Menikmati Negeri di Atas Awan (Catatan perjalanan monitoring KKN PAR STIT)

Menikmati Negeri di Atas Awan (Catatan perjalanan monitoring KKN PAR STIT)

Category : Kronik


Saya pernah membaca sebuah tulisan yang menginformasikan adanya negeri di atas awan di Bima lengkap dengan fotonya. Saya pun menjadi penasaran dimana gerangan daerah tersebut berada. Rasa penasaran itu barangkali terjawab dengan kegiatan rombongan monitoring KKN PAR STIT Sunan Giri Bima yang berlokasi di Desa Kaboro, Kuta dan Sambori pada Kamis, 6 Juli 2017 kemarin.

Rombongan start dari Bima pada pukul 10.00 wita dengan mengendarai dua buah mobil mini bus. Mobil pertama dikemudikan oleh Kaprodi PAI dan mobil kedua dibawa oleh saya sendiri. Perjalanan menuju Lambitu ini merupakan pengalaman pertama bagi saya sehingga ketika dalam menempuh perjalanan yang berkelok-kelok itu, ada sedikit kekhawatiran dalam diri saya, jangan-jangan saya tidak bisa menyetirnya dengann baik. Ada dua atau tiga kali belokan tajam disertai jalan terjal yang hampir membuyarkan keseimbangan saya memegang kemudi, namun alhamdulillah situasi itu bisan cepat teratasi sehingga perjalanan sampai di tempat tujuan dengan selamat.
Posko pertama yang didatangi adalah Posko Desa Kaboro. Ketika sampai disana, mahasiswa KKN PAR tidak berada di tempat, menurut tetangga rumah, mereka sedang ada kegiatan di masjid. Letak masjid dari posko jaraknya lumayan jauh dan sudah terlewati oleh kami sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan dulu perjalanan, nanti sepulang dari posko Kuta dan Sambori akan diampiri.
Perjalan pun dilanjutkan menuju Posko Sambori. Ketika memasuki desa sambori, hawa dingin mulai terasa. Ada tanda-tanda akan turun hujan dan awan pun datang menyelimuti desa Sambori sedikit demi sedikit sehingga suasana desa Sambori dipenuhi oleh kabut. Suasana seperti ini, membuat saya sedikit khawatir karena takut terjadi apa-apa. Sementara menurut warga setempat, keaadaan sepertin itu sudah biasa terjadi di desa Sambori sepanjang tahunnya sehingga mereka terbiasa dengan suasana desa Sambori yang dipenuhi oleh kabut.
Sebelum masuk ke posko KKN PAR, saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan pemuda desa Sambori yang kebetulan berpapasan dengan kami di depan posko KKN PAR. Setelah basa basi sebentar, saya pun meminta tanggapannya mengenai KKN PAR mahasiswa STIT kali ini. Dia menjelaskan bahwa Desa Sambori tidak menerima mahasiswa KKN selama empat tahun. Hal ini dilakukan karena mahasiswa yang pernah melakukan KKN dahulu, menurut warga setempat, telah melakukan beberapa pelanggaran etis sehingga pihak desa memutuskan untuk menolak setiap mahasiswa KKN yang datang. Saya tidak menanyakan lebih jauh kenapa mahasiswa KKN PAR STIT diterima pada tahun ini. Saya justru meminta pandangannya mengenai perjalanan kegiatan mahasiswa KKN PAR STIT saat ini. Menurutnya, untuk sementara ini, keberadaan mereka cukup memuaskan dengan beberapa agenda kegiatan yang dilakukan selama bulan ramadhan. Akan dilihat bagaimana mereka menuntaskan agenda kegiatan yang sudah direncanakan sebelumnya. Semoga mereka mengakhirinya dengan baik dan tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma karena hal itu akan merusak citra Desa Sambori, merusak citra diri yang bersangkutan dan merusak citra kampus. Begitu pungkasnya.
Kami pun segera menaiki tangga posko satu demi satu sembari mengucapkan salam kepada ahlibait. Dalam pertemuan dengan mahasiswa KKN PAR ini, saya sengaja menekankan adanya suatu yang berbeda dengan KKN mahasiswa Perguruan Tinggi lain. Saya melihat di dinding, ada beberapa rencana kerja yang sudah dilakukan dan yang akan dilakukan, diantaranya pembuatan papan nama jalan dan nama gang.  Saya katakan bahwa pembuatan papan nama seperti ini sudah menjadi hal yang lumrah dilakukan oleh mahasiswa KKN setiap tahunnya. Mahasiswa KKN PAR STIT harus membuat sesuatu yang baru dan unik sehingga selalu dikenang oleh warga Desa Kaboro.
Saya usulkan agar nama-nama jalan dan gang yang ditulis di papan itu menggunakan aksara bilingual dua aksara, aksara latin dan aksara Bima. Menurut saya, penggunaan aksara Bima pada papan nama jalan dan nama gang merupakan suatu hal yang sangat luar biasa karena belum ada satu desa pun di Bima ini yang melakukan hal itu. Apalagi Sambori merupakan desa  distinasi Wisata dengan sejarah dan keunikan budaya masyarakatnya. Disana terdapat uma Lengge yang melegenda yang merupakan rumah tradisional masyarakat Bima yang selalu dijadikan tempat penelitian para sejarawan. Apalagi beberapa postingan medsos, bulan-bulan ini akan ada puluhan mahasiswa UI yang akan melakukan penelitian mengenai uma Lengge yang berlokasi di Desa Kaboro, Desa Mbawa Donggo dan Desa Maria Wawo.
Ketika mereka ke Sambori, setidaknya mereka akan melihat nama-nama jalan dan nama-nama gang yang ditulis oleh mahasiswa KKN PAR STIT. Upaya tersebut akan memberikan informasi gratis kepada warga dan pengunjung bahwa Sambori khususnya dan Bima Mbojo umumnya disamping memiliki uma Lengge juga memiliki aksara tersendiri yakni aksara Bima Mbojo. Barangkali dengan melihat itu, akan menarik perhatian sejarawan muda UI tersebut untuk meneliti juga aksara Bima Mbojo, sehingga nantinya aksara Bima Mbojo akan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia.
Ketika hendak pulang dari desa Sambori pukul 12.30 wita, suasana desa benar-benar sudah terselimuti oleh gumpalan awan putih sehingga membuat keadaan semakin dingin serta pandangan mata semakin kabur. Kami harus berjalan secara perlahan-lahan agar terhindar dari kecelakaan lalu lintas atau masuk jurang. Setelah keluar dari perbatasan desa Sambori, barulah sinar cahaya siang terpancar sedikit demi sedikit yang disertai dengan gemeritik hujan.
Perjalanan dilanjutkan ke desa Kuta yang berlokasi di sebelahan utara satu kilometer dari desa Sambori. Kepada mahasiswa KKN PAR STIT desa Kuta ini juga saya menganjurkan agar penulisan papan nama menggunakan aksara latin dan aksara Bima. Saya hanya membutuhkan sepuluh sampai lima belas menit untuk mengajari mereka aksara Bima. Mudah-mudahan dengan upaya ini memberi nilai positif akan keberadaan mahasiswa KKN PAR STIT dimata masyarakat desa Kuta khususnya dan masyarakat Bima pada umumnya.
Terakhir ketika pulang, tidak lupa kami mampir di posko desa Kaboro. Kelihatannya, kedatangan kami sudah dinanti-nanti oleh mahasiswa KKN PAR STIT. Itu terlihat dari sumringahnya wajah-wajah mereka walau mereka mengaku belum mandi, bukan karena tidak ada air tapi dinginnya suasana pegunungan. Walau demikian, semua terlihat ceria dan anggun, bukan Anggun C. Sasmi lho hahaha.
Itulah beberapa kisah perjalanan yang bisa saya himpun yang tentu saja teman-teman rombongan yang lain memiliki perasaan dan pengalaman yang berbeda dengan yang saya rasa.
Surabaya, 09 Juli 2017  


Leave a Reply