Menimba ilmu pada Bapak Amin Abdullah

Menimba ilmu pada Bapak Amin Abdullah

Category : Artikel

Syukri Abubakar. Ketika S1, saya sud

ah mendengar nama besar Prof. H. Amin Abdullah, dosen IAIN Yogyakarta, seorang pakar dalam bidang filsafat Islam. Salah satu bukunya yang boming saat itu berjudul “Falsafah Kalam di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995). Ketika menelaah buku ini, saat itu saya masih mahasiswa baru yang belum memiliki pondasi keilmuan yang kuat atau istilah lainnya ora mudeg blass, pikiran-pikiran cerdas beliau dalam buku tersebut belum bisa saya serap dengan baik. 

Saya sebenarnya menginginkan ada kesempatan untuk mengikuti kelas atau seminar beliau agar saya bisa memahami pikiran-pikiran cerdasnya. Namun lagi-lagi ketika di Pascasarjana, kelas saya (konsentrasi syari’ah) tidak ada jadwal mengajar beliau. Beliau hanya dijadwalkan pada konsentrasi pemikiran. Dari cerita kawan-kawan kelas pemikiran, terdengar begitu terkagum-kagumnya mereka terhadap sosok beliau. Bagaimana tidak, beliau membekali mereka dengan wawasan keilmuan global, beliau membekali mereka dengan metode berpikir rasional dan sistematis. Mereka benar-benar tercerahkan dalam hal metodologis dan intelektualitas keilmuan. Dengan bekal itu, dan tentu saja diasah sedikit demi sedikit, pola pikir mereka akan terbentuk dengan sendirinya. 

Setelah lima belas tahun berselang, sosok beliau menghampiri lagi dalam miliu keilmuan saya. Saat-saat yang saya harap-harap dulu, sekarang terbayar sudah. Dihadapan saya dan kawan-kawan kelas, beliau berdiri menjelaskan ilmu pengetahuan yang saya damba dahulu. Bener apa yang saya persepsikan dulu bahwa beliau dapat dengan mudah menggiring pola pikir mahasiswanya ke arah global. Maksudnya, bahwa beliau menginginkan mahasiswanya tidak lagi berpikir satu arah, hitam putih -dalam istilah beliau- bayani, mazdhabi, thoifiyyah, ataupun ulumuddin, (tekstual) tapi beliau mengajak mahasiswa untuk naik peringkat dengan cara berpikir burhani, berpikir islamis studies (teks dan konteks). Hal Ini bisa diwujudkan dengan cara banyak-banyak membaca, bukan hanya ilmu agama tapi ilmu-ilmu lainnya juga harus diperdalam, sehingga memiliki ilmu yang bersifat integratif-interkonektif. 

Untuk lebih mengenal sosok dan pemikiran beliau secara mendalam, saya juga membeli buku-buku karya beliau yang sampai saat ini saya baru mendapatkan dua buku yang berjudul “Studi Agama Normativitas atau Historisitas” terbit tahun 2011, dan “Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif”. Buku yang ke dua ini sudah tiga kali naik cetak yaitu cetakan pertama Februari 2006, cetakan kedua Januari 2010 dan cetakan ketiga Agustus 2012. Kedua buku tersebut, sekali lagi belum tuntas saya baca. Namun untuk buku Islamic Studies di Perguruan Tinggi, saya baru baca halaman-halaman awal BAGIAN 1.

Ada hal menarik yang perlu saya tulis disini terkait dengan hasil bacaan saya tersebut. Pada halaman 81-90, beliau menjelaskan mengenai pola pikir keagamaan umat Islam sebagai akibat diperkenalkannya filsafat ilmu-ilmu keislaman dalam khazanah intelektual muslim era millenium baru. Beliau membagi, paling tidak, ada tiga polarisasi berpikir yang dianut oleh umat Islam. 

Pertama, Pola pemikiran keagamaan Islam yang bersifat Absolutely Absolut (ta’abbudy). Menurut mereka ajaran agama sudah tauqify, sudah final. Semuanya berdasarkan wahyu Tuhan. Tidak ada lagi peran akal didalamnya. Jika ditemukan unsur-unsur yang mengarah kepada peranan akal, maka segera mereka anggap bid’ah dan setiap bid’ah itu dhalalah dan setiap yang dhalalah itu dalam neraka. Jadi mereka lebih mengutamakan yang qathiyyah dari pada yang dhanniyah. Mereka ini, menurut beliau, mudah terjebak dalam proses taqdis al-afkar al-diniyyah (pensakralan pemikiran keagamaan). Kalau sudah begitu, mereka sulit diajak diskusi secara jernih untuk melakukan proses take dan give.
Dalam istilah sosiologi agama, pola pemikiran keagamaan seperti ini disebut dengan pola pemikiran idealistik.

Kedua, Pola pemikiran keagamaan Islam yang bersifat Absolutely Relative (ta’aqquly). Pola pikir seperti ini biasanya dimunculkan oleh tokoh agama yang memiliki latarbelakang ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu budaya. Mereka berkecenderungan berpendapat bahwa perilaku agama adalah identik dengan perilaku sosial dan budaya biasa, sehingga sulit dibedakan antara agama dan tradisi. Tradisi adalah agama, agama adalah tradisi. Kebenaran agama pun dianggap tidak ada. Pola pikir ini muncul sebagai antitesis dari corak pemikiran keagamaan yang pertama. Jika yang pertama sangat rigid, kaku maka yang kedua ini sangat longgar bahkan cenderung sekuler.Pola pemikiran seperti ini dalam istilah sosiologi agama disebut sebagai pola pemikiran reduksionistik.

Ketiga, Pola pemikiran keagamaan Islam yang bersifat Relatively Absolute. Untuk kedua pola pikir di atas, beliau anggap tidak cocok lagi untuk dipraktekkan. Untuk saat ini, menurut hemat beliau, perlu pandangan baru yakni Relatively Absolute. Maksudnya, umat beragam harus tetap menjaga dan memelihara doktrin keagamaan yang absolute, menjaga dan memelihara adat istiadat, dan tradisi keagamaannya, sembari tidak memandang rendah, memandang remeh kelompok lain yang memiliki pandangan hidup, keyakinan dan keimanan yang dipegang secara absolute pula. Selain diperlukan sikap absolute untuk menjalankan kehidupan moral keagamaan, umat beragama juga perlu belajar memahami dan menghargai sikap relatif, ketika mereka harus berhadapan dengan berbagai model cara hidup, keyakinan dan keimanan yang beraneka ragam yang dimiliki oleh orang dan kelompok lain.

Nah, itulah beberapa point penting yang dapat saya tangkap dari tulisan beliau pada halaman 81-90 tersebut. Kita tinggal mengidentifikasi diri bahwa kita masuk dalam kategori yang pertama, kedua, atau ketiga? atau ada kategori lain? Silahkan berprosesss.
Wallahu a’lam
 

Surabaya, 12 Nopember 2015


Leave a Reply