Memahami Pemikiran Nashr Hamid Abu Zaid tentang Gender

Memahami Pemikiran Nashr Hamid Abu Zaid tentang Gender

Category : Artikel


Syukri Abubakar. Menurut Amin Abdullah, untuk memahami pemikiran tokokh-tokoh Islam kontemporer semisal Muhammad Abed al-Jabiri, Fazlurrahman, Muhammad Syahrur, Ali Syari’ati, Abdullahi Ahmad An-Na’im, Mahmud Muhammad Thaha, Hasan Hanafi, Muhammad Arkoun, Asghar Ali Engineer, Fatimah Mernisi, Aminah Wadud, Nashr Hamid Abu Zaid, Khaled M. Abou el-Fadhl, Ibrahim Abu Rabi’, Ebrahim Moosa, dan Farid Essack.
Begitu juga generasi yang lebih muda seperti Omit Safi, Jasser Auda, Tariq Ramadhan, Farish A. Noor, dan Sa’diyya Shaikh, maka kita harus memahami text dengan melihat ke dua sisi. Sisi pertama yaitu realitas masa lalu (masa Nabi, Sahabat, dan Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in) yang Nashr Hamid menyebutnya dengan dalalatul makna. Sisi kedua melihat realitas masa kini, yang ia sebut dengan al-Magza yang tentu saja sangat jauh berbeda dengan realitas masa lalu.

Dalam memahami persoalan masa lampau, maka kita membutuhkan asbabun nuzul al-Qur’an atau asbabul wurud hadist atau apa-apa yang tertera dalam kitab-kitab kuning dengan ushul fiqh sebagai metode berfikirnya. Sementara jika kita memahami persoalan masa kini, maka yang kita butuhkan adalah asbabun nuzul masa kini berupa research atau penelitian yang diperkuat dengan data empiris dan fakta masa kini. Maka untuk memahami ide-ide pemikir Islam kontemporer, kita tidak bisa lepas dari ulumuddin ilmu-ilmu agama sebagai pondasi utamanya dan al-ulum al-ijtima’iyyah ilmu-ilmu kemasyarakatan (sosial science; sosiologi, antropologi, psikologi, dll) dan al-ulum al-insaniyyah al-jadidah ilmu-ilmu kemanusiaan yang baru berkembang (Humanity, Philosophy, Ethic’s, dll) sebagai penguat pondasi dasar tersebut.
Jadi dalam memutuskan suatu persoalan yang timbul saat ini, menurut Nashr Hamid, kita tidak bisa hanya mengandalkan teks-teks keagamaan semata, karena yang demikian tidak menyelesaikan persoalan, tapi kita harus arif bijaksana melongok realitas saat ini, bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu cepat dalam segala lini kehidupan, arus informasi yang begitu mendunia dan persoalan semakin kompleks. Maka mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menggunakan ilmu itu, yaitu dengan mendialogkan antara ulumuddin dengan ulumul ijtimaiyyah dan ulumul insaniyyah al-jadidah dengan research lapangan yang bertumpu pada data dan fakta. Jika ini dilakukan, maka akan muncul takamulul ulum kesempurnaan ilmu atau azdawajul ma’arif pengetahuan yang kompherenship.

Dalam merealisasikan cara pandang yang demikian, Nash Hamid menulis kitab yang membicarakan hak-hak perempuan dalam Islam, dengan judul “Dawa’ir al-Khauf, Qira’ah fi al-Khitab al-Mar’ah� . Dalam buku tersebut, pada Bab II sub Bab d, Nashir Hamid menawarkan tujuh metode Pembacaan Kontekstual (al-Manhaj al-Qira’ah al-Siyaqiyyah) dalam upaya membaca teks-teks al-Qur’an tentang hak-hak perempuan sebagi berikut:

Pertama, Menempatkan asbabun nuzul yang diperluas dengan keseluruhan konteks sosial historis abad ke 7 M sebagai perangkat pokok untuk interpretasi, menghasilkan dan melakukan istinbath hukum dari teks.
Kedua, Membedakan antara “makna� (al-dilalah) historis yang diperoleh dari suatu konteks, dan “signifikansi� (magza) yang diindikasikan dengan oleh makna dalam konteks sosio-historis penafsiran. Hal ini merupakan pengembangan dari kaidah “al-Ibrah bi ‘umum al-lafdz la bi al-khushus al-sabab�.
Ketiga, Memadukan secara holistik konstruktif antara dimensi historis dan kronologis dalam proses penafsiran
Keempat, Konteks naratif, yaitu konteks yang lebih luas meliputi apa yang dianggap sebagai perintah atau larangan syara’, seperti yang disampaikan dalam bentuk kisah, atau penggambaran kondisi umat terdahulu, atau konteks bantahan terhadap para penyerang atau orang-orang yang berusaha menghina al-Qur’an atau Nabi Muhammad, baik dari kaum musyrikin Makkah maupun dari kalangan Ahlul kitab.
Kelima, Struktur bahasa (al-tartib al-lughawi), yaitu struktur yang lebih kompleks daripada susunan gramatikal, karena ia memerlukan analisis terhadap relasi-relasi, seperti fashl, washl, antar susunan gramatikal, relasi-relasi taqdim dan ta’khir, idhmar dan idzhar, al-dzikr dan al-hadzf, tikrar, dan lain-lain.
Keenam,Analisis gramatikal dan retoris (al-tahlil al-nahwi al-balaghi) yang tidak hanya berhenti pada batas-batas Ilmu Balaghah tradisional, tetapi memanfaatkan perangkat-perangkat “analisis wacana (tahlil al-khitab) dan “analisis teks� (tahlil al-nash) dalam implementasi-implementasi kontemporernya.
Ketujuh, Terkait dengan teks fundamental kedua (al-nash al-ta’sisi al-tsani), yaitu sunnah Nabi, harus ada pemaduan antara kritik matan dan kritik sanad, yaitu antara metode Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i dan memanfaatkan segala metode kritik atas teks yang mungkin dalam ilmu linguistik dan stilistika (‘ilm al-uslum) kontemporer.

Untuk mengaplikasikan metode tersebut, Nashr Hamid mengangkat tiga tema utama terkait dengan hak-hak perempuan. (1)Ayat-ayat mengenai Pernikahan dan Talak sebagaimana yang termaktub dalam Qs. An-nisa’: 1,2,3, (2) Ayat-ayat tentang Waris dalam Qs. An-nisa: 7-11 (3) Ayat-ayat yang berkaitan dengan Hijab dan aurat.
Bagaimana penjelasannya, nantikan edisi berikutnya. Wallahu a’lam.

Surabaya, 19 Desember 2015


Leave a Reply