Ayo… Mari Mengenal Imam Mahdi

Ayo… Mari Mengenal Imam Mahdi

Category : Artikel

Ide kemunculan sang penyelamat agung yang akan membentangkan keadilan dan kemakmuran pada akhir zaman, membasmi kezhaliman dan penindasan di seantero dunia dan menyerukan keadilan dan persamaan hak di bawah kepemimpinannya, merupakan ide yang dianut oleh tiga agama utama dan diyakini oleh mayoritas masyarakat dunia.

Agama Yahudi menurut kepercayaan ini, sebagaimana kaum kristiani meyakini kembalinya Nabi Isa as., demikian juga keyakinan umumnya umat Islam baik kalangan Sunni maupun Syi’i bahwa pada akhir zaman nanti, Allah swt. akan mengutus salah seorang dari keturunan Fatimah putri Rasulullah Muhammad Saw. yang bergelar Imam Mahdi al-Muntadhar, Imam Mahdi yang ditunggu. Keyakinan ini sudah berakar kuat di hati kalangan umat Islam sejak dahulu, karena langsung disabdakan oleh baginda Rasulullah Muhammad Saw. dalam banyak hadist yang oleh ahli hadist dinilai shahih dan mutawatir. Misalnya, hadist berikut:

Hadist yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, telah bersabda Rasulullah Saw.: “Kusampaikan kabar gembira kepadamu mengenai al-Mahdi, yang akan muncul di kalangan umatku, meskipun orang selisih pendapat dan terjadi banyak bencana. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi dengan kejahatan dan kezaliman. Semua penghuni bumi dan penghuni langit akan merasa puas (rela) terhadapnya. Dia akan membagi-bagikan harta dengan benar. Seorang laki-laki bertanya: Apa maksudnya dengan benar itu?, Rasulullah menjawab: “dengan merata di antara manusia�. (Ali Muhammad Ali, Imam Hasan al-Askari as. Imam Muhammad al-Mahdi, terj. (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1993, 107).

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku (Muhammad bin Abdullah) . Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.� (HR. Abu Dawud 9435).

Namun demikian, tetap saja timbul beda pandangan di kalangan Sunni dan Syi’i tentang siapa yang dimaksud oleh Rasulullah Muhammad Saw. dengan Imam Mahdi al-Munthadar tersebut.

Kalangan Sunni, dalam memandang masalah ini terbelah menjadi tiga golongan. Pertama, berpendapat bahwa Imam Mahdi berasal dari keturunan Hasan putra Fatimah az-Zahra atau lazim disebut ahlulbait yang namanya sama dengan nama Nabi Muhammad Saw., beliau akan datang pada akhir zaman. Pendapat ini dianut oleh jumhur (mayoritas) ahli sunnah wal jama’ah. Sebagian dari mereka menambahkan bahwa nama ayah Imam Mahdi sama dengan nama ayah Nabi Muhammad Saw., yakni Abdullah. Kedua, Imam Mahdi hanya merupakan figur seorang penyelamat kehidupan manusia. Dengan demikian, ia tidak harus berasal dari keturunan Fatimah az-Zahra saja, namun seorang muslim. Sehingga banyak yang mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi atau diakui sebagai Imam Mahdi. Sebagai contoh Umar bin Abdul Aziz. Imam Ahmad dan yang lain berpendapat bahwa Umar bin Abdul Aziz termasuk Imam Mahdi karena beliau adalah seorang yang bijaksana dan mendapat petunjuk. Akan tetapi ia bukanlah al-mahdi yang muncul pada akhir zaman tapi orang yang selalu berpihak kepada kebaikan dan kebijaksanaan. Ketiga, Imam Mahdi bukan merupakan figur seseorang tetapi simbol kemenangan kebenaran terhadap kebatilan atau simbol kemenangan keadilan terhadap ketidak adilan. Anggapan ini banyak dianut oleh pemikir modern. 

Sementara di kalangan Syi’ah, juga terbelah pandangannya mengenai Imam Mahdi, sesuai dengan keyakinan masing-masing golongan. Jika ditelusuri, terdapat tiga arus besar golongan Syi’ah yang mengklaim sebagai yang berhak menjadi Imam Mahdi. Pertama, golongan Kaisaniyah yang mengganggap Muhammad bin Hanafiah, putra Ali bin Abi Thalib sebagai Imam Mahdi. Kedua, Syi’ah Isma’iliyah as-Sab’iyah (Syi’ah Tujuh Imam) yang mengklaim Isma’il bin Ja’far as-Sadiq sebagai Imam Mahdi. Ketiga, Syi’ah dua belas atau syi’ah Imamiyah. Menurut mereka, yang dimaksud dengan Imam Mahdi al-Muntadhar adalah Imam yang ke dua belas yang bernama Muhammad bin Hasan al-Mahdi. Ayah beliau adalah Muhammad bin al-Hasan al-‘Askari bin Imam Ali al-Hadi bin Imam Muhammad al-Jawad bin Imam Ali Ar-Ridha bin Imam Musa al-Kadzim bin Imam Ja’far Ash-Shodiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam al-Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib as. Ibunya adalah Nargis, dulunya seorang jariah.

Imam Mahdi versi golongan Syi’ah dua belas lahir pada tanggal 15 Sya’ban 255 H di Samarra, lima tahun sebelum wafat Ayahnya. Beliau dilahirkan pada masa pemerintahan al-Muhtadi, dinasti Bani Abbas. Masa ini adalah masa yang penuh dengan fitnah dan pergolakan, sebagaimana yang dilukiskan oleh Ath-Thabari “Pada masa pemerintahan al-Muhtadi, seluruh dunia Islam dilanda fitnah�. Beliau dipelihara dan dilindungi secara rahasia karena adanya kekhawatiran terhadap dirinya, dan untuk melaksanakan janji Allah Swt. yang telah diwarisi oleh para Imam a.s., dari kakek mereka, Rasulullah Saw.

Kalangan Syi’ah Imamiyah Istna Asyariyah meyakini bahwa sampai saat ini, Imam Mahdi masih hidup, namun keberadaannya tidak dapat dilihat oleh manusia kebanyakan (gaib) kecuali orang-orang khusus dan dalam keadaan tertentu saja. Pada waktunya nanti, beliau akan muncul dengan izin Allah, dan akan memenuhi dunia dengan keadilan.    

Terkait dengan kegaiban, kalangan Syi’ah membaginya menjadi dua kategori, gaib syugro (gaib kecil) dan gaib kubro (gaib besar). Gaib syugro berjalan selama 69 tahun yang dimulai pada tahun 260 H/872 M sampai dengan tahun 329 H/941 M. kegaiban kecil terjadi karena sejak masa kanak-kanak dan sebelum memangku imamah beliau tidak pernah terlihat orang.

Di era gaib kecil ini, para pengikut Ahlubait berhubungan dengan beliau melalui empat orang wakil khusus (naib khas) yaitu; Pertama, Usman bin Said al-Umari yang menjadi sahabat Imam Ali Hasi as dan Imam Hasan Askari as. Kedua, Muhammad bin Usman al-Umari yaitu putra wakil khusus pertama dengan masa kenaiban yang berakhir pada tahun 305 H. Ketiga, Abdul Qasim Husain bin Ruh an-Naubakhti, seorang ulama terkemuka Syi’ah yang mengemban kenaiban hingga tahun 326 H. Dan kempat, Ali bin Muhammad as-Sammari yang mengemban tugas kenaiban hingga tahun 329 H. 

Beberapa hari menjelang wafat wakil terakhir, Imam Mahdi as menyampaikan pesan yang menyatakan bahwa kegaiban besar beliau sudah dimulai. Sejak itu (tahun 329 H/941 M sampai dengan Allah Swt. berkehendak untuk mendatangkan beliau (Imam Mahdi) kelak, beliau mengalami gaib besar.

Di masa gaib besar ini, kalangan Syi’ah Ahlubait dalam urusan syariat dan hukumah (pemerintahan) harus merujuk kepada para wakil umum (naib ‘am) beliau, yaitu para mujtahid (faqih adil yang berwawasan luas).

Wallahu a’lam

Surabaya, 30 April 2016     


Leave a Reply