Perempuan dalam Lembaran Kitab Kuning

Perempuan dalam Lembaran Kitab Kuning

Category : Artikel

Kemarin saya sudah mengungkapkan hasil penelitian Amina Wadud mengenai perempuan yang disebutkan dalam al-Qur’an. Saat ini, saya coba menggali hasil penelitian Masdar F. Mas’udi yang diberi judul “Perempuan diantara Lembaran Kitab Kuning�. Tulisan tersebut tertera dalam buku yang berjudul “Wanita Islam Indonesia dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual�.
Menurut Masdar, secara umum paling tidak terdapat empat tipe penempatan posisi perempuan oleh kitab kuning. Kadang diposisikan melebur dengan laki-laki, separoh harga laki-laki, sejajar dengan laki-laki dan bahkan jauh di atas laki-laki.

Melebur dengan laki-laki
Dalam hal melakukan sholat, laki-laki dan perempuan dibedakan dalam lima hal. Diantaranya; 1) dalam hal aurat, laki-laki cukup menutup antara pusar dan lutut, sedang perempuan harus menutup semua bagian tubuhnya kecuali wajah dan tapak tangan. 2) pada sholat jahr (magrib, isya’ dan subuh) laki-laki sebaiknya mengeraskan suaranya, sedangkan perempuan tetap bersuara rendah. 3) laki-laki sebaiknya sholat di masjid, perempuan sebaiknya sholat di rumah saja. 4) laki-laki menjadi Imam sholat dan Khatib jum’at, perempuan tidak boleh. 5) Ketika Imam Lupa dalam sholat, laki-laki membaca subhanallah, perempuan menepuk tangannya.
Pembedaan lain –yang sebenarnya tidak otomatis berarti bahwa yang satu lebih rendah dengan yang lain- tampak dari struktur bahasa kitab kuning. Dalam seluruh jenis suku kata, bahasa Arab membedakan laki-laki dan perempuan; kata benda (ism), kata kerja (fi’l), maupun kata sifat.    
Kadang-kadang ada kata-kata yang tidak berjenis kelamin yang mencakup laki-laki dan perempuan tapi oleh bahasa kitab kuning diperlakukan sebagai laki-laki. Misalnya kata an-nas yang bermakna manusia. Begitu juga kata yang menunjukkan jamak laki-laki banyak hum atau kum kalian laki-laki banyak, kalau dikehendaki, bisa menunjukkan jamak bagi laki-laki dan perempuan sekaligus.
Superioritas laki-laki juga terlihat pada nama-nama Tuhan seperti Allah, ar-Rahman, ar-Rahim, al-Matiin, dll.  Sementara malaikat, sebagai kata jenis perempuan tapi secara individual nama-namanya laki-laki seperi Jibril, mika’il, Israfil, Ridwan, dll. Juga nama-nama Nabi dan Rasul semuanya berjenis laki-laki, kecuali kalau Maryam, Asiah, Masitah, Rabi’ah al-Adawiyah hendak diyakini sebagai nabi juga.
Separoh harga lelaki
Kitab kuning, dalam tata kehidupan sosial, menempatkan perempuan sebagai makhluk yang separo harga laki-laki. Misalnya dalam hal menyembelih hewan aqiqah, anak laki-laki  minimal 2 ekor kambing, perempuan 1 ekor kambing. Dalam hal diyat ganti rugi pembunuhan, nyawa seorang laki-laki diganti dengan 100 ekor unta, sedangkan nyawa orang perempuan diganti dengan 50 ekor unta. Dalam hal persaksian, persaksian 2 orang perempuan  sama dengan persaksian 1 orang laki-laki. Dalam hal pembagian waris, 2 orang anak perempuan sama dengan bagian satu anak laki-laki. Ada analisis, laki-laki bertanggung jawab untuk memberi nafkah keluarga sedangkan perempuan tidak. Maka meskipun laki-laki dapat 2 bagian tapi kotor, sedang wanita dapat 1 bagian tapi bersih. Dalam hal menikah, laki-laki boleh menikahi empat orang wanita dengan syarat yang ketat, sementara wanita mutlak hanya satu suami saja. 
Sejajar dengan Laki-laki
Dalam penelusuran Masdar, kitab kuning juga menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki dalam hal spiritualitas ketuhanan. Pendirian ini dapat ditelusuri ketika mereka menafsirkan Qs. Al-Hujurat: 13 yang artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa�. Juga dalam Qs. Al-Nahl: 97 yang artinya: “Barangsiapa yang beramal soleh, apakah ia laki-laki atau perempuan dan ia beriman, maka niscaya akan kami hidupkan ia dengan kehidupan yang sangat baik�.
Dalam kedua ayat tersebut dijelaskan bahwa siapa saja yang beramal saleh dan patuh kepada Allah Swt. baik laki-laki maupun perempuan, maka ia berhak mendapatkan derajat yang mulia di sisi Allah swt.
Dua ayat yang tampak mengandung posisi setara antara laki-laki dan perempuan di akhirat tersebut, dikhawatirkan oleh Masdar karena dalam banyak kitab kuning dijelaskan bahwa laki-laki mendapatkan wanita di dunia paling banter 4 orang saja sementara di surga nanti seorang laki-laki bisa memiliki 40 orang bidadari sekaligus, bahkan bisa jauh lebih banyak lagi.
Lebih Tinggi di Atas laki-laki
Pandangan ini muncul berdasarkan hadist Nabi Muhammad Saw. yang menjelaskan bahwa “Ridhanya Allah tergantung pada ridhanya kedua orang tua�. Adapun orang tua yang harus dihormati terlebih dahulu oleh sang anak adalah ibunya baru setelah itu bapaknya.
Mendahulukan penghormatan kepada ibu ini berdasarkan hadist yang cukup terkenal di kalangan pesantren, yaitu; “Pada suatu saat datang sahabat bertanya kepada Nabi Muhammad Saw., Siapakah yang paling berhak diberi penghormatan?. Nabi menjawab: Ibumu!. Kemudian?. Tanya sabahat, Ibumu. Kemudian? Tanya sahabat lagi. Ibumu. Kemudian? Tanya sahabat lagi. Bapakmu.
Terdapat hadist lain juga yang dikutip oleh kitab kuning dalam memberikan posisi terhormat kepada ibu, yaitu hadist yang cukup terkenal juga yang sudah dihapal di luar kepala oleh para santri bahkan anak TK sekalipun. “Surga berada di bawah telapak kaki ibu�. Hadist ini menegaskan bahwa betapa tingginya posisi dan derajat ibu yang harus dipandang oleh anak laki-laki maupun perempuan.
Mengomentari posisi perempuan dalam kitab kuning ini, diakhir tulisannya Masdar menekankan bahwa memang kalo kita memandang dari kaca mata Barat yang penuh dengan tuntutan kesamaan hak antara pria dan wanita, maka kesan negatif akan timbul.  Tapi kalau kita fair melihatnya, maka kesan negatif itu akan sirna seketika, karena kita diajarkan bagaimana kita memperlakukan teks itu. Masdar menjelaskan kenapa kitab kuning memperlakukan wanita seperti itu. Ada banyak faktornya, diantaranya; 1) ajaran al-Qur’an dan hadist Nabi sendiri memang tidak punya pretensi untuk menyejajarkan perempuan dan laki-laki, sekurang-kurangnya sebagaimana diobsesikan oleh penganjur emansipasi wanita masa kini. 2) para penulis kitab kuning hampir semuanya laki-laki, bias kelaki-lakiannya pun menjadi sulit terhindarkan. Ini juga yang menjadi kritik Amina Wadud mengapa kitab kuning dan tafsir banyak yang bias gender. 3) kitab kuning sendiri adalah produk budaya zamannya, zaman pertengahan Islam yang didominasi oleh cita rasa budaya Timur Tengah yang secara kekerabatan menganut kekerabatan Patrilineal, pro maskulin. 
Dari situ maka kita akan arif bijaksana memaknai suatu karya dengan tidak langsung menjudge bahwa karya ini negatif, karya itu positif. Mari kita resapi terlebih dahulu siapa penulisnya, bagaimana latarbelakangnya, kapan karya itu ditulis, dan mengapa dia menulis masalah itu. Itulah kira-kira model pembacaan cerdas-akademik dalam menilai suatu karya. 
Wallahu a’lam.
Surabaya, 31 Mei 2016.

Leave a Reply