Tiba-tiba diundang ke Doro O’O (part 2)

Tiba-tiba diundang ke Doro O’O (part 2)

Category : Kronik

Selesai menunaikan sholat isya dan tarawih secara berjama’ah, kami pun duduk istrahat sebentar menunggu dimulainya acara Nuzulul Qur’an. Panitia menyiapkan segala sesuatunya sambil mengundang via mikrofon masjid, ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda pemudi untuk hadir meramaikan acara Nuzulul Qur’an di masjid.

Selang beberapa saat, acara pun dimulai yang diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an dan dilanjutkan dengan uraian hikmah Nuzulul Qur’an. Pada kesempatan ini, saya menguraikan beberapa hal sebagai berikut;

Pertama, penjelasan tentang munculnya peringatan Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan setiap tahunnya. Banyak dipertanyakan mengapa Nuzulul Qur’an diperingati pada tanggal 17 Ramadhan, padahal al-Qur’an itu turun pada malam lailatu qadr, sementara malam lailatul qadr sendiri sebagaimana dijelaskan oleh Baginda Nabi Besar Muhammad Saw. akan muncul pada malam ganjil sepuluh terakhir bulan ramadhan. 

Menjawab simpang siur mengenai masalah tersebut, saya jelaskan sebagaimana yang dipahami oleh para ulama dalam menafsirkan ayat al-Qur’an terkait masalah ini. Ulama sepakat bahwa al-Qur’an itu turun dalam dua tahap. Tahap pertama turun secara sekaligus dan tahap kedua turun secara berangsur-angsur. Turun secara sekaligus dari lauh mahfud ke baitul izzah (langit dunia) dan turun secara berangsur-angsur dari baitul izzah ke Nabi Muhammad Saw. dalam waktu 23 tahun.

Hal ini dipahami dari ayat yang menjelaskan mengenai turunnya al-Qur’an. Misalnya dalam Qs. al-Qadr ayat 1 dan Qs. al-Dukhan ayat 3 menggunakan kata Anzala, dalam Qs. al-Baqarah ayat 185 menggunakan kata Unzila. Sementara dalam Qs. al-Isra’ ayat 106 menggunakan kata Nazzala. Kata Anzala dan Nazzala kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia memiliki arti yang sama, yaitu turun. Tapi dalam arti bahasa arabnya mempunyai arti yang berbeda. Anzala berarti turun secara keseluruhan dan nazzala mempunyai arti turun secara berangsur-angsur. Jadi dalam Qs. al-Alaq ayat 1 dan Qs. al-Dukhan ayat 3 menunjukkan bahwa al-Qur’an itu turun secara sekaligus pada malam lailatul Qadr. Sementara dalam Qs. al-Isra’ ayat 106 memberi pengertian bahwa al-Qur’an itu turun secara berangsur-angsur yang dimulai dengan Qs. al-Alaq pada tanggal 17 Ramadhan sampai ayat yang terakhir selama 23 tahun, 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah.

Kedua, hikmah diturunkannya al-Qur’an secara bertahap adalah (1) untuk memantapkan hati Nabi Muhammad Saw. dalam menyiarkan ajaran Islam, karena begitu banyak rintangan dan cobaan yang dihadapi oleh beliau. Perasaan susah dan sedih akibat banyak cobaan yang beliau hadapi akan sirna seketika pada saat Nabi Muhammad Saw. berjumpa dengan makhluk suci malaikat Jibril As yang membawa wahyu dari Allah Swt. (2) bagi Nabi Muhammad Saw., jika diturunkan secara sekaligus, maka akan terasa berat menanggungnya karena sebagaimana kita ketahui dari beberapa riwayat bahwa ketika Nabi menerima beberapa ayat al-Qur’an saja, Nabi Muhammad Saw. terlihat mengeluarkan keringatan karena begitu beratnya beban yang dipikul oleh Nabi apatah lagi kalau diturunkan sekaligus. (3) untuk memudahkan mempelajari bacaannya dan memahami isi kandungan al-Qur’an. Mengingat pada saat itu, umat Islam banyak yang belum bisa baca dan menulis. (4) Hukum-hukum yang tertera dalam al-Qur’an memang harus ditetapkan secara bertahap. Jika saja hukum-hukum itu ditetapkan secara sekaligus, maka bisa jadi masyarakat Arab ketika itu sangat sulit menerima ajaran Islam.

Wallahu ‘alam
Kota Bima, 7 Juli 2015

Leave a Reply