Negeri di Atas Awan

Negeri di Atas Awan

Category : Kronik , Uncategorized

Minggu, 21 Oktober 2018, kami diundang oleh keluarga besar mempelai yang mengadakan resepsi pesta pernikahan di Desa padende Kec. Donggo Kab. Bima.

Kami berangkat dari kampus sekitar pukul 13.40 wita menggunakan minibus yang telah kami persiapkan 3 hari sebelumnya, untuk tiba di lokasi Resepsi tepat pukul 15.00 Wita 30 menit lebih cepat dari estimasi waktu yang kami persiapkan setelah melewati rangkaian bukit yang ditanami pohon Kopi serta gunung yang berjejer sambung menyambung yang masih dipenuhi dengan pohon kayu yang besar hingga kami tiba di puncak tertinggi gunung yang ada di Kec. Donggo.

Saat memasuki desa Padende suasana pegunungan begitu terasa, suhu udaranya cenderung agak dingin serta aroma daun cengkeh khas daerah pegunungan begitu lekat di indera penciuman dibandingkan dengan daerah di bagian bawah yang kini telah menjadi hamparan tanah kosong yang gersang, lapisan awan dan kabut yang enggan beranjak dari sisi bukit seakan menjadi penanda bahwa daerah yang kami datangi betul-betul memiliki energi positif bagi mereka yang ingin menenangkan fikiran dan jauh dari hiruk pikuk dan keramaian perkotaan, oh.. Tuhan inikah Negeri Di Atas Awan itu ???

Sama dengan perjalanan kami sebelumnya di beberapa desa, iringin dan dentuman musik house dan DJ adalah “penawar” yang paling top untuk melawan “mabuk” darat sebagian personil yang selalu kami bawa, tak ada rasa lelah meski jarak tempuh dari asrama menuju lokasi sangat jauh lebih kurang 50 Km jaraknya, semua menikmati perjalanan ini sebagai kegiatan wisata sambil sesekali bersorak “My Trip My Adventure”

Kami disambut dan diterima dengan hangat dan ramah oleh salah satu keluarga mempelai wanita sembari menawarkan diri untuk mengantarkan kami ke ruang makan yang telah disediakan panitia, namun ajakan itu kami tolak dengan halus dengan alasan kami akan menyantap makanan tersebut setelah selesai tampil di atas panggung agar dandanan make-up maupun lipstik yang telah digunakan tidak luntur dan belepotan, Alhamdulillah beliau mengerti dan memakluminya namun beliau ingin memastikan bahwa setelah “unjuk gigi” kami harus langsung ke ruang makan karena makanan telah disediakan khusus buat anggota tari. Ternyata benar dugaan kami, setelah berbicara dengan ibu Fatimah saja grup tari STIT dipanggil oleh Master of Ceremony ( MC ) untuk mengisi pra acara resepsi, dan penampilan kami adalah urutan kedua setelah tarian “Wura Bongi Monca” yang dibawakan oleh anak-anak SMPN Donggo.

Andai saja saya sempat mendokumentasikan bagaiman antusiasme para undangan dalam menyaksikan setiap gerakan yang di bawa oleh grup tari STIT tentu akan lebih lengkap rasanya, namun hal tersebut tidak sempat yang lakukan karena saya sendiri sangat fokus pada pengamatan setiap gerakan dan ayunan langkah para mahasiswi untuk memastikan bahwa tidak ada gerakan atau ayunan langkah yang tidak seragam atau tidak kompak, dan hingga penampilan mereka selesai alhamdulillah saya tidak menemukan adanya kesalahan ataupun kekeliruan yang dilakukan dalam performa mereka, dan mereka pun mendapatkan aplause yang sangat meriah dari para undangan yang memenuhi arena resepsi.

Meskipun di pra acara kami hanya sempat menampilkan satu jenis tarian karena khawatir diburu waktu yang telah semakin sore namun, lagi-lagi ibu Fatimah menghampiri saya, kali ini bukan untuk menawarkan dan mengajak makan, namun meminta kepada saya sebagai ketua rombongan agar grup tari STIT dapat naik sekali lagi di atas panggung “banyak ibu-ibu undangan yang minta sekali lagi” demikian permintaan Ibu Fatimah sambil tersenyum.

Terharu bercampur bangga mendengar permintaan itu, tanpa banyak berkomentar saya pun lantas meminta kepada Bu Ismisari sebagai pembina tari untuk menyampaikan pada anak asuhnya bahwa grup tari STIT diminta untuk naik kedua kalinya di atas panggung setelah perwakilan keluarga selesai menyampaikan kata-kata sambutan keluarga.

Setelah acara pembukaan yang dirangkaikan dengan pembacaan kalam ilahi serta sambutan keluarga selesai akhirnya grup tari STIT pun di panggil kembali oleh MC untuk naik ke panggung mempersembahkan tari yang kedua dengan penuh rasa percaya diri. Sebagaimana tampilan pertamanya, penampilan yang kedua inipun tak kurang mendapatkan apresiasi, tepuk tangan yang menggema dan decak kagum dari ibu-ibu bercampur aduk beserta sejumlah pertanyaan dan pernyataan ringan seputar dari mana asal anak-anak penari yang gemulai ini datang. Dengan sedikit senyuman saya jawab rasa penasaran ibu-ibu sembari menjawab “Mereka adalah mahasiswa semester I yang kami bina dan gembleng khusus untuk menguasai semua jenis tarian, baik tarian lokal maupun tarian modern yang telah”.

Diakhir acara saya sempat bertemu dengan Kepala SMKN 5 Bima Bapak Drs. H. Abdul Majid, M.Pd. kami berdua sangat akrab karena sudah lama saling mengenal satu dengan yang lain, sebab saya seringkali ditugaskan oleh pimpinan Kampus untuk mendamping mahasiswa yang melaksanakan kegiatan PPL di sekolah tempat beliau memimpin. Dalam pembicaraan singkat itu beliau menyarankan agar STIT Sunan Giri Bima mengadakan ekstrakurikuler berupa pembinaan keterampilan Marawis, agar kegiatan seni tari yang telah berjalan saat ini bisa berjalan satu paket dengan seni Marawis. Mendengar harapan beliau saya menyampaikan bahwa “kegiatan pembinaan Marawis saat ini sedang berjalan hanya saja pemainnya belum mencapai tingkat kekompakan dan keseragaman sehingga nada yang dihasilkan masih belum teratur dan pas”. Insya Allah Aji, apa yang Aji harapkan akan segera kami wujudkan dan kita bisa menjalin kemitraan dalam hal seni dan budaya pada masa yang akan datang.

Cabang Godo,
Akhir Oktober 2018 Pukul 23.07

Jelang Rehat Beringsut ke Peraduan


Leave a Reply