Kebenaran Menurut Charles Sander Peirce Filsuf Amerika Kontemporer

Kebenaran Menurut Charles Sander Peirce Filsuf Amerika Kontemporer

Category : Artikel


Hampir setiap waktu, kita sering mendengarkan ungkapan tentang kebenaran. Misalnya, kebenaran bisa didapatkan dari mana saja tetapi kebenaran mutlak hanya milik Tuhan. Ugkapan semacam ini dalam dunia akademik, sudah sering kita dengar, bahkan pernyataan itu menjadi senjata bagi akademisi untuk mengembangkan pikirannya tanpa dibatasi oleh slogan “tertutupnya pintu ijtihadâ€�. 

Masalah konsep kebenaran ini sebenarnya sudah dipikirkan oleh filsuf sejak jaman dahulu kala, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Dalam hal ini, Milton K. Muniz dalam bukunya Contemporary Analitic Philosophy membagi periodesasi sejarah perkembangan ilmu (filsafat) menjadi empat periode;  ancientklasik, medieval pertengahan, modern modern dan contemporarykontemporer. Pada periode klasik, kita mengenal sosok filsuf Yunani dan Romawi, seperti Socrates, Plato, dan Aristo. Periode pertengahan, ada  St. Anselm, St. Thomas Aquinas, Duns Scotus, William of Ockham, Maimonides dan Avicenna. Periode modern, kita mengenal sosok Francis Bacon , Thomas Hobbes, rasionalis abad ke-19, Rene Descartes, Spinoza, Leibniz, empirisis Inggris, John Locke, Berkeley, positivis David Hume,  kritisis Immanuel Kant, idealis Hegel, Schopenhauer, Nietzsche, dan pemikir-pemikir lain pada abad ke-19. Selanjutnya, periode kontemporer dimulai menjelang abad ke-19 dan masih berlangsung sampai saat ini. Tentu banyak filsuf yang bermunculan pada periode ini, namun ditulisan ini, kita dapat menyebut beberapa filsuf diantaranya, pragmaticism Amerika, Charles Sander Peirce (1839-1914), dalam kajian filsafat ilmu, William James 1842-1909), di bidang filsafat Agama, dan John Dewey 1859-1952) dalam kajian sosial dan pendidikan.
Titik perbedaan dari keempat periodesasi tersebut, dilihat dari segi metode yang digunakan. Periode klasik, metode filsafat yang digunakan adalah metode silogisme dan rasional. Periode pertengahan menggunakan metode empiris dan eksperimental. Periode modern pembahasannya mengarah kepada topik-topik epistemology  dan periode kontemporer bergeser pada topik-topik logika linguistik atau logika bahasa.
Charles Sander Peirce (1839-1914) sendiri, sebagaimana dijelaskan di muka, merupakan filsuf amerika kontemporer karena dia di samping lahir pada akhir abad ke-19 dan menjelang abad ke 20, juga diantara karya-karya tulisnya kebanyakan menggunakan logika linguistik.
Peirce dikenal sebagai fisikawan, ahli matematika, ahli logika, filsuf yang memiliki pemikiran yang original, dan dikenal luas sebagai pencetus filsafat Pragmatisme, yaitu aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Jadi yang menjadi point penting adalah kegunaan dari sesuatu itu. 
Mengapa Peirce mencetuskan pemikiran filsafat pragmatisme?. Kalau kita telusuri, paling tidak ada dua alasan mengapa ia berani mencetuskan pemikirannya tersebut (1) bahwa pada masanya, filsafat modern sudah menggerogoti pikiran masyarakat intelektual Barat dan Amerika, bahkan apa yang menjadi kebenaran teori filsafat modern seakan-akan itulah kebenaran absolut yang harus diyakini dan tidak ada pilihan lain. Menurutnya, keadaan seperti ini akan memandulkan atau menutup jalan terhadap kemajuan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Oleh karenanya, dia membuat jalan baru dengan mencetuskan filsafat pragmatisme tersebut. (2) Peirce juga melihat kesulitan yang dialami oleh pemikir modern tentang cara pemecahan masalah yang masih mempertentangkan antara subyek (rasionalis) dan obyek (empirisme). Peirce berupaya meninggalkan orientasi pembedaan subjek dan objek tersebut dalam memahami hakikat pengetahuan. Dengan pendekatan pragmatis ini, Peirce ingin menelaah kebenaran dengan pola yang ia kembangkan dengan tahapan berpikir baru yang terdiri dari lima tahap. Pertama, adanya keyakinan belief; kedua, kebiasaan dalam berpikir habit of mind; ketiga, keraguan doubt; keempat, penyelidikan inquiry; kelima, mendapatkan makna meaning.
Cara kerja dari kelima tahap tersebut adalah bahwa sangatlah lumrah jika seseorang itu memiliki keyakinan (belief) dalam dirinya akan suatu hal. Keyakinan itu, sudah dia pegang dan jalani dalam waktu yang lama (habit of mind) dan sudah menjadi tradisi. Dalam perjalanan memegang keyakinan itu, seseorang pasti akan bertanya-tanya apakah keyakinannya itu memang benar-benar sesuai dengan kebenaran yang sesungguhnya ataukah tidak. Bagi orang yang berpikir, pertanyaan seperti ini akan muncul berulang-ulang dalam pikirannya, maka timbullah keraguan (doubt) atas apa yang ia yakini selama ini, karena ragu, maka untuk memantapkan kembali keyakinannya  itu, memerlukan penyelidikan (inquiry) yang mendalam dalam rangka menemukan kebenaran sesungguhnya. Setelah beberapa kali melakukan penyelidikan, maka dia akan menemukan kebenaran yang diragukan tadi sehingga keyakinan awal yang sempat goyah, dengan sendirinya akan bertambah kokoh dengan diperolehnya alasan-alasan baru yang membuktikan bahwa keyakinan yang dipegang selama ini, benar adanya (meaning). Atau sebaliknya, dia menemukan alasan-alasan lain bahwa keyakinan yang ia pegang sejak awal ternyata salah, maka ia beralih ke keyakinan baru yang ia peroleh. Nah, disinilah dia mendapatkan makna meaning terhadap keyakinan yang ia pegang.
Jadi penerimaan kebenaran yang pertama dengan penerimaan kebenaran yang terakhir setelah diadakan penyelidikan tentu saja bobot nilainya berbeda. Jika yang pertama, ia hanya meyakini kebenaran dengan sikap biasa-biasa saja, sehingga dalam menjalani kebenaaran itu hanya sekedarnya saja. Lain halnya dengan kebenaran yang diyakininya berdasarkan hasil pencarian dan penyelidikannya secara mendalam, maka kebenaran itu akan dia pegang erat-erat dan dijalankannya dengan sepenuh hati, karena ia telah menemukan makna kebenaran hakiki terhadap keyakinan yang ia pegang.
Cara berpikir Charles Sanders Peirce ini, tidak jauh beda dengan cara berpikir yang dikemukakan oleh Thomas S Kuhn yang terkenal dengan kebenaran berdasarkan Paradigma. Tahapan berfikir Kuhn dimulai dengan Paradigma I lalu Normal Science kemudian timbul Anomaly, karena paradigm I tidak bisa menyelesaikan anomaly tersebut, maka terjadilah revolusi atau perubahan secara fundamental sehingga memunculkan Paradigma II. Begitu seterusnya. Sebagai contoh, dahulu, secara umum, orang Arab Jahiliyah meyakini bahwa bumi ini datar. Keyakinan ini berjalan ratusan tahun, hingga pada abad ke 20, orang-orang Barat berusaha mendatangi bulan dan melihat ke Bumi, ternyata bumi ini tidak datar seperti yang diyakini orang-orang Arab Jahiliyah ketika itu. Inilah yang dinamakan anomaly, penemuan baru ini tidak bisa dielakkan lagi sehingga keyakinan yang dulu itu, mau tidak mau harus direvolusi atau dirubah dengan keyakinan baru bahwa bumi ini adalah bundar.
Contoh lain, jika dahulu kita sepakat bahwa untuk komunikasi jarak jauh hanya bisa dengan telegram dan surat menyurat. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka kesepakatan itu menjadi bergeser karena komunikasi jarak jauh itu tidak lagi menggunakan telegram dan surat menyurat tapi sudah diganti dengan alat telekomunikasi yang lebih canggih lagi yaitu bisa melalui telepon, handpone, dan yang terbaru adalah internet.
Artinya bahwa kebenaran itu bisa diperoleh dengan berbagai macam teori yang dikembangkan oleh para filsuf. Kebenaran itu menurut mereka bersifat spekulatif  dan tentative karena suatu saat akan dipatahkan oleh kebenaran muncul berikutnya. Inilah bentuk kebenaran yang dihasilkan oleh pemikiran manusia dengan logika ilmiahnya.  
Selanjutnya, muncul pertanyaan; apa manfaatnya kajian filsafat Barat ini bagi pengembangan keilmuan Islam? Dalam hal ini, terkait dengan teori kebenaran yang ditampilkan oleh Charles Sander Peirce.
Dalam kajian keislaman, yang menjadi sumber rujukan adalah Al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad Saw. Didalamnya tercakup ajaran Islam yang bersifat bersifat Qath’i dan terdapat ajaran Islam yang bersifat dhanny, maka penerapan filsafat pragmatisme dalam bingkai ajaran Islam yang bersifat Qathi’i sangatlah sulit dipraktekkan, karena akan membongkar dasar-dasar asasi syari’ah yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. terutama yang terkait dengan masalah aqidah dan ibadah. Lain halnya, jika digunakan pada masalah-masalah yang dhanny (yang tidak dijelaskan secara shorih dalam al-Qur’an dan Hadist Nabi), khususnya yang berkaitan dengan masalah-masalah mu’amalah, maka Nabi Muhammad Saw. sendiri mengatakan “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian�. Masalah mu’amalah ini diserahkan sepenuhnya kepada kaum muslimin. Maka penerapan filsafat pragmatisme Charles Sander Peirce dalam masalah mu’amalah ini dimungkinkan untuk diadaptasi.
Hal yang sama bisa dipraktekkan dalam kajian pendidikan Islam, Hukum Islam, sosiologi Islam dan lain-lain yang terkait dengan materi pengembangan keislaman pada umumnya.
Wallahu a’lam.
Surabaya, 22 Oktober 2015.

Leave a Reply