Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

Category : Artikel


Setiap ada pilkades, pilkada, pilgub, pilpres dan pil pil lainnya yang melibatkan calon perempuan, selalu aja ada pro kontra yang menyertainya. Pencoblosan tinggal menghitung hari, perdebatan mengenai kepemimpinan perempuan mulai samar-samar terdengar. Hal ini terjadi terkait adanya salah satu pasangan calon Bupati Bima yang berjenis kelamin Perempuan, yaitu paslon nomor urut empat, DINDA DAHLAN. 


Perdebatan seperti ini membuka kembali memori saya lima belas tahun yang lalu ketika Megawati mengajukan diri sebagai calon presiden RI berpasangan dengan KH. Hasyim Muzadi. Saat itu, muncul perdebatan hangat di media catak dan elektronik mengenai kebolehan perempuan menjadi pemimpin. Ketika itu terjadi pro dan kontra. Bagi pendukung, tentu saja berpendapat boleh, sementara pendukung calon yang lain mengatakan tidak boleh dengan alasan masing-masing pendukung yang disertai dalil naqli dan dalil aqlinya.

Perbedaan pendapat ini dipicu oleh perbedaan dalam memahami ayat al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad Saw. Ayat dan hadist yang selalu dijadikan rujukan adalah:

1. QS. An-Nisa’: 34
الرّ�جَال� قَوَّام�ونَ عَلَى النّ�سَاء� ب�مَا �َضَّلَ اللَّه� بَعْضَه�مْ عَلَى بَعْض� وَب�مَا أَنْ�َق�وا م�نْ أَمْوَال�ه�م. سورة النساء: 34
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.� SQ. An-Nisaa’: 34

Bagi yang tidak setuju, ayat ini dijadikan dalil dilarangnya perempuan menjadi pemimpin. Karena ayat di atas secara gamblang menjelaskan bahwa kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Dikarenakan kaum laki-laki diberi kelebihan oleh Allah Swt. dan diberi tanggungjawab untuk menafkahi isteri-isteri mereka. Logikanya, dalam rumah tangga aja laki-laki dijadikan pemimpin, apatah lagi di luar rumah tangga, tentunya laki-lakilah yang berhak memimpin.

Bagi yang memperbolehkan, seperti Muhammad Syaltut dan Quraisy Shihab berpandangan bahwa yang dimaksud dengan pemimpin dalam ayat tersebut adalah pemimpin dalam rumah tangga saja bukan pemimpin di luar rumah. Karena menurut Quraish Shihab, terdapat ayat lain yang memberikan jaminan hak politik bagi kaum perempuan, yaitu dalam Qs. At-Taubah: 71 yang berbunyi:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.�
Ayat ini memberi pengertian bahwa seorang perempuan dapat menjadi awliy�`bagi lelaki. Kata awliy�` artinya pemimpin, pelindung dan penolong.

Dalam QS. An-Nahl: 97 juga dinyatakan, yang artinya:
“Barangsiapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.â€� (An Nahl: 97). 

2. Hadist shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Bakrah

عَنْ أَب�ي بَكْرَةَ، قَالَ: لَمَّا بَلَغَ رَس�ولَ اللَّه� صَلَّى الله� عَلَيْه� وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ �َار�سَ قَدْ مَلَّك�وا عَلَيْه�مْ ب�نْتَ ك�سْرَى قَالَ: «لَنْ ي��ْل�حَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَه�م� امْرَأَةً».
“Diriwayatkan dari Abu Bakrah, katanya: Tatkala sampai berita kepada Rasulullah bahwa orang-orang Persia mengangkat raja puteri Kaisar, Beliau bersabda: Tidak akan pernah beruntung keadaan suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya pada seorang perempuan.� (HR. Bukhari, Turmudzi dan An-Nasa’i)

Bagi yang menolak, berpendapat bahwa hadist ini dijadikan dali ketidakbolehan perempuan dalam hal memimpin. Hadist ini menurut mereka berlaku umum, dalam arti menjadi pemimpin apa saja.
Sementara yang pro, berpendapat bahwa hadist ini hanya ditujukan pada masyarakat Persia waktu itu, bukan terhadap semua masyarakat dan semua urusan.

Dalam al-Qur’an juga disebutkan bahwa pada jaman Nabi Sulaiman, di Negeri Saba’ dipimpin oleh seorang Ratu yang adil dan bijaksana, yang bernama Ratu Bilqis, dia mendahulukan musyawarah dan mufakat dalam memimpin kerajaannya sehingga kerajaannya kuat dan rakyatnya makmur sentosa. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam QS. al-An’am: 23-24 dan QS. Saba’: 15.

Disamping itu, Aisyah RA. isteri Rasulullah Saw. setelah Baginda Rasul meninggal dunia, memimpin pasukan melawan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA dalam perang Jamal. Walaupun beliau dalam perang itu dapat dikalahkan oleh Sayyidina Ali RA. dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain yang melibatkan wanita dalam urusan di luar rumah.

3. Hadist yang menyatakan bahwa perempuan itu kurang akal dan agamanaya.
Kurang akal yang maksud karena kesaksian wanita setengah dari kesaksian laki-laki sedangkan kurang agamanya disebut karena adanya masa-masa tertentu harus meninggalkan kewajiban shalat. Kurang akal tersebut menurut Izzat, bukan kekurangan yang bersifat alamiyah yakni karena kurang kecerdasan dengan berbagai tingkatan seperti idiot dan lain-lain, kekurangan yang dimaksud, bukanlah kekurangan fitriyah yang lazim, melainkan berupa sebahagian kewajiban yang berkaitan dengan kompetensi yang bersifat umum dan khusus. Bahkan wanita kadangkala lebih utama dan unggul daripada laki-laki karena sesungguhnya persoalannya menyangkut kepada keahlian yang mengandung unsur-unsur capaian dan kompetensi yang bersifat khusus. 

Demikian alasan-alasan yang diajukan oleh masing-masing pendebat dalam rangka memperkuat argumentasi mereka. Dalam menyikapi masalah ini, terserah mau mengikuti yang pro atau yang kontra dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Karena kedua kubu memiliki dalil dan alasannya masing-masing. 

Menurut Abid al-Jabiri, bahwa orang-orang yang mendasarkan hanya kepada teks semata tanpa menoleh kepada konteks, maka mereka dikategorikan sebagai pengikut epistemologi nalar Bayani, sementara mereka yang mendasarkan pendapatnya dengan melihat konteks, maka mereka digolongkan pengikut nalar burhani.

Wallahu a’lam
Surabaya, 23 Oktober 2015


Leave a Reply