Uma Lengge; Rumah Tradisional Dou Mbojo Bima

Uma Lengge; Rumah Tradisional Dou Mbojo Bima

Category : Kronik

Sebagaimana dimaklumi bahwa masyarakat Mbojo Bima memiliki rumah tradisional yang diberi nama “Uma Lengge”.  Uma Lengge ini masih dapat dilihat di beberapa desa, namun sudah tidak digunakan lagi sebagai rumah kediaman sebagaimana dulu pernah terjadi. Saat ini masyarakat Mbojo Bima meninggalkan rumah-rumah tradisional mereka beralih ke rumah panggung dan rumah batu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan dan perubahan jaman. Ditambah lagi

ukuran uma Lengge yang terbilang sempit, tidak mampu menampung jumlah keluarga dalam satu rumah yang lumayan banyak.

Uma Lengge yang merupakan tempat kediaman masyarakat tradisional Mbojo Bima sudah ada sejak ratusan tahun silam bahkan sebelum munculnya jaman kerajaan . Jika diperhatikan, uma Lengge ini terdiri dari tiga lantai, lantai pertama berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu dan upacara adat, lantai kedua berfungi sebagai tempat tidur sekaligus dapur dan lantai ketiga berfungsi sebagai penyimpanan hasil bumi, seperti padi, jagung, dan lainnya.
Saat ini, uma Lengge, ada yang dialihfungsikan oleh masyarakat setempat sebagai penyimpanan padi dan ada jugayang dijadikan sebagai cagar budaya Mbojo Bima oleh pemerintah.
Uma Lengge Mbojo Bima ini, dapat dijumpai di beberapa lokasi di wilayah Bima, diantaranya di desa Mbawa Donggo Di, di desa Sambori Donggo Ele dan di desa Maria Wawo. Menurut beberapa informasi, uma Lengge juga dapat ditemukan di beberapa desa lainnya. Namun yang sering menjadi rujukan dan selalu dikunjungi oleh para peneliti dan pemerhati budaya adalah di ketiga desa tersebut.
Akhir-akhir ini, situs uma Lengge menjadi perbincangan hangat di medsos karena adanya Ikatan Mahasiswa Tehnik Arsitektur Universitas Indonesia berjumlah 28 orang yang menaruh minat hendak melakukan penelitian terhadap keunikan desain arsitektur uma Lengge Mbojo Bima. Menurut bang Alan Malingi, budayawan Bima, sebagaimana dilansir dalam www.bimasumbawa.com, rencananya mereka akan melakukan penelitian selama satu bulan yang dimulai dari tanggal 11 Juli 2017 kemarin.

Bagi saya pribadi, ketiga situs tersebut, baru satu yang sudah saya datangi dan saya lihat, yaitu situs uma Lengge yang berada di desa Mbawa Donggo, ketika mendampingi mahasiswa yang melakukan kegiatan pra KKN PAR beberapa tahun silam, bersama pak Irwan Supriadin dan pak Syagif. Uma Lengge ini terletak di puncak sebuah bukit di desa Mbawa yang dipergunakan sebagai tempat berkumpul dan berdo’anya masyarakat yang dinamai dengan do’a Raju. Aba Du Wahid dalam penelitiannya menegaskan bahwa kegiatan do’a Raju ini adalah untuk sinkretisasi budaya atau memadukan budaya Islam, Kristen dan Parafu. Untuk lebih jelasnya mengenai gambaran Raju ini, bisa ditelusuri dalam tulisan di www.stitsunangiribima.ac.id, dengan judul; ISLAM di MBAWA, Religiusitas dan Konflik Kebudayaan Orang Bima Majemuk di Pegunungan.

Sejauh yang saya perhatikan ketika itu, uma Lengge di Mbawa hanya berjumlah satu saja dan itu menjadi ikon kehidupan masyarakat Mbawa, karena disanalah kehidupan masyarakat dimulai. Sebelum mereka melakukan penanaman padi, mereka terlebih dahulu melakukan ritual do’a Raju dalam rangka meminta kepada sang Penguasa Alam agar tanaman yang akan ditanam nanti bisa tumbuh dengan subur, jauh dari hama dan mendapatkan hasil yang memuaskan untuk keberlangsungan kehidupan setahun ke depan.
Untuk situs uma Lengge yang berada di desa Maria Wawo, saya belum sempat mendatanginya sehingga saya tidak bisa bercerita banyak tentang uma Lengge ini. Berharap suatu saat saya bisa mengunjunginya sehingga saya bisa mengorek-ngorek informasi mengenai keberadaan uma Lengge tersebut. Atau barangkali sahabat Neon Bona dan Zhuna La Bona bisa sharing informasi mengenai keberadaan uma Lengge Maria Wawo tersebut.
Walaupun belum pernah kesana, saya bisa menikmati keindahan uma Lengge melalui hasil jepretan selfi yang dibagikan oleh sahabat-sahabat, kawan-kawan, dan kerabatan yang pernah berkunjung ke sana dan itu terlihat indah dan unik karena kita akan terbawa dan terbayang-bayang akan kehidupan nenek moyang kita jaman dahulu.
Situs uma Lengge yang ketiga yang berada di desa Sambori, lagi-lagi saya belum sempat melihatnya secara langsung karena pada saat saya beranjangsana ke Sambori, kebetulan seluruh wilayah desa sedang dilingkupi oleh kabut dengan jarak pandang satu sampai dua meter sehingga tidak banyak aktifitas yang bisa dilakukan. Sayang sekali, seharusnya saat itu adalah waktu yang tepat untuk mengunjungi uma Lengge Sambori, mengharap suatu waktu bisa mendatanginya lagi.
Walaupun tidak sempat melihatnya secara langsung, namun saya mendapatkan informasi dari warga sekitar bahwa uma Lengge Sambori yang asli hanya tersisa satu buah saja, sementara lainnya dibuat belakangan hari.  Saya coba mengorek-ngorek kenapa warga Sambori meninggalkan uma Lengge. Dia menjelaskan bahwa warga Sambori sama dengan warga-warga lainnya di daerah Bima yang mengikuti tren perubahan jaman. Artinya, walaupun kehidupannya jauh dari pusat kota, tetapi warga Sambori tidak ketinggalan informasi mengenai modernitas. Apalagi akses jalan menuju kesana sudah diaspal hotmik semuanya sehingga lalu lintas transportasi menuju Sambori berjalan dengan lancar.
Saya kira tepat apa yang dilakukan oleh mahasiswa UI tersebut karena mereka memang sudah belajar khusus mengenai arsitektur bangunan sehingga nantinya mereka dapat menjelaskannya dari berbagai sudut pandang. Mengharap dengan kehadiran mereka, situs uma Lengge tambah dikenal oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia, apalagi menurut informasi bang Alan Malingi, yang diberi tugas mendampingi mahasiswa UI tersebut, mengatakan bahwa hasil penelitian mereka ini, rencananya akan dipamerkan di Museum Nasional dan beberapa event untuk mendaptkan supporting program bagi revitalisasi uma Lengge sebagai salah satu warisan arsitektur tradisional dana Mbojo Bima. Wallahu a’lam.
Surabaya, 18 Juli 2018 

Leave a Reply