Inspirasi Pagi; Trik Mendidik Anak yang Efektif

Inspirasi Pagi; Trik Mendidik Anak yang Efektif

Category : Inspirasi Pagi

Kala itu, sang Kyai menguraikan sebuah tema tentang pendidikan anak. Anak disini, menurutnya, bisa jadi murid, mahasiswa, bawahan dan karyawan. Berdasarkan hasil bacaan dan penelusurannya dalam beberbagai referensi ditambah dengan pengalaman pribadinya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipraktekkan agar mendidik anak akan lebih efektif.
  Dari hasil kajiannya itu, sang Kyai menyimpulkan, paling tidak ada tiga metode jitu yang bisa dipakai, yaitu;

Pertama, Menjelaskan tujuan kenapa hal itu dilarang, kenapa hal itu harus dilakukan. Hal ini penting untuk dilakukan agar anak bisa paham dan mengerti kenapa hal ini disuruhlakukan kenapa hal itu dilaranglakukan. Metode ini mencontoh apa yang telah ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad Saw. 

Ketiaka menyuruhlakukan suatu kewajiban, ayat-ayat al-Qur’an selalu memberikan penjelasan kenapa sesuatu itu disuruhlakukan. Seperti halnya kewajiban sholat, “dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku� , “sesunggunya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar�. Begitu juga perintah zakat, “Keluarkanlah zakat dari sebagian hartamu untuk membersihkan diri dan mensucikanmu�. Sementara perintah puasa agar kita bertaqwa. Demikian juga perintah-perintah lainnya.

Begitu pun ayat-ayat terkait larangan untuk melakukan sesuatu, selalu disertai dengan alasan kenapa sesuatu itu harus dilarang. Tunjuk contoh; larangan minum khomar, karena akan merusak pikiran dan merusak tubuh, larangan membunuh karena akan menghilangkan nyawa, larangan membentak orang tua karena akan menyakiti dan seterusnya. 

Jadi ketika kita menyuruh anak kita, murid kita, mahasiswa kita, bawahan dan karyawan kita untuk melakukan sesuatu maka sertakanlah dengan alasannya kenapa sesuatu itu harus dilakukan oleh mereka. Begitu juga ketika melarang mereka untuk melakukan sesuatu, hendaklah disertai dengan alasannya juga. Jika hal demikian dilakukan, menurut sang Kyai, insya Allah anak-anak itu akan manut sami’na waatho’na untuk melakukan sesuatu dan untuk tidak melakukan sesuatu dengan senang hati.

Kedua, memberikan keteladanan, uswatun hasanah. Jika kita ingin diikuti omongan kita oleh anak kita, murid kita, bawahan kita, anak buah kita, maka kita harus memberikan contoh terlebih dahulu dihadapan mereka agar mereka mau mengikuti apa yang kita perintahkan dan apa yang kita larang. Ketika orang tua menyuruh anaknya untuk menegakkan ibadah sholat, maka orang tua harus terlebih dahulu menegakkan ibadah sholat. Jika orang tua melarang anak-anaknya untuk tidak maen Hp melulu, maka orang tua juga harus mengatur waktu untuk tidak selalu maen Hp. 

Begitu juga guru atau dosen, ketika memerintahkan anak muridnya rajin belajar, maka guru dan dosen harus tambah giat lagi belajar dan membacanya. Jika memerintahkan untuk banyak menulis, maka guru dan dosen juga harus terlebih dahulu banyak-banyak menulis, dan jika dosen memerintahkan mahasiswanya untuk rajin mengeluarkan infak, maka dosen yang bersangkutan harus terlebih dahulu melakukan infaq. Beegitu seterusnya. 

Sang Kyai menginformasikan bahwa dia telah terlebih dahulu melakukan “gerakan infaq koin seribuan� untuk kaum du’afa’ dan fakir miskin. Gerakan itu kemudian diperkenalkan kepada mahasiswa didiknya untuk dipraktekkan dalam setiap kali pertemuan, menyumbang secara suka rela seribu rupiah per mahasiswa. Gerakan ini, menurut sang Kyai, telah berjalan hingga saat ini. Gerakan ini tidak melihat jumlah rupiah yang disumbangkan, tapi rutinitas dan jumlah mahasiswa yang menyumbang semakin banyak akan terkumpul dana yang banyak sehingga kaum papa dapat benar-benar terbantu dengan hasil sumbangan tersebut.

Bagi kepala atau pimpinan suatu lembaga, juga harus memberi tauladan terlebih dahulu kepada karyawan dan bawahannya sebelum memberikan perintah dan larangan kepada mereka. Misalnya, semua karyawan harus disiplin masuk jam 08.30 wib, maka kepala atau pimpinan harus sudah sampai kantor sebelum jam itu kecuali ada hal-hal penting yang tidak bisa dihindari.

Begitulah baginda Nabi Muhammad Saw. dalam seluruh kehidupannya selalu memberikan contoh uswatun hasanah kepada para sahabat dan umat Islam ketika itu, sebelum mewajibkan dan melarang suatu perkara, sehingga beliau dikenang sebagai bapak “Uswatun Hasanahâ€�, bapak teladan umat. 

Ketiga, mendo’akan anak keturunan, murid, mahasiswa, bawahan dan karyawan. Memang suatu pekerjaan itu butuh kerja keras, namun demikian, kita menyadari bahwa kita hanyalah berusaha dan berikhtiar, Tuhanlah yang menentukan. Oleh karena itu, do’a merupakan sarana ampuh untuk mengegolkan upaya dan ikhtiar itu agar benar-benar dikabulkan oleh dzat Sang Maha Penerima do’a. 

Orang tua, guru, dosen, kepala dan pimpinan harus selalu mendo’akan orang-orang yang menjadi tanggungannya agar apa yang dicita-citakan, apa yang diinginan bisa tercapai. Nabiyullah Ibrahim As, tidak henti-hentinya mendo’akan anak-anak dan keturunannya agar menjadi pribadi yang selalu mentauhidkan Tuhan, pribadi yang tunduk dan patuh kepada perintah Tuhan dan pribadi yang selalu mendirikan sholat. Do’a-do’a tersebut telah diabadikan dalam beberapa ayat al-Qur’an diantaranya; Qs. al-Baqarah: 128 dan Qs. Ibrahim 35-41 yang artinya;

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Baqarah: 128)

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Q.S. Ibrahim : 35-41).

Dari ayat-ayat di atas nampak bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah lupa untuk mendo’akan dirinya dan keturunannya agar menjadi orang yang selalu dalam ketundukan dan kepatuhan kepada sang Khaliq dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. 

Nabi Ibrahim As telah memberi contoh dengan mendo’akan dirinya dan anak keturunannya, Nabi Muhammad Saw. telah tampil dihadapan masyarakatnya sebagai usmatun hasanah teladan yang baik bagi segenap umat Islam, kini giliran orang tua, guru, dosen, atasan, pimpinan untuk selalu mencobapraktekkan ketiga trik mendidik tersebut sehingga anak-anak, murid, mahasiswa, bawahan dan karyawan benar-benar berperilaku sesuai dengan aturan yang kita buat dan tentu saja sesuai dengan al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga dalam menjalani kehidupan sehari-sehari menjadi lebih berkah untuk dunia dan akhirat kelak. Aamiin. Wallahu a’lam.

Surabaya, 15 Juli 2017


Leave a Reply