah ini tidak begitu dihiraukan oleh orang. Malah banyak yang menyangsikan kelanjutannya. Hal ini wajar karena melihat sosok bung Alan yang berperawakan sangar dengan rambut panjangnya, seorang sopir bus malam, dan mengaku mantan preman Jakarta. Dalam pandangan masyarakat, sosok seperti ini tidak mampu berbuat apa-apa dalam dunia pendidikan. Professor doktor saja belum mampu berbuat apa-apa dalam dunia pendidikan, apalagi seorang Alan yang lulusan SMA. Begitu kira-kira pikiran orang ketika itu.
Walaupun banyak orang yang bersyakwasangka kepadanya, ia tetap melanjutkan niatnya ini dalam rangka memperbanyak amal dan meraih ridha Ilahi. Siswa-siswi tahun pertama berjumlah tujuh orang. Dalam perjalanannya jumlah siswa-siswi setiap tahun terus bertambah hingga saat ini berjumlah seratusan orang lebih yang terdiri dari murid MI lima puluh orang lebih dan murid RA lima puluh orang lebih. Untuk menggaji guru-gurunya setiap bulan, ia sisihkan gajinya sebagai sebagai supir Bus sebanyak satu juta lima ratus. Seperti itulah yang ia lakukan selama enam tahun terakhir ini. Ia meyakini kalau kita berbuat baik karena Allah swt., pasti Allah swt. akan membalas perbuatan kita itu, setimpal atau lebih dari itu, karena Allah Swt. sudah berjanji mengenai hal ini. Tidak mungkin Allah Swt. mengingkari janjinya. Demikian keyakinan yang ia pegang teguh sehingga selama enam tahun ini, semua hambatan keuangan dapat teratasi dengan baik.
Ditengah-tengah paparan bung Alan, Puket II STIT Sunan Giri Bima Drs. H. M. Saleh Ishaka mengingatkan bahwa STIT Sunan Giri Bima juga ikut andil dalam menemani suka duka perjalanan Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Tololai. Kok bisa?? iya karena ada salah seorang gurunya yang alumni STIT Sunan Giri Bima yaitu Ibu Sutiamin yang ternyata adik kandung bung Alan sendiri. Mendengar info ini, bung Alan sempat kaget juga. Maka untuk memperkuat lagi hubungan ini, Ia mengharapkan agar ada mahasiswa STIT Sunan Giri Bima yang ikut memberi pencerahan kepada siswa-siswinya khusus untuk malam jum’at. Karena pada malam itu, diadakan acara yasinan bersama yang disertai dengan siraman rohani singkat.
Itulah beberapa point yang dapat saya tangkap dari hasil Studium General kemarin. semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam


Kota Bima, 27 Februari 2015


Leave a Reply