Belajar Aksara Bima pada INA KA’U MARI

Belajar Aksara Bima pada INA KA’U MARI

Category : Sejarah Tanah Bima

 

INA KA’U MARI baru saja meninggalkan kita semua untuk selamanya, menghadap Ilahi Rabbi. Kita memanjatkan do’a semoga semua amal baiknya diterima disisi Allah Swt., semua dosa diampuni, dijauhkan dari siksa kubur serta masuk surga tanpa hisab. Aamiin.

Beliau adalah tipe ilmuwan sejati, tidak mengenal waktu dan usia dalam memperdalam ilmu pengetahuan serta mengajarkannya kepada semua orang. Khususnya kepada saya dan Munawar, beliau mengajarkan ilmu sejarah dan kebudayaan kesultanan Bima. Beliau menunjukkan kepada kami bagaimana tingginya peradaban kesultanan Bima tempo dulu yang ditunjukkan dalam naskah-naskah kesultanan Bima yang dicatat dengan aksara Arab Melayu dan Aksara Bima.  
Perihal Aksara Bima ini, pertama kali saya mendengar informasinya dari Pak Mukhlis Abali dosen IAIN Mataram sekitar tahun 2003/2004. Saat itu, saya tinggal di Mataram dalam rangka mengabdi sebagai tenaga pengajar di Perguruan Tinggi yang sama dengan beliau. Beliau adalah senior saya ketika sama-sama mengenyam pendidikan s1 di Surabaya. Banyak suka dan duka yang kami lalui ketika itu, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata hanya bisa dirasakan dengan hati sanubari, nasib anak kos. Kebersamaan itu terus berlanjut hingga kami tinggal di Mataram. 
Saya termasuk salah satu yunior yang intens berinteraksi dengan Abali karena saat itu, saya dan beliau melakukan kerjasama bisnis kecil-kecilan. Ketepatan ketika itu juga, Abali sedang melakukan penelitian tentang naskah kesultanan Bima dengan INA KA’U MARI. Abali memberitahu saya bahwa kita orang Bima memiliki aksara tersendiri, namanya aksara Bima yang tertulis dalam beberapa naskah yang tersimpan rapi di rak Perpustakaan Pribadi INA KA’U MARI di rumahnya.
Pada mulanya, saya tidak percaya informasi yang disampaikan oleh Abali, karena selama ini, sedari kecil saya belum pernah mendengar cerita atau informasi tentang aksara Bima. Berhari-hari, saya merenung dan merasa penasaran akan aksara Bima, hingga suatu sore, Abali mengajak saya untuk melihat langsung keberadaannya di rumah INA KA’U MARI. 
Sore itu, sesampainya di rumah INA KA’U MARI yang jaraknya hanya ditempuh lima menit bersepada motor dari rumah Abali, kami dipersilahkan oleh INA KA’U MARI masuk ke rumah untuk melihat-lihat dan memeriksa naskah-naskah kesultanan Bima. Abali mengambil satu naskah dan menunjukkan kepada saya naskah itu ditulis dengan aksara Bima. Melihat aksara Bima, rasa penasaran saya sedikit terobati dan membuat saya semakin yakin bahwa aksara Bima memang ada wujudnya. Saya kagum dan bangga bahwa orang Bima tempo dulu memiliki ilmu pengetahuan dan peradaban yang begitu tinggi. 
Pada saat itu, saya hanya sekedar mengetahui dan merasa kagum akan keberadaan aksara Bima, belum sampai mempelajari dan memahami abjadnya satu persatu secara utuh, karena menurut saya, ada ahli bidang bahasa yang akan mengembangkan aksara ini, saya bukan termasuk ahli bahasa apatah lagi ahli dalam bidang aksara Bima. Klaim saya ini buyar ketika saya menetap di Bima dan diminta oleh INA KA’U MARI untuk mempelajari dan mendalami aksara Bima.  
Begitulah pada tahun 2007, diselenggarakan Symposium Internasional Pernaskahan Nusantara di Bima yang mengambil lokasi di kantor DPRD Kabupaten Bima. Saya dan Munawar dimasukkan sebagai anggota panitia oleh panitia inti dari Mataram. Beberapa dari mereka sudah saya kenal baik sejak tinggal di Mataram, sehingga ketika kegiatan ini hendak diselenggarakan, kami berdua dikonfirmasi kesiapannya untuk membantu kelancaran kegiatan. Dengan demikian, kami berdua punya banyak waktu berinteraksi dengan INA KA’U MARI selaku ketua panitia dan beberapa panitia lainnya dalam rangka mensukseskan acara tersebut. 
Diakhir kegiatan itu, diperkenalkanlah aksara Bima kepada seluruh peserta Syimposium Internasional Pernaskahan Nusantara oleh panitia yang bertempat di ASI MBOJO Kesultanan Bima. Saat itulah momentum awal aksara Bima dikenal-luaskan kepada masyarakat umum, lebih khusus masyarakat Bima. 
Sejak saat itu pula, banyak orang bertanya tentang aksara Bima. Bagaimana sejarahnya kok baru sekarang diperkenalkan, kok tidak diperkenalkan sejak dulu, bentuk hurufnya seperti apa, cara membaca dan menulisnya bagaimana, dan banyak lagi pertanyaan lain yang dilontarkan. Untuk menjawab kegundahan masyarakat tersebut, INA KA’U MARI yang pada saat itu sudah tinggal di Bima, meminta saya dan Munawar untuk mempelajari dan mendalami aksara Bima sampai nantinya bisa ditulis dalam bentuk sebuah buku sehingga dapat dikenal dan dipelajari oleh masyarakat Bima. Mungkin ada yang bertanya, kenapa kami berdua yang dipanggil untuk mempelajari aksara Bima, padahal banyak warga lain yang dapat melaksanakan tugas itu. Barangkali jawabannya adalah karena kami berdua pada saat itu sangat intens berinteraksi dan berkomunikasi dengan INA KA’U MARI. Sebenarnya, beliau mengharapkan banyak generasi muda yang mau peduli terhadap khazanah pernaskahan kesultanan Bima.   
Kami berdua sebenarnya sangat kesulitan mewujudkan niat INA KA’U MARI tersebut, namun karena terus menerus diberi motivasi dan semangat, membuat kami bekerja keras untuk mempelajarinya sedikit demi sedikit. Beliau memberi kami bahan rujukan berupa foto kopian hasil deklarasi Aksara Bima, lembaran-lembaran naskah yang beraksara Bima dan lampiran sebuah buku yang berisi Huruf Bima menurut catatan Zollinger (1850) dan Huruf Bima menurut catatan Raffles (1978). Dari bahan-bahan tersebut, kami diperkenalkan oleh beliau huruf per huruf yang dimulai dari huruf A sampai Z. Setelah kami diajari, kami diberi akses selebar-lebarnya untuk membaca dan meneliti naskah-naskah yang ada diperpustakaan beliau, barangkali terdapat naskah-naskah lain yang bertuliskan aksara Bima. Dari hasil penelusuran, terdapat enam sampai tujuh naskah yang ada tulisan aksara Bima. Ada yang full Aksara Bima satu lembar naskah, ada juga yang hanya beberapa baris saja. Cuma ada satu yang berbentuk buku, semuanya beraksara Bima yaitu naskah yang pernah ditunjukkan oleh Abali waktu di Mataram dulu.    
Tugas ini, baru bisa kami rampungkan dalam rentang waktu yang cukup lama, sekitar lima tahun yaitu sejak 2007 s/d 2012. Hal ini terjadi karena kelemahan kami dalam hal tulis menulis dan tentu saja karena kesibukan kami berdua. Dalam rentang waktu itu, kami selalu ditanya dan didesak agar penulisan buku aksara Bima segera diwujudkan. Kami merasa malu sendiri karena sudah cukup lama waktu yang dilalui belum menghasilkan apapun. Akhirnya kami berdua bertekad untuk menuntaskan tugas tersebut. Begitulah, pada akhir tahun 2012 kami bisa menyelesaikan penulisan buku aksara Bima atas arahan dan koreksi beliau yang kami beri judul “Aksara Bima, Kembalinya Peradaban lokal yang sempat hilang”. Hasil kerja kami ini, kami perlihatkan kepada Aba Du Wahid dan Ibu Atun Wardatun. Mereka berdua sangat mengapresiasinya. Ibu Atun Wardatun memberi masukan agar kata “Kembalinya” dalam judul hendaknya dibuang saja karena kalimat berikutnya, menurutnya, sudah mengandung arti kembali. Maka tercetaklah buku tersebut dengan judul “Aksara Bima, peradaban lokal yang sempat hilang” pada awal tahun 2013.
Buku Aksara Bima ini tidak akan laik cetak dan memiliki tampilan yang sebagus itu jika saja tidak ada sentuhan manja oleh sang penyunting fenomenal Mukhlish Muma Leon Muma Ma Mbuipu Kese Weki. Ia meyakinkan kami berdua bahwa buku ini sangat bagus karena memiliki “sesuatu” yang menjadi daya tarik, memiliki keunikan dan tentu saja belum pernah ada yang menulisnya.      
Buku ini secara umum berisi tiga Bab yang menginformasikan  tentang sejarah kerajaan Bima, sejarah ditemukannya aksara Bima, bentuk aksara Bima beserta contohnya dan dibagian akhir diulas mengenai isi buku yang ditulis tangan menggunakan aksara Bima yang digunakan sebagai bahan rujukan kami dalam mempelajari aksara Bima. 
Harapan besar kami aksara Bima ini dapat dikenal luas oleh masyarakat, lebih-lebih masyarakat Bima sendiri dengan cara dimasukkan dalam muatan lokal (MULOK) di Sekolah-sekolah Dasar  di seluruh Kota dan Kabupaten Bima. Bisa juga ditulis di setiap nama kantor, nama jalan, nama bandara, nama pelabuhan, nama sekolah dan nama-nama fasilitas umum lainnya yang terdapat di kota dan kabupaten Bima. Dengan cara seperti itu, aksara Bima akan terus hidup di tengah masyarakat Bima. Namun hingga saat ini, harapan kami itu belum bisa terwujud karena belum ada political will dari pemkot dan pemkab Bima untuk merealisasikannya. Mudah-mudahan harapan ini cepat direspon oleh pemangku kebijakan di Kota dan Kabupaten Bima.
Walaupun demikian, kami tetap semangat untuk mempromosikan aksara Bima dengan menyebarkan buku di beberapa sekolah, memperkenalkannya kepada mahasiswa di sela-sela mengajar, kepada rekan-rekan kerja di kantor dan saudara-saudara di rumah.
Disamping itu, saya juga berusaha menulis hal-hal yang terkait dengan aksara Bima kemudian saya posting via facebook dan website www.stitsunangiribima.ac.id. Dari hasil postingan itu, baru-baru ini, saya disapa via messenger oleh mas Arif Budiarto, pemerhati aksara Nusantara yang tinggal di kota Yogyakarta. Ia bercerita bahwa saat googling internet tentang aksara, muncul tulisan saya mengenai aksara Bima. Ia ingin mempelajari aksara Bima dan kalau bisa ingin memiliki buku aksara Bima berapapun harganya akan dibayar dengan ongkosnya sekalian. Mendengar curhatannya itu, saya pun memberitahukan bahwa kami memiliki buku tentang aksara Bima dan saya berjanji akan segera mengirimnya dengan tanpa bayaran alias gratis. Hal ini saya lakukan karena ada orang yang mengapresiasi hasil karya kami, apalagi dia orang luar Bima. Saya pikir dia akan memperkenalkan aksara Bima ini secara lebih luas lagi kepada orang lain dengan memiliki buku tersebut.
Setelah buku Aksara Bima saya kirim, kami sangat intens berkomunikasi via messenger bertukar informasi mengenai aksara Bima. Disela-sela obrolan itu, saya menanyakan kemungkinan aksara Bima ini bisa dibuatkan fontnya sehingga dapat ditulis di komputer sebagaimana font-font aksara lainnya. Menanggapi kegalauan saya itu, ia pun menawarkan diri untuk membuatkan font aksara Bima sehingga bisa ditulis dalam komputer ataupun laptop. Sebagai bayaran buku aksara Bima yang saya kirim. Begitu dia menuturkan. Mendengar tawarannya tersebut, saya berbunga-bunga dan memintanya untuk segera membuatkan font aksara Bima. 
Seminggu dua minggu saya tunggu, muncullah informasi dari dia bahwa font aksara Bima siap diemail dan siap dipasang di komputer. Setelah menerima email dan memasang font aksara Bima di komputer, saya mulai mempelajarinya dengan menuliskan huruf demi hurus sambil memeriksa kira-kira apa yang kurang dari font tersebut sehingga diadakan perbaikan lebih lanjut. Setelah saya cek satu persatu ternyata masih ada kekurangannya sehingga saya meminta kepadanya untuk memperbaiki kekurangan sebagaimana yang saya tunjukkan. Setelah font ini sudah benar-benar sempurna, maka font ini saya share kepada kawan-kawan FB agar bisa dipergunakan untuk menulis apa saja tentang Bima dengan menggunakan aksara Bima. 
Mas Arif Budiarto ini, saya perhatikan termasuk orang yang suka seni. Saya mengatakan demikian karena dalam postingannya di FB, ia bisa menulis aksara Bima dalam beberapa bentuk, sama seperti tulisan khot Arab yang bisa ditulis dalam berbagai jenis khot. Ia beberapa kali memposting aksara Bima dalam berbagai macam tulisan, termasuk tulisan aksara Bima dalam bentuk baju kaos. 
Atas perkembangan ini, saya tidak lupa melaporkannya kepada INA KA’U MARI memperlihatkan bahwa aksara Bima sudah memiliki font sendiri sehingga bisa ditulis dikomputer ataupun laptop. Beliau tersenyum bahagia sambil melihat tulisan aksara Bima yang saya tunjukkan dilaptop dan meminta saya untuk terus mensosialisasikannya hingga dunia mengenal aksara Bima yang sempat hilang itu.
Berselang beberapa minggu, saya juga dihubungi via messenger oleh mas Ridwan Maulana. Pencinta aksara Nusantara asal kota hujan Bogor. Sama seperti mas Arif Budiarto tadi, mas Ridwan mengenal aksara Bima lewat tulisan yang saya posting di internet. Ia mengutarakan niatnya yang ingin mendalami aksara Nusantara khususnya aksara Bima. Ia sudah berusaha mencari buku-buku yang berkaitan dengan aksara Nusantara, namun tidak mudah didapatkan. Oleh sebab itu, kalau ada buku tentang aksara Bima, ia memesannya satu buku untuk dipelajari. Saya pun segera mengirimkan satu paket buku Aksara Bima kepadanya secara gratis.  Harapan saya agar akasara Bima lebih dikenal lagi oleh masyarakat Indonesia.
Setelah itu, kami saling sapa via messenger mendiskusikan mengenai aksara Nusantara lebih khusus aksara Bima. Dari dia ini, saya mendapatkan informasi bahwa menurut proposal unicode, aksara Bima, aksara satera jontal Samawa, aksara lota ende merupakan variasi dari aksara Bugis. Memang kalau diperhatikan banyak kesamaan antara keempat aksara tersebut. Namun ada huruf-huruf tertentu yang membedakan sehingga masing-masing daerah memiliki ciri khas tersendiri.
Karena kecintaannya akan aksara Nusantara, mas Ridwan Maulana ini menyarankan saya untuk mendaftarkan aksara Bima pada website kumpulan aksara dunia di www.omniglot.com dengan cara mengajukan proposal pendaftaran. Untuk urusan pembuatan proposal ini, saya lagi-lagi masih awam. Dia menawarkan diri biar dia yang menyusun proposalnya dengan catatan datanya dari saya semua. Maka semua data yang dibutuhkan sesuai dengan permintaan dia, saya tulis kemudian saya kirim via email. Akhirnya proposal itu pun diusulkan ke www.omniglot.com lalu diproses beberapa waktu maka tampillah aksara Bima diweb tersebut. Aksara Bima mendunia sudah! hehe
Menurut mas Ridwan Maulana, agar aksara Bima ini naik statusnya menyamai aksara-aksara hebat lainnya, perlu dikenalkan dan diajarkan di sekolah-sekolah dan di tempat-tempat belajar masyarakat Bima. Digunakan sebagai tulisan nama-nama jalan, nama-nama kantor, nama bandara dan nama tempat umum lainnya. Selama hal ini tidak dilakukan, maka aksara Bima hanya sekedar berfungsi sebagai pajangan kebanggaan masa lalu saja. Namun, jika hal-hal di atas dilakukan, dia berjanji akan mengirim ulang proposal ke www.omniglot.com untuk menaikkan statusnya sama dengan aksara-aksara yang sudah mapan.
Hal lain yang dilakukan oleh mas Ridwan Maulana adalah memperbaharui tampilan aksara Bima agar terlihat apik lebih dekat dengan font aksara Bima sebagaimana yang ditulis di lembaran naskah kuno kerajaan Bima. Font terbaru aksara Bima ini bisa diakses di www.aksaranusantara.com. Dalam web tersebut, kita dapat mengunduh font-font aksara nusantara yang tersedia. Ada aksara Jawa, Aksara Bugis, aksara Bima dan aksara lainnya.
Itulah beberapa usaha yang telah kami lakukan bersama dalam rangka melestarikan aksara Bima sesuai dengan niat dan keinginan INA KA’U MARI. Mudah-mudahan semua ikhtiar ini bernilai ibadah dan dapat memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi semua orang. Aamiin. 
Bima, 26 Maret 2017

Leave a Reply