Geliat kretifitas Mahasiswa;  Sanggar Tari sebagai ikonik baru

Geliat kretifitas Mahasiswa;  Sanggar Tari sebagai ikonik baru

Category : Kronik

Beberapa tahun lewat, telah diajarkan beberapa kreatifitas unggulan dengan menyediakan materi kuliah yang menunjang untuk itu, yakni materi kuliah jurnalistik yang diampu oleh wartawan Bimeks berbakat bapak Sofiyan Asy’ari dan materi keterampilan berkreatifitas yang diampu oleh dosen multi talenta bapak Hermawansyah.

Materi kuliah jurnalistik membekali mahasiswa untuk mendalami cara meliput dan menulis berita dengan berbagai ragam penulisannya dengan baik dan benar sehingga ketika mereka lulus bisa menjadi penyampai berita yang profesional. Lulusannya, saat ini, walaupun beberapa orang, tulisan-tulisannya yang informatif sudah dapat dinikmati di berbagai media online yang ada di tanah Bima, Ady Supriadin di www.kahaba.net, Mustamin dulu pernah di Bimeks, dan Suryadin pernah di Stabilitas.

Mata kuliah keterampilan berkreatifitas, juga telah banyak melahirkan lulusan yang mampu membuat tas dari talikur, gantungan kunci, sablon kaos, dan kaligrafi. Dari beberapa ragam kreatifitas tersebut, yang memiliki dampak langsung adalah pembuatan tas dari talikur. Menurut beberapa lulusan, mereka sudah bisa memproduksinya secara mandiri sehingga mendapatkan beberapa order dari pemesan.

Untuk mengembangkan ragam kreatifitas yang sudah ada dan diharapkan menjadi ikon kampus ke depannya, unsur civitas akademika mengusulkan agar tenaga pengajar/dosen yang akan direkrut harus memiliki kemampuan ganda. Mumpuni dalam bidang akademik dan mahir dalam bidang reatifitas sehingga lulusan memiliki dua kemampuan sekaligus, mampu dalam mengajar bidang keahliannya sekaligus mahir mengajarkan berbagai kreatifitas.

Merespon kegelisahan civitas akademika tersebut, dosen-dosen muda yang baru direkrut membuat gebrakan dengan menampilkan ikonik baru di kampus STIT Sunan Giri Bima, yaitu dengan menampilkan sanggar Tari dan keterampilan pembuatan Bros dan Bunga dari bahan-bahan yang mereka tentukan.

Untuk memperlancar kegiatan tersebut, dibuatlah jadwal kegiatan secara bergilir pada sore hari mulai senin s/d jumat. Khusus kegiatan pelatihan menari dijadwalkan pada hari senin sore yang dibimbing langsung oleh ibu dosen Ismisari. Sejak diperkenalkan pada awal September lalu, kegiatan sanggar tari ini telah menyedot perhatian mahasiswa dan dosen, sehingga mereka mengajukan permintaan agar sanggar tari STIT Sunan Giri Bima bisa tampil pada kegiatan mereka.

Penampilan pertama atas undangan salah seorang dosen ibu Ana Cahayani di Desa Sakuru pada pembukaan acara MTQ tingkat Desa. Menurut informasi, penampilan tersebut sangat diapresiasi oleh pengunjung MTQ bahkan mereka meminta agar tampil lagi untuk tari yang kedua, namun karena keterbatan waktu, penampilan berikutnya tidak sempat ditampilkan.

Antusiasme penonton tersebut menandakan bahwa penampilan perdana mereka cukup mendapat tempat dihati pengunjung. Surprise!. Amazing stage!. Oleh karenanya, dosen pembimbing berjanji akan mengajarkan beberapa varian tari kepada anak didiknya sehingga bisa menyuguhkan beberapa varian tari, baik tarian klasik maupun tarian modern kepada para penonton.

Penampilan kedua atas undangan seorang mahasiswi yang kebetulan adiknya mengadakan perhelatan pernikahan berlokasi di desa Lambu. Undangannya dua hari, pembacaan dzikir dan sawalat pada malam harinya dan pementasan tari pada puncak acara resepsi pernikahan pada keesokan harinya.

Penampilan kedua ini begitu sangat berkesan dan istimewa. Berkesan karena menuju lokasi pantai Papa Lambu harus melalui jalan yang menanjak, berkelok-kelok dan terjal. Rombongan satu minibus yang digawangi oleh pembimbing Asrama bapak Abdussalam dan ibu-ibu dosen muda yang lincah ibu Ismisari, ibu Irma dan ibu Sry tidak menyangka kalau lokasinya sejauh itu. Perkiraan awal, lokasi di sekitar desa Simpasai Lambu atau berdekatan dengan Soro. Tapi setelah beberapa kali bertanya kepada orang yang duduk di pinggir jalan di desa Soro, ia menunjuk ke arah jalan menuju pantai PAPA kurang lebih 10 km ke arah timur dengan menyebrangi pegunungan yang menanjak. Mendengar penjelasan itu, saya sebagai driver merasa ciut juga nyalinya karena baru kalinya ini melalui jalan yang begitu menanjak. Tapi dengan tekad yang kuat, diiringi ucapan bismillah, kami melaju dengan lancar tanpa ada hambatan hingga sampai tempat tujuan dengan selamat.

Penampilan kedua ini begitu istimewa karena mereka menyuguhkan penampilan yang menawan walaupun ada sedikit insiden kecil “sarung salah seorang penari terlepas”, namun bisa cepat diatasi, Penampilan kedua ini cukup sukses karena mereka membawakan tarian dengan baik sehingga penonton berebut mau melihat lebih dekat dengan tampilan para penari.

Selanjutnya untuk penampilan ketiga, rencananya memenuhi undangan dari desa Dadibou untuk meramaikan acara penutupan MTQ desa Dadibou dalam waktu dekat sambil menunggu konfirmasi dari panitia.

Misi dari penampilan demi penampilan tersebut adalah untuk menggemakan dan mengibarkan kembali panji kampus STIT Sunan Giri Bima di tengah-tengah masyarakat tanah Bima agar mereka mengenal dan menaruh minat pada kampus tercinta sehingga memiliki keinginan untuk mengkuliahkan putra-putrinya disini.

Mudah-mudahan ke depan, akan muncul ragam kegiatan lain yang dapat ditampilkan di tengah masyarakat dalam rangka ikut mengharumkan nama kampus tercinta. Wallahu a’lam.

Kota Bima, 10 Oktober 2018


Leave a Reply