BEM STIT; peringati Isra’ Mi’raj

BEM STIT; peringati Isra’ Mi’raj

Category : Kronik

 

Senin, 18 Mei 2015, BEM STIT Sunan Giri Bima mengadakan acara peringatan Isra’ Mi’raj Rasulullah Saw. tahun 1436 H. Acara ini sejatinya hendak dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 Mei 2015, tapi karena dikhawatirkan peserta tidak banyak yang hadir karena kampus ketika itu dalam kondisi libur, maka dimundurkan pada hari senin pagi. 

Pada acara itu, ketua STIT Sunan Giri Bima dalam sambutannya mengapresiasi inisiatif pengurus BEM dalam melaksanakan kegiatan tersebut, karena menurutnya, kegiatan serupa sudah lama sekali tidak digelar oleh civitas akademika STIT Sunan Giri Bima. Padahal beliau selalu menekankan kepada pengurus BEM yang sudah-sudah, agar kegiatan keagamaan seperti ini jika waktunya datang tolong digelar. Tuturnya. Harapannya ke depan, kegiatan-kegiatan keagamaan seperti ini tetap diadakan dengan menampilkan penceramah-penceramah dari kalangan dosen secara bergiliran. Pungkasnya. 
Sementara penceramah kali ini adalah Muh. Mutawalli, MA. salah seorang dosen IAIN Mataram yang diperbantukan di STIT Sunan Giri Bima. Dalam uraian hikmah isra’ mi’rajnya, ia sampaikan bahwa landasan berita tentang isra’ ini dapat kita temukan dalam Qs. al-Isra’ (17): 1 dan penjelasan Mi’râj dapat ditemukan dalam QS Az Zukhruf (43):33 , QS. An.Najm (53): 13-18 dan QS. Al Ma’arij (70):3)serta dapat kita temukan juga informasinya dalam hadist Nabi Muhammad Saw. yang matannya lumayan panjang. Dalam Qs. al-Isra’ (17): 1 dijelaskan bahwa Allahlah yang memperjalankan Nabi Muhammad Saw. itu. Kalau memang Allah Swt. yang menghendaki perjalanan itu, maka hal itu sah-sah saja terjadi, karena Allah Swt. Dzat Yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu di alam ini. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Qs. Yaasiin:  82.
إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن �يكون
Artinya: “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.â€� QS. Yaasiin: 82.
Atau barangkali sampai saat ini, kebenaran informasi tersebut belum bisa terima secara akliyah oleh orang yang tidak beriman karena kurangnya pengetahuan mereka, sebagaimana yang dialami oleh orang Arab Jahiliyah zaman dulu, mereka menganggap bahwa bumi ini datar. Tapi setelah ada orang yang ke bulan dan melihat ke bumi ternyata bumi itu bulat. Begitu juga dengan peristiwa isra’ mi’raj ini, insya Allah pada suatu saat nanti, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, akan ditemukan juga jawabannya secara ilmiah.  Atau sudah ada jawabannya secara ilmiah, tapi kita belum mengetahuinya. Wallahu a’lam.
Lebih lanjut, penceramah menjelaskan bahwa paling tidak ada dua hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi besar Muhammad Saw. ketika itu.
Pertama. Keimanan yang mantap. Sebelum diadakan perjalanan isra’ mi’raj ini, Nabi Muhammad Saw. telah ditesting oleh Allah Swt. dengan berbagai macam cobaan dan rintangan dalam menjalani hari-hari beliau, yaitu dengan wafatnya Abu Thalib, paman beliau, disusul dengan wafatnya Khadijah ra, isteri beliau. Di tengah-tengah situasi yang dihadapi oleh Nabi Muhammad Saw. seperti ini, kaum Quraisy mulai menggencarkan gangguan kepadanya dan kepada para sahabat-sahabatnya, sampai-samapai memaksa beliau pergi ke Thaif dalam rangka meminta bantuan untuk melindungi dakwahnya. Namun apa yang terjadi, justru penduduk Thaif tidak lebih baik dari peduduk Makkah. Mereka menolak mentah-mentah dakwah beliau bahkan melemparnya dengan batu sehingga kedua kakinya berdarah. Lalu beliau mengadu kepada Tuhannya dengan  penuh keimanan dan keyakinan bahwa mereka tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya, mereka masih diliputi kebodohan.
Dengan ketegaran hati dan kekuatan imannya, beliau jalani itu semua dengan penuh tawakkal kepada Allah Swt. Dalam situasi dan kondisi seperti inilah, beliau dimuliakan oleh Allah Swt. dengan mengundang beliau untuk lawatan isra’ mi’ra keharibaan Allah Swt. dalam rangka menghibur beliau dengan memperlihatkan sebagian tanda-tanda kekuasaan-Nya dan menghibur beliau dengan menerima kewajiban sholat lima waktu. Bagi umat Islam, shalat lima waktu merupakan sarana untuk berdialog dengan Allah Swt. dengan mendapatkan ganjaran pahala bagi yang melaksanakannya dan mendapatkan dosa bagi yang meninggalkannya.  

Kedua, Menyucikan seluruh Tubuh. Sebelum diisra’kan dari Makkah ke masjidil Aqsa Palestina dan di mi’rajkan dari masjidil Aqsa di Palestina menuju keharibaan Allah Swt. di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad Saw. didatangi oleh dua orang malaikat utusan Allah Swt., salah satunya adalah malaikat Jibril. Keduanya membelah dada Nabi Muhammad Saw. lalu membersihkan hatinya. Timbul pertanyaan mengapa perlu dibersihkan hatinya? Padahal kita tau bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah nabi yang maksum dari segala macam noda dan dosa, seorang Nabi yang terkenal dengan julukan al-Amin yang dapat dipercaya dan sederet julukan lainnya yang baik-baik. Ternyata setelah diselidiki, yang namanya Mudghah itu sangat rentan. Kadang-kadang ia baik, kadang-kadang ia rusak. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud yang berbunyi:
أَلَا وَإ�نَّ ��ي الْجَسَد� م�ضْغَةً إ�ذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَد� ك�لّ�ه� وَإ�ذَا �َسَدَتْ �َسَدَ الْجَسَد� ك�لّ�ه� أَلَا وَه�يَ الْقَلْب�
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging yang kalau dia baik maka akan baik pula seluruh anggota tubuh, dan kalau dia rusak maka akan rusak pula seluruh anggota tubuh, ketahuilah di adalah hati.â€� (Muttafaqun Alaih)

Maka karena beliau akan menghadap Dzat Yang Maha Suci, malaikat memastikan semua organ tubuh baginda Rasulullah Saw. dalam keadaan yang benar-benar suci. Dari sini dapat kita ambil ibarat bahwa ketika kita menghadap Allah Swt. (hendak melaksanakan shalat, puasa, zakat dan berhaji), maka hati kita harus benar-benar dibersihkan dari berbagai macam kotoran baik kotoran yang menempel di fisik kita maupun kotoran yang menempel dalam hati kita.
 Wallahu a’lam
Kota Bima, 18 Mei 2015

Leave a Reply