Pelaksanaan Bimtek Aksara Bima 2018; Suppa Senna Menjadi Minuman Favorit Peserta

Pelaksanaan Bimtek Aksara Bima 2018; Suppa Senna Menjadi Minuman Favorit Peserta

Bimtek Aksara Bima sejatinya telah dirancang oleh dinas dikpora kota Bima sejak beberapa bulan silam. Pada awalnya direncanakan pada akhir Juli, namun karena kendala anggaran yang belum cair dan penyesuaian kesiapan waktu nara sumber, menjadikan kegiatan ini diundur sampai pertengahan September 2018.

Kegiatan ini berlangsung selama lima hari sejak tanggal 17 s/d 21 September 2018 bertempat di gedung Seni dan Budaya Kota Bima. Pada awalnya sesuai dengan surat undangan, kegiatan ini bertempat di Aula SMPN 6 kota Bima, namun karena satu dan lain hal, dialihkan di gedung Seni dan Budaya kota Bima. Pada hari ke empat dan ke lima pun dipindahkan ke gedung SKB kota Bima karena berbenturan dengan kegiatan lain.

Kegiatan ini diikuti oleh 50 orang guru dari berbagai Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di kota Bima. Mereka terdiri dari guru Mulok, bahasa Indonesia dan Sejarah. Ketiga guru mapel tersebut dipilih karena berdekatan materi pembahasannya dengan Aksara Bima dari segi sejarah, bahasa dan implementasinya dalam proses belajar mengajar. Rencananya, Aksara Bima ini akan dimasukkan dalam mapel Mulok.

Pada hari pertama, saya sengaja hadir lebih awal dari jadwal untuk melihat suasana gedung pelaksanaan Bimtek, karena gedung ini adalah gedung baru yang belum ditetapkan secara resmi penggunaannya. Salah seorang pegawai dinas dikpora kota berujar, “Akan segera diresmikan menunggu pelantikan wali kota baru”. Gedung ini nampak cukup mewah menurut ukuran kota Bima, karena memiliki ruangan yang berkapasitas besar, full AC, membuat suasana ruangan menjadi adem dan nyaman.

Peserta berdatangan satu persatu memasuki gedung dengan wajah mereka yang sumringah, sambil menduga-duga kira-kira materi Aksara Bima seperti apa yang hendak disampaikan oleh nara sumber karena di SD-SD sudah diajarkan Aksara Bima, kalau memang ada perbedaan, bagaimana bentuknya, terus bagaimana status aksara Bima yang telah diajarkan itu, apakah distop pembelajaran diganti dengan aksara Bima yang baru ini atau berjalan sama-sama, terus suasana Bimtek ini akan berlangsung seperti apa, monoton, membosankan atau bagaimana, dan banyak lagi bentuk pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran peserta yang hanya peserta sendiri yang tau.

Hari pertama terdapat sedikit kendala sound system yang membuat peserta tidak nyaman, suaranya memantul ke segala arah sehingga suara nara sumber terdengar samar-samar. Begitu juga alat bantu LCD tidak terlalu terang sehingga tulisan nampak buram. Walaupun suasana demikian adanya, tidak membuat peserta terganggu, mereka cukup antusias mengikuti kegiatan karena menurut mereka, ternyata Aksara Bima ini adalah pengetahuan baru yang berbeda dengan Aksara yang selama ini diajarkan. Oleh karenanya sangat perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh sesi per sesi. Salah seorang peserta berkata; “Kegiatan Bimtek aksara Bima ini sangat langka, jangan sampai saya ketinggalan tiap sesinya karena materi antara satu sesi dengan sesi berikutnya saling terkait”.

Di samping pengetahuan langka, ke dua nara sumber menyampaikannya dengan cukup santai disertai guyon-guyon kecil, tidak terkesan menggurui, menguraikan apa adanya sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang dialami selama menggeluti aksara Bima. Saya sendiri fokus menyampaikan semua informasi yang terkait dengan aksara Bima mulai dari awal perkenalan dengan aksara Bima hingga terupdate saat ini.

Nara sumber lain Munawar Sulaiman, menyampaikan juga pengalamannya ketika belajar membaca aksara Bima dan aksara Melayu yang terdapat dalam naskah-naskah warisan kesultanan Bima, naskah yang disimpan rapi oleh INA KAU MARI di Samparaja, hingga ia menemukan naskah pengobatan dan do’a. Atas dasar naskah inilah, minuman herbal Suppa Senna Sang Raja mulai diracik dan dikembangkan sehingga menjadi minuman idola masyarakat Bima saat ini.

Suppa Senna merupakan minuman favorit peserta karena sang Suhu memberikannya secara Cuma-Cuma alias gratis. Banyak peserta yang merasa penasaran dengan minuman kesehatan “Suppa Senna” ini sehingga mereka perlu mencicipi untuk mengetahui secara langsung bagaimana khasiatnya dalam tubuh. Setelah mereka meminumnya, apa yang terjadi???. “Aromanya khas dan badan langsung berkeringat”. Seru salah seorang peserta. “Suppa Senna Joss Mantap”, sambut yang lain. Bahkan salah seorang panitia memberikan testimoni dihadapan peserta mengenai keampuhan khasiat minuman khas Bima yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit, khususnya yang diderita oleh sang suami.

Suhu Munawar juga menyampaikan bahwa kesultanan Bima itu kaya akan rahasia-rahasia yang hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Rahasia-rahasia itu ditulis dengan aksara Bima dan aksara Arab Melayu. Bahkan Ina Kau Mari, ketika itu, melarang keras kami yang berniat untuk menerbitkan naskah-naskah do’a itu. “Namanya rahasia, tidak boleh diketahui oleh orang banyak, hanya orang-orang tertentu saja yang boleh mengetahuinya”. Begitu kira-kira yang hendak disampaikan oleh beliau. Namun demikian, ada satu, dua naskah do’a yang sudah diijinkan untuk dipelajari dan diajarkan seperti do’a agar dijauhkan dari dou mpanga, dijauhkan dari mimi dan mudu. Penjelasan dari do’a tersebut ditulis menggunakan aksara Bima dan bisa diakses di grup FB Tanao Aksara Mbojo Bima.

Sang peracik Suppa Senna Suhu Munawar, juga bercerita bahwa ada orang Bandung yang kebetulan datang ke Bima menjadi nara sumber pada salah satu acara pelatihan di Bima, mengeluhkan suatu penyakit dalam tubuhnya. Salah seorang peserta pelatihan membawanya ke rumah Suhu Munawar dan diberikan minuman Suppa Senna. Alhamdulillah, orang tersebut berangsur sembuh.

Selanjutnya, pada hari keempat, ketika pelaksanaan Bimtek dipindahkan ke gedung SKB, ada kejadian menarik yang menimpa Suhu Munawar sang peracik Suppa Senna. Ketika meluncur dari rumah menuju gedung SKB, ia dalam keadaan super fit. Namun entah kenapa, memasuki Aula SKB ia merasa kedinginan sampai menggigil. Ia menduga, ada aura negatif di dalam gedung tersebut. Oleh karenanya ia meminta air minum yang dido’akan untuk kesembuhan. Karena berdasarkan hasil penelitian orang Jepang, katanya, bahwa air itu bisa diajak bicara dan bekerja sesuai dengan apa yang kita minta dalam do’a. Setelah meminum air do’a tersebut, seketika ia fit kembali. Luar biasa. Ia meyakinkan dirinya dan peserta bahwa air itu dapat bekerja sesuai dengan keinginan dan keyakinan kita untuk kesembuhan suatu penyakit, sehingga tidak heran banyak orang yang meminta do’a kesembuhan lewat perantaraan air.

Terakhir, Kegiatan Bimtek Aksara Bima ini merupakan salah satu langkah cerdas yang dilakukan oleh pemerintah kota cq. Dinas Dikpora Kota Bima dalam rangka melestarikan dan mengembangkan Aksara Bima agar dikenal luas oleh masyarakat Bima pada khsusnya dan masyarakat budaya pada umumnya dimana pun mereka berada. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti sampai disini, namun akan ada kegiatan-kegiatan lain yang akan menyusul baik dilakukan oleh lembaga-lembaga formal pemerintah maupun lembaga non formal.

Dan yang paling penting, menurut salah seorang peserta dalam catatan pesannya, paling tidak kegiatan Bimtek Aksara Bima ini telah memberi manfaat dalam tiga hal yaitu, 1) pengetahuan baru tentang Aksara Bima, 2) mendapatkan minuman kesehatan gratis, minuman “SUPPA SENNA” sang Raja, 3) Mendapatkan pengetahuan tentang do’a-do’a yang terdapat dalam naskah-naskah kesultanan. Wallahu a’lam.

Kota Bima, 28 September 2018


Leave a Reply