Puasa Umat terdahulu

Puasa Umat terdahulu

Category : Inspirasi Pagi

Kali ini sang Kyai membahas masalah yang berhubungan dengan puasa umat terdahulu yang diterangkan dalam Qs. al-Baqarah: 183. Sang Kyai mempertanyakan siapa saja umat terdahulu yang dimaksud oleh ayat tersebut dan bagaimana mereka melaksanakan puasanya. Apakah mereka puasa ramadhan seperti kita atau pada waktu-waktu tertentu saja?.

Menjawab persoalan tersebut, sang Kyai yang ahli sejarah ini menjawabnya sendiri dengan menguraikan apa gerangan yang dimaksud dengan puasa umat terdahulu tersebut.Menurutnya, puasa umat terdahulu bukan pada bulan ramadhan tapi waktunya berfariasi antara Nabi yang satu dengan Nabi yang lainnya. Adapun manusia pertama yang menjalankan ibdah puasa adalah Nabi Adam As. 

Puasa pertama yang beliau lakukan adalah puasa pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram dalam rangka bersyukur karena dipertemukan kembali dengan siti Hawa di jabal nur padang Arafah setelah mereka berdua dikeluarkan dari surga. Konon Nabi Adam As diturunkan di Sri Langka sedangkan siti Hawa di padang Arafah.
Puasa yang kedua yang dilakukan Nabi Adam adalah puasa tiga hari setiap tanggal 13, 14 dan 15 bulan Qamariah sepanjang tahun. Puasa ini dikenal dengan puasa Ayyamul Bidh, puasa hari-hari putih. Dinamakan demikian karena pada tanggal tersebut rembulan menampakkan sinar cerahnya yang terang benderang menerangi bumi sehingga semuanya terlihat putih.
Ada juga riwayat yang menerangkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi seluruh tubuhnya terbakar oleh matahari sehingga menjadi hitam/gosong. Kemudian Allah memberikan wahyu kepadanya untuk berpuasa selama tiga hari, tanggal 13, 14, 15. Ketika berpuasa pada hari pertama, sepertiga badannya menjadi putih. Puasa hari kedua, sepertiganya lagi menjadi putih. Puasa hari ketiga, sepertiga sisanya menjadi putih.
Selanjutnya puasa Nabi Nuh As. ketika berbulan-bulan terkatung-katung berada di atas perahu besar pada saat banjir bandang menghadang. Nabi Nuh As beserta kaumnya diperintahkan untuk menjalankan ibadah puasa dalam rangka memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah sang Khaliq.
Nabi Ibrahim As. bapak bangsa Arab dan Yahudi, juga berpuasa ketika Raja Namruz memerintahkan pengumpulan kayu bakar yang menggunung tinggi. Ketika dilemparkan ke dalam api, beliau dalam keadaan berpuasa.  Atas kuasa dan perintah Allah Swt., api menjadi dingin sehingga beliau selamat.
Nabi Daud As. juga tidak ketinggalan melanjutkan tradisi puasa dengan cara sehari puasa, sehari berbuka. Nabi Daud As. berkata, “Adapun hari yang aku berpuasa di dalamnya adalah untuk mengingat kaum fakir, sedangkan hari yang aku berbuka untuk mensyukuri nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah Swt.â€� Perkataan Nabi Daud As itu ditegaskan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Sebaik-baiknya puasa adalah puasa Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka.â€� (HR. Muslim).
Nabi Yunus As. berpuasa ketika berada dalam ikan paus. Nabi Ya’kub As. berpuasa meminta keselamatan anak-anaknya. Nabi Yusuf berpuasa ketika berada dalam penjara ketika difitnah berbuat seerong dengan Zulaikha.
Nabi Musa As. dan kaumnya melakukan puasa pada 10 muharram untuk mensyukuri keselamatannya dari kejaran Fir’aun di laut merah. Ketika kaumnya belum yakin akan keberadaan Tuhan Nabi Musa As, mereka meminta agar Nabi Musa memberikan suatu tanda bukti tentang Tuhannya. Nabi Musa As pun melakukan puasa selama 40 hari sambil bermunajat kepada Tuhannya, sampai akhirnya, Tuhan mengabulkan permintaan Nabi Musa As dengan memberikan kitab Taurat sebagai pedoman hidup bagi umatnya.
Al-Qurthubi, dalam kitab Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, menyebutkan bahwa Allah Swt . telah mewajibkan puasa kepada Yahudi selama 40 hari, kemudian umat Nabi Isa selama 50 hari. Tetapi kemudian mereka merubah waktunya sesuai keinginan mereka. Jika bertepatan dengan musim panas mereka menundanya hingga datang musim bunga. Hal itu mereka lakukan demi mencari kemudahan dalam beribadah. Itulah yang disebut nasi’ seperti disebutkan dalam Qs. At-Taubah: 37,

“Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah…�
Disamping puasa tidak makan, ada juga perintah puasa bicara. Ini dialami oleh Maryam, ibu Nabi Isa As. dan Nabi Zakariya As. Maryam tidak mau berbicara ketika ditanya oleh orang-orang mengenai kelahiran Nabi Isa As. begitu juga Nabi Zakariya tidak berbicara selama tiga hari tiga malam ketika bermunajat keharibaan Tuhan di depan Mihrab dalam rangka meminta keturunan yang akhirnya dikabulkan oleh Allah Swt. dengan kehadiran Nabi Yahya As.
Sang Kyai menginformasikan bahwa Mihrab Zakariya itu masih ada di masjid al-Aqsha yang lama sampai saat ini bukan di masjid al-Aqsha yang baru. Masjid al-Aqsha yang lama, jelasnya, sudah dibangun sejak Nabi Zakariya karena mereka berdo’a di situ, Zakariya, Maryam, dan Yahya. Sedangkan pendirian masjid al-Aqsha yang baru dilakukan pada masa pemerintahan bani Umayyah.
Bagi umat Muhammad Saw. puasa-puasa yang dilakukan oleh umat terdahulu itu dijadikan sebagai puasa sunnah. Seperti puasa Ayyamul Bidh tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Qamariah yang dilakaukan oleh Nabi Adam As., puasa Nabi Dawud As. dan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram yang dilakukan oleh orang Yahudi.
Terkait dengan puasa Asyura ini, Nabi Muhammad Saw. hanya melakukannya sekali saja, keburu beliau meninggal dunia. Oleh karena itu, ketika sahabat bertanya mengenai hal ini karena sama dengan ritual ibadah puasa yang dilakukan oleh orang Yahudi, Nabi Saw. pun menganjurkan untuk menambahkannya pada tanggal 9 Muharram sebagai pembeda dengan orang Yahudi. Wallau a’lam.

Surabaya, 29 Mei 2017


Leave a Reply