Doktrin salafisme Perspektif Roel Meijer

Doktrin salafisme Perspektif Roel Meijer

Category : Buku


Syukri Abubakar. Sebagaimana yang saya jelaskan pada tulisan terdahulu bahwa salah satu kegalauan Roel Meijer adalah ingin mengetahui doktrin-doktrin salafisme yang menjadi daya tarik pemuda muslim di seluruh penjuru dunia sehingga mau bergabung didalamnya.
Berdasarkan pembacaannya, Meijer mengungkapkan bahwa terdapat, paling tidak empat doktrin Salafisme yang terinspirasi dari Wahabisme. 

Pertama, program Wahabisme untuk kembali kepada al-Qur’an dan As-Sunnah. Kaum salafi menghendaki kembalinya pola kehidupan muslim dari generasi pertama. Mereka percaya kepada penafsiran al-Qur’an yang tegas dan harfiah hanya ada satu kebenaran.
Itu mempunyai daya tarik yang luar biasa terhadap kawula muda di seluruh dunia. Peneliti Norwegia, Thomas Hegghammer menyatakan di masa perubahan-perubahan besar dan pilihan besar yang terus menerus dan dengan kepastian-kepastiannya yang sederhana, salafisme menimbulkan keyakinan kuat di kalangan kawula muda yang sedang mencari-cari format beragama secara ideal, baik di dunia Arab maupun di negeri Barat. Tidak hanya itu, dengan klaimnya sebagai al-firqah al-najiyah yakni kelompok yang diselamatkan oleh Allah Swt. di hari akhir kelak, salafisme menjadi magnet bagi kelompok orang-orang tertindas, kaum migran yang didiskriminasikan, serta orang-orang yang termarjinalkan secara politik, karena merasa memiliki akses kepada kebenaran.

Kedua, terkait dengan regulasi hubungan antara orang mukmin dan non mukmin (believers and non believers/outsider). Kontribusi besar Wahabi pada salafisme terletak pada perlakuan keras terhadap orang asing dan sekte-sekte muslim non-wahabi. Dari sini, maka muncullah apa yang dinamakan prinsip loyalitas dan keingkaran/penolakan (wala’ wa al-bara’). Wilayah non wahabi dinamai dengan al-bilad al-musyrikah the land idolators. Dalam prakteknya, mereka menganggap wilayah di luar mereka seperti kerajaan Ottoman dapat diperangi karena dianggap sebagai non-believers. Doktrin ini muncul kembali seperempat pertama abad ke-20 ketika fanatis wahabi semisal al-Ikhwan (milisi khusus wahabi) berupaya menyebarkan ajaran wahabi di Iraq. sementara pada paroh kedua abad ke-20 seorang figur penting mufti Saudi Arabia bin Baz memerintahkan orang muslim untuk tidak memberi hormat/salam kepada non-muslim dan memperkuat rasa benci kepada mereka.

Ketiga, Pelabelan syi’ah sebagai bid’ah. Wahabisme menyalahkan syi’ah karena dua alasan doktrinal (1) syi’ah memuliakan imam sebagai orang yang paling sempurna (2) syi’ah menolak legitimasi tiga dari empat khulafaurrasyidin (yang berkuasa pada tahun 632-661) dan begitu juga mereka menolak sahabat Nabi dan otentisitas hadith yang dijadikan pegangan utama ajaran Wahabi/Salafi. doktrin ini menjadi senjata ideologis di tangan tokoh radikal Abu Mush’ab al-Zarqawi (w. 2006) yang digunakannya di Iraq, dengan efek mematikan.

Keempat, contoh terakhir ambiguisitas Wahabi yang diwariskan kepada Salafisme modern adalah praktek hisba, menyuruh kepada kebajikan dan melarang kepada kemungkaran (al-amr bi al-ma’ruf wa nahy ‘an munkar). Doktrin ini digunakan untuk memberdayakan para pengikutnya agar aktif berdakwah, bahkan lebih kuat dengan mengambil bagian dalam jihad. Walaupun praktek seperti ini telah berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama, telah dipraktekkan selama periode Abbasiyah (750-1258) dan dianggap oleh Ibn Taimiyah sebagai bentuk puncak dari jihad, hal itu dihidupkan kembali oleh Wahabisme sebagai alat untuk menegakkan moral masyarakat dan sebagai alat politik untuk melawan oposisi sekuler.
selain itu, kelompok salafi jihadi memiliki doktrin yang khas, yakni takfiri. berdasarkan doktrin tersebut, kaum muslimin yang memiliki pemikiran lain, dianggap kafir dan murtad. Abdul Wahhab menilai bahwa saat ini umat Islam sedang berada dalam kejahiliyahan sehingga harus hijrah. Doktrin ini berakar pada gerakan khawarij, sekte yang ditolak mayoritas umat Islam pada abad pertama Islam. Hasan al-Hudaybi, tokoh salafi non-jihadi dari Ikhwanul Muslimin memprotes doktrin ini. Dalam pandangannya, doktrin ini tidak sesuai dengan tradisi toleransi dalam Islam.

Tokoh lain, Mohammed M. Hafez, pemikir Islam salafi jihadi kontemporer membagi doktrin salafi menjadi 5 (1) penekanan pada konsep tauhid (2) kedaulatan Allah Swt. (hakimiyyah) hanya Allah yang memiliki kedaulatan. karena itu haram mengikuti ideologi di luar Islam. Pemerintah yang melanggar peraturan Allah boleh diperangi (3) penolakan terhadap bid’ah (4) Takfir (muslim yang berada di luar kredo adalah kafir harus tobat (5) jihad melawan rezim kafir.

Doktrin Ikhwanul Muslimin yang dirumuskan oleh Hasan al-Banna (1) Allah tujuan kami dalam mengolah bumi agar damai sejahtera (2) Rasulullah teladan kami (3) al-Qur’an landasan hukum kami (4) jihad adalah jalan kami (5) mati syahid dijalan Allah adalah cita-cita kami yang paling tinggi

Amin Abdullah menyimpulkan bahwa doktrin salafisme itu ada lima (1) al-wala’ wa al-bara’ (2) jahiliyah kontemporer (3) Hakimiyah (4) bid’ah (5) Thaguth.

Itulah point-point doktrin salafisme yang terdapat dalam kajian Roel Meijer. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam

Surabaya, 22 Desember 2015


Leave a Reply