Isra’ dan Mi’raj: Hukum melaksanakannya

Isra’ dan Mi’raj: Hukum melaksanakannya

Category : Artikel

Saya mengikuti tulisan-tulisan Prof. Ahmad Thibraya atau biasa disama Reyo oleh kerabat dekatnya hampir setiap hari, karena memang beliau konsisten menulis dan mempostingnya setiap hari via akun facebooknya. Dua tiga hari terakhir ini beliau menguraikan tentang hukum boleh tidaknya memperingati isra’ mi’raj. Penjelasan ini untuk menjawab pertanyaan salah seorang followernya yang meminta penjelasan tentang hukum memperingati isra’ mi’raj tersebut. Mengingat sebagian masyarakat masih ada yang tidak sependapat dengan peringatan tahunan itu.

Memberi jawaban terhadap permasalahan tersebut, beliau berbagi kepada pembaca jalan pikiran atau alasan mengapa peringatan seperti itu masih berlanjut sampai sekarang. Di awal tulisannya, beliau membagi ibadah menjadi dua; ibadah mahdhoh dan ibadah ghairu mahdhoh. Ibadah mahdhoh adalah ibadah yang memiliki syarat dan rukun. Jika syarat dan rukun tersebut tidak dipenuhi, maka ibadah tersebut batal. Seperti ibadah sholat, puasa, zakat dan haji. Sementara ibadah ghairu mahdhoh adalah ibadah yang tidak memiliki rukun dan syarat. Seperti bertani, berdagang, belajar mengajar dll. Adapun dalil-dalil yang berkaitan dengan ibadah mahdhoh sudah tertera dalam al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad Saw. dengan tekhnik pelaksanaannya sekalian. Sementara ibadah ghairu mahdhoh dijelaskan dengan dalil-dalil yang umum dan tekhnik pelaksanaanya diserahkan kepada umat Islam sendiri. Terkait dengan isra’ mi’raj, beliau mengkategorikan kedalam ibadah ghairu mahdhoh.
Peringatan Isra’ mi’raj ini memang tidak pernah diadakan oleh Rasulullah Saw., dan para sahabatnya. Peringatan isra’ mi’raj ini merupakan tradisi khas umat Islam Indonesia. Dalam kacamata Islam, tradisi ini termasuk tradisi yang dianggap bid’ah. Maksudnya hal baru yang belum pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Dalam membahas masalah bid’ah ini, ulama membaginya menjadi dua, yaitu: bid’ah hasanah dan bid’ah syayyi’ah. Tradisi peringatan Isra’ Mi’raj ini dikategorikan bid’ah hasanah dan itu dihukumi boleh. Karena kalau kita lihat dalam peringatan itu tidak ada hal-hal negatif yang dilakukan. Justru yang dilakukan adalah hal-hal yang bersifat positif. Seperti membaca al-Qur’an, berdzikir, ceramah keagamaan, dan hal-hal positif lainnya. Karena melakukan hal-hal yang positif dan tidak melanggar ketentuan al-Qur’an dan As-sunnah, maka kegiatan semacam peringatan isra’ dan mi’raj Nabi besar Muhammad Saw. tersebut tidak dilarang dan masih dilakukan berlanjut hingga saat ini.
Wallahu a’lam
Kota Bima, 20 Mei 2015

Leave a Reply