Pro Kontra Penetapan Hari Santri

Pro Kontra Penetapan Hari Santri

Category : Artikel


Hari ini, 22 Oktober 2015, rencananya presiden Jokowi menetapkannya sebagai hari SANTRI Nasional. Wacana ini menimbulkan pro kontra di kalangan elite. Bagi mereka yang kontra, menolak keras rencana presiden Jokowi tersebut. Karena menurut mereka akan menimbulkan disharmoni di kalangan umat, yang selama ini sudah terjalin dengan apik. Penetapan itu juga potensial menimbulkan sekat-sekat sosial, melemahkan integrasi nasional, membangkitkan kembali sentimen keagamaan lama yang selama ini telah mencair dengan baik. Pemilihan tanggal 22 Oktober juga dapat menafikan peran para santri dan kalangan Islam yang tidak terlibat dalam peristiwa 22 Oktober. 

Bagi kalangan yang pro, berpendapat bahwa pengertian santri itu bukan hanya santri yang mondok saja tapi siapapun yang berakhlak seperti santri, dialah santri. Jadi bukan SANTRI dalam pengertiannya yang sempit. Jika demikian maksudnya, maka alasan disharmoni yang dilontarkan oleh mereka yang kontra menjadi tidak relevan lagi dibahas. Kalau kita telusuri hari-hari nasional yang lain yang lebih dahulu ditetapkan, kita akan menemukan; tgl 5 Oktober hari TNI, 19 April hari HANSIP, 17 Mei hari Buku Nasional, 29 September hari Sarjana, 28 September hari Kereta Api, 24 Oktober hari Dokter, 12 April hari Bawa Bekal Nasional, 29 Maret hari Filateli Nasional. Penetapan hari-hari tersebut tentu saja tidak menimbulkan konflik. Karena selama ini tidak terdengar kegaduhan dalam masyarakat. 

Mengapa presiden Jokowi mewacanakan penetapan hari santri jatuh pada tanggal 22 Oktober?. Barangkali ada beberapa jawaban yang bisa dikemukakan. Adapun jawaban pastinya ya ada pada pak Jokowi sendiri (1) Masih terbaca dalam situs-situs berita online bahwa ketika masa kampanye dulu, di hadapan para santri dan kiai di Malang, ada usulan dari seorang Kiai agar Santri dijadikan hari nasional. Merespon usulan tersebut, Jokowi berjanji akan mewujudkannya, jika terpilih menjadi presiden. Kapan tanggalnya akan dibicarakan kemudian. Nah, barangkali untuk menepati janji kampanyenya tersebut, setelah menjadi presiden, Jokowi menetapkan hari Santri Nasional jatuh pada tgl 22 Oktober. (2). Tanggal 22 Oktober dipilih, karena pada tanggal itulah, Resolusi Jihad dikeluarkan dan dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari Pendiri NU dan Pendiri Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dalam rangka mempertahankan kemerdekaan dari rongrongan sekutu (yang diboncengi oleh belanda) yang mau menjajah kembali bangsa Indonesia yang baru saja mengumumkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Sebelum berkobarnya peperangan melawan tentara sekutu pada tanggal 10 Nopember 1945, KH. Hasyim Asy’ari setelah bermusyawarah dengan alim ulama, mengeluarkan Resolusi Jihad pada tanggal, 22 Oktober 1945 yang isinya menegaskan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah Jihad Fi Sabilillah,hukumnya wajib, jika meninggal dunia, maka dikategorikan sebagai mati Syahid.  Dengan semangat Jihad inilah, para santri di Jawa Timur dan Madura berbekal bambu runcing dan do’a, bersama ABRI dan rakyat lainnya berbondong-bondong menuju Surabaya berperang melawan sekutu yang dipimpin oleh Jenderal Mallaby. Pertempuran ini akhirnya dapat dimenangkan bahkan Jenderal Mallaby sendiri dapat dibunuh.

Hari santri ini dapat dijadikan momentum untuk memahami kembali ruh jihad yang dikobarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari dulu, yaitu mengusir penjajah kafir dari bumi nusantara. Dalam konteks sekarang, jihad itu adalah mengawasi kekuatan dan kepentingan asing yang menjarah sumber daya alam nusantara, mencetak generasi muda yang tangguh dalam melawan penjajah dalam bidang politik, ekonomi dan budaya. Bukan jihad untuk membunuh sesama muslim atau non-muslim yang tidak berdosa, apalagi hanya sekedar perbedaan mazhab dan khilafiyah. Jihad yang mengobarkan nasionalisme Indonesia, bukan yang membawa ideologi negara lain untuk mengganti ideologi negara Pancasila. 

Akhirnya, saya ucapkan selamat Hari Santri Nasional. Semoga santri ke depan tetap jaya dan dapat menjadi pemimpin dan panutan umat secara keseluruhan.Aamiin.

Wallahu a’alam
Surabaya, 22 Oktober 2015


Leave a Reply