Persoalan hukum kontemporer

Persoalan hukum kontemporer

Category : Artikel


Akhir-akhir ini, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, banyak persoalan hukum muncul dipermukaan secara silih berganti. Ada pernikahan sesama jenis yang telah dilegalkan oleh beberapa Negara, operasi ganti kelamin yang banyak diminati oleh kaum waria, juga berita terbaru tentang perawan-perawan Inggris melahirkan bayi (bayi tabung).
Persoalan-persoalan seperti ini tentu saja membutuhkan jawaban. Dan jawabannya bervariasi tergantung dari sudut mana kita

melihatnya. Bagi orang Barat, yang mengagungkan HAM, maka persoalan-persoalan di atas, diberikan jalan bagi yang menginginkannya sampai-sampai dibuatkan Undang-undang tentang kebolehan masalah-masalah tersebut. Namun, bagi ulama, masalah-masalah tersebut diteliti terlebih dahulu satu-persatu, bagaimana akar permasalahannya sehingga dapat dicarikan jalan keluarnya. 

Pernikahan sesama jenis, yang dilegalkan di luar negeri bahkan menurut berita online, baru-baru ini telah terjadi di pulau Bali, tidak diakui oleh Islam. Ajaran Islam hanya memberikan peluang terhadap pernikahan beda jenis, antara laki-laki dan perempuan yang sudah memenuhi syarat dan rukunnya. Apapun alasannya, pernikahan sejenis, baik antara laki-laki dengan laki-laki ataupun antara perempuan dengan perempuan atau bahkan antara manusia dengan hewan atau dengan makhluk lain, maka pernikahan tersebut dianggap tidak ada. Itu artinya, pernikahan tersebut dilarang oleh Islam. 
Perlakuan menyimpang kaum Homo yang pernah terjadi pada masa Nabi Luth sangat dikutuk keras oleh al-Qur’an. Hal ini menjadi bukti pelarangan aktifitas menyimpang itu, apatah lagi melakukan pernikahan. 
Begitu juga berkaitan dengan operasi ganti kelamin. Para ulama memberikan batasan, jika jenis kelamin yang bersangkutan jelas dan terang laki-laki dan perempuannya, maka hukumnya haram melakukannya. Namun jika ada dua kelamin atau berkelamin ganda, maka dilihat manakah antara keduanya yang lebih dominan. Jika yang lebih dominan kelamin laki-laki, maka kelamin perempuannya dihilangkan dan kelamin laki-lakinya ditetapkan. Begitu sebaliknya, jika kelamin perempuan yang dominan, maka kelamin laki-lakinya dihilangkan dan kelamin perempuan ditetapkan. 
Sementara berkaitan dengan bayi tabung, seperita yang dirilis oleh media online kemarin, bahwa akhir-akhir ini terjadi peningkatan wanita-wanita muda di Inggris yang melahirkan anak dari hasil bayi tabung. 
Dalam hal ini, harus dilihat dulu dari mana sperma berasal. Jika spermanya itu berasal dari suami dengan pernikahan yang sah secara Islam, maka diperbolehkan dengan catatan. Pertama, pasangan suami isteri itu tidak bisa memiliki anak kecuali dengan cara bayi tabung. Kedua, sperma dan ovum memang berasal dari suami isteri yang sah. Jika catatan ini dilanggar, misalnya sperma dan ovum berasal dari orang lain atau pasangan yang belum menikah secara sah, atau dititipkan kepada wanita lain, maka hukumnya tidak boleh alias haram dan dianggap sebagai perbuatan zina.
Wallahu a’lam
Surabaya, 23 Oktober 2015

Leave a Reply