Kesultanan Bima: Masa pra Islam sampai Awal kemerdekaan (5)

Kesultanan Bima: Masa pra Islam sampai Awal kemerdekaan (5)

Category : Reviu Buku

“Pengaruh Budaya Kolonial di Bima”

Kalau merujuk penjelasan Zollinger (1850) bahwa secara de facto, kehadiran kolonial Belanda di Bima hampir lebih kurang 2,5 abad jika dihitung mulai ditempatkannya Willem Eykman sebagai fektor pada tahun 1687 sampai dengan penempatan Ch.S.A. Muller sebagai civil gezakhebar pada tahun 1904.

Kehadiran Belanda yang begitu lama memiliki dampak yang cukup signifikan bagi daerah Bima terutama dari segi politik, sosial budaya dan ekonomi. Orang-orang Eropa yang mukim di Bima baik sebagai pejabat Kompeni, pedagang maupun misionaris mempraktekkan budaya asal mereka di Bima sehingga terjadi akulturasi budaya yang membawa nilai positif dan negatif.

Dalam bidang politik misalnya, pemerintah Kompeni Belanda memperkenalkan system birokrasi modern, meskipun birokrasi tradisional tetap berjalan sebagaimana daerah-daerah lainnya di Indonesia (hal. 193). Sebagaimana tertera dalam sumber lokal maupun sumber kompeni bahwa Kompeni Belanda terlalu jauh mencampuri urusan kesultanan Bima sampai-sampai sultan yang dipilih disamping atas persetujuan Kompeni Belanda, juga harus dilantik dan disumpah oleh Gubernur VOC di Makassar (hal. 194). Menurut pelacakan Tawaniluddin Haris, walaupun ia belum yakin dengan informasi tersebut, terdapat dua kali pelantikan dan penyumpahan sultan secara adat tanah Mbojo di Bima yang harus disyahkan lagi oleh pemerintahan Kompeni Belanda di Makassar.

Dalam bidang pemerintahan, Kompeni memperkenalkan jabatan-jabatan baru dalam birokrasi modern seperti residen, assisten residen, controleur, aspirant controleur, gezakheber, dan lain-lain. Jabatan-jabatan ini hanya dipegang oleh orang Eropa yang bertugas untuk mengawasi dan mengontrol jalannya birokrasi kesultanan yang secara langsung berhubungan dengan masyarakat. Jabatan residen bahkan setelah Indonesia merdeka masih dipertahankan walaupun pada akhirnya diganti namanya dengan pembantu Gubernur.

Dalam bidang ekonomi, pemerintahan Kolonial memperkenalkan system monopoli perdagangan dimana Kompeni Belanda memegang hak moonopoli atas komoditas tertentu yang lagi laris di pasar dunia seperti kayu supang, kayu celup, dan kulit penyu. Kompeni juga memperkenalkan system cukai atau pajak, termasuk pajak jalan pada masa pemerintahan sultan Ibrahim yang memicu munculnya reaksi dalam bentuk perlawanan bersenjata seperti di desa Ngali, Dena dan Kala.

Dalam bidang sosial budaya, pengaruh Kolonial terbukti dengan kehadiran agama nasrani di tanah Bima. Dalam agama nasrani, terdapat dua agama yang masing-masing disebarkan oleh negara yang berbeda. Agama Kristen Protestan terutama yang ordo Calvinis dibawa dan disebarkan oleh orang-orang Belanda, sementara agama Katolik dibawa dan disebarkan oleh orang-orang Portugis. hal. 195. Orang-orang Portugis ini terkenal dengan semboyan 3G gold, glorious dan gospel, emas sebagai lambang kekayaan, kejayaan dalam arti dapat menguasai daerah yang dijajah dari segi ekonomi, sosial budaya, politik, dan sebagainya, dan penyebarluasan agama nasrani kepada wilayah kekuasaannya.

Ahli Sejarah Goa, Noorduyn menginformasikan bahwa berdasarkan dokumen-dokumen Portugis yang tersimpan di Goa, pada bulan Desember 1616 terdapat dua pendeta Jesuit, Manuel Azevedo dan Manuel Ferreira berlayar menuju Makassar dan tiba disana pada tanggal 4 Januari 1617. Mereka memberikan pelayanan keagamaan kepada 120 orang Nasrani Portugis setempat. Setelah melihat tidak ada prospek untuk menyebarkan agama Nasrani disana, mereka berdua memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Bima sebagai tujuan akhir. Namun karena karena Azevedo mengalami gangguan kesehatan, maka Manuel Ferriera lah yang berangkat menuju Bima. Sesampai di Bima, dia beraudiensi dengan raja Bima yang waktu itu belum memeluk agama Islam. Dalam audiensi itu, raja Bima tidak menaruh perhatian dengan penjelasan pendeta, bahkan sang raja menolak untuk masuk agama Islam maupun agama Nasrani. Karena misinya tidak berhasil, maka sang pedeta pulang menuju Malaka dengan kapal Portugis. hal. 196.

Memperhatikan penjelasan di atas, maka tergambar bahwa sebelum orang-orang Belanda penganut agama Kristen Calvinis hadir di Bima, telah didahului oleh pendeta Portugis yang berupaya untuk mendapatkan simpati sang Raja agar diijinkan untuk menyebar agama nasrani di Bima, namun upaya tersebut ditolak mentah-mentah oleh sang Raja.

Pada tahun 1675 M, VOC mendirikan posnya (loji) di Bima tempat mereka bermukim dan menyimpan barang-barang dagangannya sehingga sejak itu pula Belanda secara resmi hadir di Bima. Kawasan tersebut lama kelamaan ditempati oleh orang-orang Belanda sehingga berkembang menjadi kawasan kampung Walanda atau kampung Benteng saat ini. Menurut Zollinger (1847) kampung Walanda ini dihuni oleh 14 keluarga Indo-Eropa berlokasi di tepi pantai dengan jalan-jalan yang lebar dan teratur dengan sejumlah rumah kayu yang besar-besar. Di sebelah utaranya terdapat kampung Bugis dan sebelah timur lautnya terdapat kampung Melayu. Di sebelah baratnya terdapat benteng Belanda yang dikelilingi oleh tembok dan parit, di dalamnya terdapat rumah tinggal penguasa Belanda. Zollinger mencatat juga bahwa dalam benteng itu terdapat 8 pucuk meriam, dua diantaranya milik Belanda dalam kondisi baik dan sisanya milik sultan dalam keadaan rusak. Di Kampung Benteng juga, sampai saat ini terdapat pekuburan Iman Kristen yang dalam bahasa Bima disebut dengan Rade Belanda, makam Belanda karena didalamnya terdapat sejumlah kuburan fetor Belanda yang pernah bertugas di Bima.

Terdapat juga dua buah benteng yang dibangun di sebelah barat teluk Bima yang diberi label noord port (benteng utara) dan sebelah timur zuid Port (Benteng selatan). Meskipun saat ini sudah hancur, namun sisa-sisa reruntuhan kedua benteng itu masih terlihat, meriam-meriamnya sudah dipindahkan ke kota Bima. Orang Bima mengenal kedua tempat benteng itu dengan sebutan Asa Kota yang berarti mulut atau pintu kota, the port, the bay of Bima, benteng teluk Bima.

Di samping kampung Walanda, benteng, dan pekuburan Belanda, di Bima juga terdapat 5 buah gereja, salah satunya berlokasi di kelurahan Rabangodu kecamatan Raba yang terkenal dengan gereja Bethel Ayam karena diujung kedua atap pelananya, terdapat motif hias ayam jantan. Gereja ini dibangun pada tahun 1912 beratap sirap (seng).

Selain itu, terdapat juga bangunan masa kolonial atau bergaya kolonial, seperti bekas bangunan kantor telkom di Raba yang berarsitektur kolonial, bangunan bekas kantor Raja Bicara dengan atap perisai, sekarang berfungsi sebagai kantor Veteran dan Koramil.

Pengaruh lain dalam bidang sosial budaya adalah dibangunnya sekolah dan diperkenalkan system pendidikan modern dengan system kurikulum dan klasikal terutama dengan diberlakukannya politik etis (etika). Sekolah Desa lama belajar 3 tahun, (kelas 1 sampai kelas 3), Sekolah Rakyat 2 tahun (kelas 4 sampai 5). Untuk tingkat selanjutannya (SMP) didirikan sekolah Hollandsche Indische School (HIS), sekolah pribumi yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar dan guru-gurunya kebanyakan orang Belanda. Saat ini bekas gedungnya ditempati SMAN 1 Raba Bima.

Pengaruh budaya kolonial yang lain adalah adanya perubahan tulisan pada cap yang awalnya menggunakan huruf Arab berbahasa Melayu, kemudian pada masa sultan Abdul Aziz dan sultan Ibrahim bertuliskan huruf Arab dengan bahasa Melayu dan pada tepiannya (bingkai) terdapat tulisan huruf latin dengan bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Tulisan itu berbunyi sebagai berikut: Padoeka Sarie Soelthan Abdul Aziz Koning Van Bima, 1868 dan Padoeka Sarie Soelthan Ibrahim Koning Van Bima, 1881. hal. 205.

Ala kulli hal, buku ini banyak memberikan informasi baru terkait dengan sejarah Bima yang patut kita ketahui bersama, berdasarkan informasi dari dokumen-dokumen tertulis milik kesultanan Bima, milik Belanda dan Portugis dan informasi yang diperoleh dari pengamatan terhadap situs-situs sejarah peninggalan masa lalu yang tersebar di kota dan kabupaten Bima. Tentu saja masih banyak informasi lain yang perlu digali lebih mendalam terkait dengan sejarah Bima yang belum terkover dalam buku ini.

Dari segi penampilan, tata letak dan editing, buku ini masih jauh dari kata sempurna. Banyak ditemukan kesalahan penempatan foto dalam beberapa halaman yang melewati batas margin sehingga kurang elok dipandang. Begitu juga masih banyak kesalahan pengetikan, kesalahan bahasa, hurufnya kurang dan lain-lain yang perlu diperhatikan lebih lanjut untuk perbaikan kedepannya.

Harapannya, ke depan buku ini perlu segera dilakukan revisi dan cetak ulang mengingat hanya dicetak secara terbatas oleh Kemenang RI, sehingga informasi tentang sejarah Bima yang tertuang dalam buku ini dapat diketahui oleh seluruh masyarakat Bima khususnya, masyarakat nusantara umumnya bahkan dunia internasional. Wallau a’lam.

Surabaya, 14 Juli 2018


Leave a Reply