Membincang Tradisi Intelektual di kalangan Muhammadiyah dan NU

Membincang Tradisi Intelektual di kalangan Muhammadiyah dan NU

Category : Buku

Sama dengan buku karya Ahmad Zahro, buku karangan Rifyal Ka’bah ini merupakan hasil riset disertasi beliau pada pasca sarjana UI Jakarta tahun 1998. Bedanya, kalau karya Ahmad Zahro hanya fokus mengkritisi hasil keputusan Lajnah Bahtsul Masa’il NU, karya kedua ini, mengkritisi metode istinbath dan keputusan Lajnah Bahtsul Masa’il NU dan Lajnah Tarjih Muhammadiyah.
Mengawali kajian dalam buku ini, Rifyal menguraikan terlebih dahulu salah satu sumber hukum Islam, yakni Ijtihad. Ijtihad ini menurutnya adalah usaha sungguh-sungguh kalangan ahli hukum Islam yang bertolak dari maksud-maksud (maqashid) Qur’an dan Sunnah dengan menggunakan akal sehat dan dalil-dalil logika untuk sampai kepada suatu ketentuan hukum syar’i. Formulasi hukum melalui ijtihad ini menggunakan metodologi ushul fiqh yakni qiyas, istihsan, istishlah, ‘urf dan lain-lain.

Menurutnya, pada masa lampau ijtihad ini banyak dilakukan secara individu karena ulama pada saat itu memiliki kapasitas untuk melakukan ijtihad. Sementara pada masa modern ini, ijtihad dilakukan secara kolektif karena kelangkaan ulama atau ahli hukum tipe mujtahid. Usaha menetapkan hukum secara kolektif ini biasa disebut dengan ijtihad jama’i atau istinbath jama’i (perumusan hukum dilakukan secara kolektif).
Pelasaksanaan ijtihad jama’i seperti di atas, dilakukan oleh Lajnah Tarjih Muhammadiyah dan Lajnah Bahsul Masa’il Nahdlatul Ulama. Berkaitan dengan metode keputusan hukum Lajnah Tarjih Muhammadiyah, Rifyal menemukan ciri khas yang dipakai Lajnah Tarjih dalam memutuskan hukum, yaitu langsung mengacu kepada al-Qur’an dengan As-Sunnah maqbullah, jika tidak ditemukan pada keduanya, digunakan metode qiyas, sadd adz-dzari’ah, dan metode ushul fiqh lainnya, juga merujuk pada konstitusi, undang-undang dan peraturan yang berlaku di Indonesia. Lebih dari itu, menurut Rifyal, Lajnah tarjih juga menggunakan logika modern seperti induksi, deduksi, komparasi dan lain-lain.
Kenapa Lajnah Tarjih Muhammadiyah dalam memutuskan hukum langsung mengacu kepada al-Qur’an dan As-Sunnah?. Menurut Rifyal, Muhammadiyah dikenal dengan organisasi yang memiliki semangat pembaharuan (tajdid) yang menghendaki Islam yang sudah hilang dan hancur bagian-bagiannya akibat dari perjalanan sejarah, dicoba untuk dikembalikan sesuai dengan bentuknya yang asli seperti pertama kali diajarkan.
Lebih lanjut Rifyal menjelaskan bahwa Lajnah Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan keputusan, melakukan ijtihad jama’idengan menggunakan tiga jenis metode ijtihad; yaitu ijtihad bayani, ijtihad qiyasi dan ijtihad istislahi. 
Ijtihad bayani, adalah usaha untuk menjelaskan teks al-Qur’an dan As-Sunnah atau dalil-dalil yang digunakan dalam merumuskan hukum tertentu karena dalil-dalil tersebut mempunyai pengertian ganda (al-musytarak), mirip tapi tidak sama (mutasyabih), atau kontradiksi (ta’arudh). Dalam hal ini, Lajnah Tarjih harus memilih salah satu pengertian yang dianggapnya paling kuat dari berbagai pengertian yang dipahami oleh berbagai ahli hukum Islam mengenai teks atau dalil tertentu itu. Jadi Ijtihad bayani ini sebenarnya ijtihad tarjihi. Al-Qardhawi menyebutnya ijtihad intiqa’i, yaitu memilih satu pendapat dari beberapa pendapat terkuat pada warisan hukum Islam, yang penuh dengan fatwa dan keputusan hukum.
Ijtihad Qiyasi, ini sama dengan penggunaan metode qiyas, yakni menetapkan ketentuan hukum yang tidak dijelaskan oleh teks al-Qur’an dan As-Sunnah dengan ketentuan hukum yang dijelaskan oleh teks al-Qur’an dan As-Sunnah karena kesamaan illatnya. Contoh keputusan Lajnah Tarjih mengenai zakat hewan selain sapi/kerbau, kambing dan onta, nisab dan kadar zakatnya diqiyaskan kepada nisab dan kadar zakat sapi/kerbau, kambing dan onta. Begitu juga zakat tanaman seperti tebu, kayu, getah, kelapa, lada, cenggeh dan lain-lain, diqiyaskan dengan zakat gandum, beras, jagung, dan makanan pokok lainnya. Bila tanaman ini sudah mencapai 5 wasak (7,5 kwintal), maka wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak 5 atau 10 %.
Ijtihad Istislahi yaitu kecenderungan untuk memilih pendapat yang mementingkan kemaslahatan umum. Sebagai contoh, kebolehan menjual barang wakaf yang terancam lapuk atau rusak untuk dibelikan lagi barang baru atau barang lain yang bermanfaat. Contoh lain kebolehan mendatangi undangan api unggun bila ada manfaat untuk itu. Juga keputusan mengenai keharaman lotery.
Sementara di kalangan Lajnah Bahtsul Masa’il NU, dalam membuat keputusan hukum, menurut Rifyal, sedikit berbeda dengan cara Lajnah Tarjih Muhammadiyah. Lajnah Bahtsul Masa’il lebih mengutamakan bertaqlid pada pendapat para ulama yang tersebar dalam kitab-kitab muktabarah. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan kepada ulama sebagai orang yang saleh.
Disamping itu, NU hendak melestarikan ilmu agama yang berasal dari Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw. diterima melalui tradisi turun temurun sepanjang sejarah Islam. Nabi Muhammad Saw. menurunkan tradisi itu kepada para sahabat. Para sahabat menurunkannya kepada para tabi’in dan tabi’it tabi’in. Mereka menurunkannya kepada murid-murid mereka berikutnya. Gurunya membolehkan mengajarkan ilmu itu kepada orang lain setelah memberikan ijazah (kebolehan) kepada anak muridnya. Begitu seterusnya secara musalsal. Hal seperti inilah yang biasa dilakukan para kiyai di pondok pesantren hingga saat ini.
Jadi bagi warga NU mengkaji, memahami lalu mengajarkannya kepada para santri secara turun temurun merupakan bentuk penghormatan kepada para ulama atas prestasi mereka dalam menulis karya-karya monumental, sekaligus ikut melestarikan khazanah intelektual Islam tersebut.
Jadi menurut Rifyal, terdapat beberapa langkah yang ditempuh oleh Lajnah Bahtsul Masa’il NU dalam memutuskan suatu persoalan hukum; 1) setiap permasalahan yang diajukan, dicarikan jawabannya dari kitab-kitab madzhab fiqh tertentu, terutama Syafi’i, dari empat madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, 2) dalam hal lebih dari satu pendapat dalam madzhab, Lajnah melakukan taqrir jama’i (mengambil pendapat yang dipandang terkuat), 3) dalam hal tidak ditemukan jawaban sama sekali, Lajnah secara jama’i (bersama-sama) melakukan ilhaq al-masa’il bi nazha’iriha (menganalogikan hukum permasalahan tertentu dengan kasus serupa yang ada dalam buku tertentu), 4) dalam hal langkah ketiga di atas tidak mungkin dilakukan, Lajnah melakukan istinbath jama’i (merumuskan bersama) mengikuti metode yang digunakan dalam madzhab.
Keempat langkah di atas, disepakati oleh Lajnah dalam memutuskan suatu masalah. Namun dalam prakteknya, menurut penelusuran Rifyal, kebanyakan keputusan yang diambil dalam Muktamar XXIX (1994) kebanyakan menggunakan langkah pertama. Wallahu a’lam.
Surabaya, 23 Mei 2017

Leave a Reply