Dampak Pemikiran Orientalis di Indonesia (Analisis Teori Orientalisme Edward W. Said)

Dampak Pemikiran Orientalis di Indonesia (Analisis Teori Orientalisme Edward W. Said)

Category : Teori-teori Sosial

 

Edwar W. Said dengan pemikirannya mengenai orientalisme dikategorikan oleh Nanang Martono ke dalam teori poskolonial mengenai perubahan sosial. Kajian poskolonial ini memang belum begitu berkembang di Indonesia bahkan di Eropa. Kajian ini banyak dipelajari di negara-negara Timur, yang membahas masalah yang dihadapi negara-negara Timur akibat penjajahan yang dilakukan Barat. Kajian ini mencoba mengkritisi tentang akibat hegemoni dan dominasi Barat terhadap banyak negara Timur hingga saat ini, walaupun secara politik mereka sudah merdeka.

 

Orientalisme berasal dari kata Orient dan Oriental sebagai penjelasan mengenai Timur, dilawankan dengan Occident yang berarti Barat, yaitu kajian yang dilakukan oleh orang Barat tentang Timur dalam hal sejarah, sastra, dan seni dengan tujuan tertentu.

 

Dalam bukunya yang berjudul Orientalism: Western Conceptions of The Orient, Said mengatakan dalam mengkaji Orientalisme, ia merujuk pada dua orang tokoh intelektual kenamaan, Michael Foucault dan Antonio Gramsci. Teori Foucault yang said adopsi adalah teori discourse, sebuah media yang memunculkan kekuasaan melalui wacana, “membentuk” objek pengetahuan. Said mempertanyakan tentang relasi kekuasaan yang melatari representasi Timur dalam geneologi orientalisme. Baginya, orientalisme merupakan sebuah diskursus yang tidak berkaitan dengan satu kekuasaan politis saja, melainkan dihasilkan melalui satu ajang pertukaran berbagai jenis kekuasaan.

 

Menurutnya paling tidak ada empat jenis relasi kekuasaan yang hidup dalam wacana orientalisme; kekuasaan politis (pembentukan kolonialisme dan imperialisme), kekuasaan intelektual (mendidik Timur melalui sains, linguistik, dan pengetahuan lain), kekuasaan kultural (kanonisasi selera, teks, dan nilai-nilai, misalnya Timur memiliki kategori estetika kolonial, yang secara mudah bisa ditemukan di India, Mesir, dan negara-negara bekas koloni lainnya), kekuasaan moral (apa yang baik dilakukan dan tidak baik dilakukan oleh Timur). 

 

Relasi ini menurutnya beroperasi berdasarkan model ideologi yang disebut Antonio Gramsci sebagai hegemoni, suatu pandangan bahwa gagasan tertentu lebih berpengaruh dari gagasan lain, sehingga kebudayaan tertentu lebih dominan dari kebudayaan-kebudayaan lain. Bagi Said, orientalisme pada hakikatnya tak lebih sebagai bentuk “legitimasi” atas superioritas kebudayaan Barat terhadap inferioritas kebudayaan Timur. Dalam hal ini, Said lalu menyebutnya “hegemoni kultural” sebagai praktik tak berkesudahan yang terus berlangsung dalam wacana orientalisme.

 

Menurutnya, orientalis cenderung merendahkan cara berfikir Timur yang dianggap tidak selaras dan sederajat dengan mereka. Sampai abad ke-20 pun, saat penjajahan telah lama berakhir, alih-alih menyesal dengan perbuatannya, para pemikir kolonial justru masih tetap merendahkan Timur. Untunglah muncul pemikir poskolonial yang menunjukkan kenyataan dibalik itu semua bahwa Timur tidaklah seperti yang digambarkan Barat.

 

Setelah mengetahui sekelumit mengenai orientalisme, maka pertanyaan selanjutnya, apa dampak kajian orientalis tersebut pada masyarakat Indonesia?. Untuk menjawab itu, kita coba membedah pemikiran tiga tokoh orientalist yang pernah menjadi penasehat politik pemerintah kompeni Belanda bahkan salah satunya pernah menjabat Guburnur Hindia Belanda, yaitu Thomas Stamford Raffles (1781-1826), William Marsden, dan Cristian Snouck Hurgronje (1857-1936).

 

Ketiga orientalis ini dalam kajiannya menafikan peran Islam dalam membentuk budaya masyarakat Indonesia pada awalnya. Raffles dalam bukunya The History of Java menekankan bahwa budaya Hindu-Budha-lah yang menjadi pioner, menjadi dasar terbentuknya kebudayaan masyarakat Indonesia, sementara budaya Islam tidak memiliki peran sama sekali. Menurut Rafles, budaya Islam adalah budaya asing, sama dengan budaya asing lainnya, yang tidak memiliki pengaruh apa-apa dalam membentuk budaya  Indonesia. Pemikiran seperti ini, tentu saja memiliki dampak yang besar pada masyarakat Indonesia, karena menancapkan keragu-raguan dalam diri umat Islam serta memutarbalikan fakta yang sesungguhnya terjadi. Akibat pemikiran yang seperti itu, banyak kalangan masyarakat yang masih memegang teguh perilaku budaya Hindu-Budha hingga saat ini.

 

Hal yang sama dilakukan oleh William Marsden dengan karyanya yang cukup populer berjudul The History of Sumatra (1783) memokuskan kajiannya pada kebudayaan orang-orang Sumatra seperti Minangkabau, Batak, Aceh, Rejang, Lebong, dan sebaginya. Dalam buku ini, Marsden mengesankan bahwa kebudayaan dan kebiasaan sehari-hari yang dipraktikkan masyarakat Sumatra adalah indeginiuos (asli) hasil kreativitas masyarakat Sumatra. Saat menjelaskan mengenai hukum yang berlaku di beberapa kerajaan seperti Minangkabau, Melayu, dan Aceh, Marsden gagal mengungkapkan bahwa hukum-hukum yang berlaku itu merupakan hukum yang diadopsi masyarakat dari syariat Islam. Bahkan sampai hari ini di masyarakat Minang terkenal ungkapan “adat basandi syara dan syara basandi kitabullah”. Marsden sama sekali luput menjelaskan keterkaitan syariat Islam dengan hukum adat yang berlaku di sebagian besar wilayah Sumatra ini. Alhasil, karya Marsden ini berkontribusi besar dalam memisahkan pengaruh Islam dalam sejarah dan kebudayaan Indonesia, terutama wilayah Sumatra.

 

Sama dengan pendahulunya, Cristiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) hendak mengesampingkan peran besar ajaran Islam dalam sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Misalnya dalam disertasinya untuk meraih doktor yang berjudul Het Mekkansche Feest (Perjalanan Haji ke Mekah), Snouck mengemukakan urgensi haji dalam Islam dan berbagai acara serimonial serta ritualnya, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa haji dalam Islam merupakan peninggalan dari ajaran pagan (watsaniah) bangsa Arab. Ia sama sekali tidak menengok sejarah haji bahwa ajaran haji sudah ada sinyalnya sejak jaman Nabi Adam As. dengan membangun dasar ka’bah untuk pertamanya, lalu diteruskan oleh Nabi Ibrahim As. dan Ismail As. dengan merenofasi pembangunan ka’bah  tersebut, kemudian diwajibkan atas umat Islam sampai saat ini hingga kiamat kelak. Pemikiran Snouck semacam ini bertujuan untuk memutarbalikkan fakta sejarah yang telah tercatat dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sehingga membuat keragu-raguan di kalangan umat Islam. Dengan demikian, umat Islam tidak banyak yang berangkat haji, karena menurut catatannya, orang yang banyak melawan pemerintahan kolonial Belanda adalah orang-orang yang baru pulang dari ibadah Haji. Dalam rangka meminimalisir orang Islam berangkat haji, ia rela membuat fitnah seperti itu demi kelangsungan pemerintah kolonial Belanda.

 

Snouck Hurgronje juga mengetengahkan teori receptie yang mengatakan bahwa bagi rakyat pribumi pada dasarnya hanya berlaku hukum adat; hukum Islam hanya bisa berlaku apabila norma hukum Islam itu telah diterima oleh masyarakat sebagai hukum Adat. Teori receptie-nya ini, pasca kemerdekaan Indonesia ditentang oleh ahli hukum pribumi dengan memunculkan tiga teori, yaitu; pertama, teori receptie exit yang dikemukakan oleh Hazairin. Ia menjelaskan bahwa teori receptie exit (keluar) dari teori hukum nasional Indonesia, karena bertentangan dengan UUD 1945 serta bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Rasul.  Kedua, teori receptio a contrario yang dikemukakan oleh H. Sayuti Thalib. Sesuai dengan namanya, teori ini merupakan kebalikan dari teori receptie, yang mengatakan bahwa hukum yang berlaku bagi rakyat adalah hukum agamanya; hukum adat hanya berlaku kalau tidak bertentangan dengan hukum agamanya. Ketiga, teori eksistensi yang dikemukakan oleh H. Ichtijanto SA, dalam bukunya Hukum Islam dan Hukum Nasional, mempertegas dan mengeksplisitkan makna receptio a contrario dalam hubungannya dengan hukum nasional. Ia mengartikulasikan hubungan itu dengan teori yang ia sebut dengan teori eksistensi.

 

Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa pemikiran yang disampaikan oleh ketiga tokoh orientalist tersebut, sama-sama berupaya mengesampingkan peran Islam dalam meletakkan dasar-dasar budaya dan hukum yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Mereka menghendaki bahwa budaya asli bangsa Indonesia berasal dari budaya Hindu-Budha yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme dan budaya asli tiap-tiap daerahnya, bukan berasal dari budaya Islam. Kajian ini membenarkan apa yang disampaikan oleh Edwar W. Said bahwa Barat selalu saja memandang rendah Timur (Islam) dan tidak mau mengakui peran Islam di wilayah dimana ia tumbuh . Wallahu a’lam.

 

Surabaya, 30 Mei 2016


Leave a Reply