Kesultanan Bima: Masa pra Islam sampai Awal kemerdekaan (1)

Kesultanan Bima: Masa pra Islam sampai Awal kemerdekaan (1)

Buku ini merupakan hasil penelitian gabungan antara Tim kemenag Pusat dengan tim lokal Bima yang terdiri dari 5 orang. Dua orang tim pusat, bapak Tawalinudin Haris dan ibu Retno Kartini. Tiga orang lokal Bima, Dewi Ratna Muchlisah, saya sendiri dan Munawar Iwan.

Terwujudnya penelitian ini bermula ketika tim Puslitbang Lektur Kemenag RI menawarkan program penulisan sejarah kerajaan dan kesultanan lokal nusantara. Dari tahun 2009-2013 telah dikaji dan ditulis 15 sejarah kerajaan dan kesultanan lokal. Pada tahun 2015, Bima dipilih sebagai lokus penelitian karena Bima dianggap sebagai daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan pernah menjadi kesultanan Islam. Maka hal ini menarik ditelusur lebih lanjut untuk mengungkap bagaimana sejarah keberlangsunganya. Penelitian berlangsung selama periode tahun 2015 dan hasilnya baru bisa terbit tahun 2017.

Secara umum, buku ini membahasa lima hal, Bima sebelum Islam, Bima sebagai pusat penyebaran Islam, Bima sebagai pusat kekuasaan, dan terakhir kesultanan Bima dan masa Kolonial. Dalam penyusunannya, tim membagi tugas, beberapa bagian bab disusun oleh tim Kemenag pusat dan beberapa bagian bab lainnya disusun oleh tim lokal Bima.

Menurut penulis, Bima pra Islam belum bisa dijelajah atau digambarkan secara detail karena minimnya data sebagai sumber rujukan. Data tentang Bima mulai ada ketika Belanda menjamah Bima pada abad ke-17. Namun demikian, terdapat beberapa peninggalan arkeologis pra sejarah maupun data etnografis yang bisa dijadikan sandaran untuk menggambarkan Bima pada masa pra Islam.

Di pantai Wera, terdapat gua yang diperkirakan ditempati oleh manusia pra sejarah, sayang belum dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan jejak-jejak kehidupan manusia di gua itu. Mudah-mudahan suatu saat ini, ada ahli arkeologi yang dapat mengungkap jejak kehidupan di gua tersebut.

Di desa Mbawa Donggo, terdapat peninggalan pra sejarah berupa menhir (batu yang ditata berbentuk tugu dan berdiri tegak), beberapa buah lesung batu di Rora. Menhir memberi gambaran kehidupan masa bercocok tanam dan budaya neolitik. Lesung batu mengisyaratkan budaya megalitik dari masa bercocok tanam atau masa perundagian. Pada masa itu, manusia diperkirakan sudah menetap pada satu perkampungan di bawah seorang pemimpin. Pada masa itu juga, manusia sudah mengenal cara penguburan jenazah baik dengan wadah maupun tidak. Penguburan tanpa wadah ditemukan di Kalepe dan dengan wadah ditemukan di doro Rompu, doro Sakerah, dan Wadu Nocu pada tahun 1983. (hal. 15-16).

Zollinger pernah mengunjungi Donggo pada tahun 1847 sebagaimana yang ditulis dalam artikelnya “A Visit to the Mountainers Do Dongo in The Country of Bima”. Ia menyebut Dou Donggo dengan Do Dongo yang artinya orang pegunungan. Yang menarik dari laporan perjalanan Zollinger tersebut adalah mengenai tata cara penguburan orang Donggo. Mereka menguburkan jenazah dalam lubang dalam posisi berdiri disertai dengan pakaian lengkap seperti cincin, gelang, kalung, bokor, dan tutup kepala. Kuburan ini kemudian ditutup dengan plat batu. Penguburan seperti ini sama persis dengan penguburan tanpa wadah yang ditemukan di Kalepe.

Di desa Padende terdapat juga kuburan yang konon ditengarai sebagai kuburan Gajah Mada. Kuburan itu digali dengan kedalaman setinggi orang dewasa, dan di atasnya ditutup dengan batu plat yang rata dengan tanah, ini mirip dengan gambaran yang dijelaskan oleh Zollinger di atas. Ada juga cara lain penguburan orang Donggo dengan memasukkan mayat ke dalam batang pohon lontar. (hal. 20).

Di pulau Sangeang Api juga pernah ditemukan 5 buah nekara makalamau perunggu yang besar dan indah karena kaya dengan ornamen. Menurut para ahli, nekara ini termasuk nekara yang paling bagus ditemukan di Indonesia. Nekara makalamau ini menurut Van Heekeren kalau dilihat dari lukisan yang nampak, mengingatkan pada relief Tionghoa dari zaman Han. Bernet Kempers menghubungkan asal usul nekara itu dengan Indo-China bagian utara. Jika asumsi itu dapat dibenarkan, maka dapat disimpulkan bahwa pada masa itu, dou Mbojo sudah mengadakan hubungan dagang dengan orang luar wilayah di Asia Tenggara dan nekara tersebut adalah komoditi yang diperdagangkan. (hal. 17).

Di samping data peninggalan arkeologis pra sejarah dan data etnografis di atas, terdapat juga data teks yang terkenal dengan BO yang memuat cerita asal muasal kerajaan Bima. Banyak hal yang diurai dalam BO yang terkait dengan kerajaan dan kesultanan Bima masa lampau. Ada beberapa kajian yang telah mengungkap hal ini baik ditulis oleh sejarawan luar seperti Tome Pires, H. Zollinger, Raffles, J. Noordyn, Bram Morris, Henri Chamber Loir, dan lain-lain, maupun sejarawan lokal Bima sendiri seperti Ahmad Amin, Abdullah Tayeb, Hilir Ismail, Maryam R. Salahuddin, Alan Malingi dan masih banyak lagi penulis-penulis sejarah Bima lain yang cukup produktif. Kita dapat merujuk pada karya mereka untuk memperkaya khazanah tentang sejarah Bima.Wallahu a’lam

Bersambung

Dara Bima, 28 Mei 2018


Leave a Reply