Suka Duka KKN PAR di Kec. Lambitu

Suka Duka KKN PAR di Kec. Lambitu

Category : Kronik

KKN PAR STIT tahun ini berlokasi di dua kecamatan, yakni kecamatan Ambalawi dan kecamatan Lambitu. KKN PAR kecamatan Ambalawi mengambil posisi di desa Nipa sementara di kecamatan Lambitu bertempat di desa Kaboro, Kuta dan Sambori dengan jumlah mahasiswa perdesa sepuluh sampai lima belas orang.
Ketika tim monitoring melakukan turba turun ke bawah minggu kemaren, terdapat cerita suka

duka yang dialami oleh mahasiswa KKN PAR. Di desa Sambori dan Kuta misalnya, dimana cuacanya begitu dingin walau sudah menunjukkan pukul 12.00 wita. Malah pada jam-jam segitu seluruh desa diselimuti awan. Tentu saja kondisi seperti ini menyebabkan rasa dingin yang menyengat. Akibatnya bisa ditebak, banyak kawan-kawan mahasiswa yang tidak mandi berhari-hari karena takut kedinginan. Sudah cuacanya dingin, airnya pun dingin banget. Saya kalau di posisi seperti itu juga, tidak akan mandi kecuali pakai air hangat. Hehehe!

Pada malam hari ketika kami berkunjung, ada kejadian yang mengejutkan penghuni posko Sambori. Malam-malam entah jam berapa, posko didatangi oleh tamu yang tidak diundang yang memiliki niat tidak baik. Mereka membolongi papan rumah di bawah kolong untuk mengambil sesuatu yang berharga, entah itu Hp atau lainnya. Kejadian ini membuat mahasiswi KKN PAR merasa ketakutan. Kejadian  ini akhirnya dilaporkan kepada ketua RT setempat untuk menghimbau warga agar tidak berbuat macam-macam terhadap mahasiswa KKN PAR.
Kejadian serupa juga terjadi di desa Kuta dengan modus yang berbeda. Diceritakan ada seorang pemuda Kuta yang ditengarai ada kelainan alias “wara sa tani na� pada malam hari duduk diantara pepohonan pisang yang terdapat dibagian atas posko, seakan-akan dia mengintip ke bawah posko. Entah apa yang diinginkan oleh dia, mahasiswi menduga bahwa dia ada niat tidak baek terhadap mahasiswi KKN PAR sehingga membuat mereka merasa ketakutan. Untuk itu, disarankan agar hati-hati dan segera lapor ketua RT setempat.
Semoga cobaan dan rintangan tersebut dapat dilalui dan dapat dicarikan jalan keluarnya sehingga tidak terulang lagi kejadian yang sama. Aamiin.      
Sementara mahasiswa KKN PAR yang berlokasi di desa Kaboro terlihat menikmati keberadaan mereka disana. Hal ini terlihat dari cerah cerianya wajah-wajah mereka. Atau saya kurang informasi kali ya tentang cerita susah sedihnya mereka. Soalnya, ketika kami singgah disana, saya tidak mendengar curhatan kesedihan mereka, maka saya anggap mereka enjoy saja menjalani KKN PAR yang tinggal beberapa hari lagi.
Oh ya saya lupa, di desa Kaboro, ternyata kesulitan sinyal, jika ingin berkomunikasi, harus mendatangi ujung timur desa karena disanalah si sinyal menanti. Hal ini saya ketahui karena ketika kami hendak menuju Kuta dan melewati ujung desa Kaboro, banyak anak muda nongkrong disana sambil telpon dan main Hp. Ya untunglah ada sinyal dari pada tidak ada sama sekali, kan ribet jadinya. 
Memang masa KKN memiliki banyak cerita yang kalau ditulis tidak akan habis-habisnya. Ada cerita haru bahagia ada cerita sediah. Cerita bahagia karena mendapatkan keluarga baru yang begitu perhatian dengan kita, atau yang awalnya jomblo mendapatkan dambaan hati. Ceerita duka sedih barangkali tidak terbiasa jauh dari keluarga sehingga rasa rindunya tidak tertahankan membuat dia sedih dan gundah gulana, atau tiba-tiba jatuh sakit karena cuaca yang tidak bersahabat dan hal-hal lainnya yang membuat susah dan gelisah. Anggap saja itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dilewati yang menjadi kenangan yang tidak terlupakan, unforgetable memory atau sweet memory.
Tentu saja banyak pengalaman yang dirasakan selama menjalankan KKN PAR, terutama menempa diri untuk membentuk karakter individu sehingga menjadi orang yang kuat, tahan uji dan berpengalaman dalam berorganisasi sehingga kedepan dapat berkiprah di masyarakatnya .
Wallahu a’lam
Surabaya, 12 Juli 2017

Leave a Reply