KAMPUS AGAMA BERMENU ENTREPRENEURSHIP

KAMPUS AGAMA BERMENU ENTREPRENEURSHIP

Category : Uncategorized

Seorang mahasiswa baru dari Desa roka bernama  Abdurrahman, menyinpan banyak pertanyaan dalam dirinya terkait kampus agama (STIT Sunana Giri Bima) namun pertanyaan itu telah terjawab dengan banyak hal yang di lakukan di Kampus STIT Sunan Giri Bima, pertama orang menyamapaikan tidak jaman lagi kuliah di kampus agama karena lebih memikirkan akhirat dan untuk dunianya sedikit, dalam arti kampus agama lebih banyak bergerak pada kajian agama!. Kedua, akan menjadi kesulitan lapangan kerja!.

Persoalan ini perlu di luruskan dengan cara kerja STIT yang telah di gagas satu tahun yang lalu kemudian telah di garap dan di eksekusi saat ini, Terutama Entrepreuneship.

Entrepreuneship atau kewirausahaan, Ini adalah salah satu jendela baru yang digagas di kampus STIT Sunan giri Bima sebagai suguhan yang empuk bagi mahasiswa yang memiliki nilai tambah, sebab mahasiswa tidak seharusnya dididik manja. Wirausaha secara historis sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755., istilah kewirausahaan telah dikenal sejak abad 16, sedangkan di Indonesia baru dikenal pada akhir abad 20. Beberapa istilah wirausaha seperti di Belanda dikenal dengan ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer. Pendidikan kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara seperti Eropa, Amerika, dan Kanada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan kewirausahaan atau manajemen usaha kecil. Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan.

Di Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi berkembang. Dengan mewujudkan perkembangan  tersebut maka STIT Sunan Giri Bima mengambil sebagai persoalan yang penting di letakan pada skill mahasiswanya, sebagai busur panah menyampaikan syiar yang berkolaboratif antara agama dan berwirausaha. Sebab keterbatasan ekonomi atau miskin membuat banyak orang menjadi fasik, demikian juga keterbatasan skill dan pengalaman membuat banyak pengangguran. Hal ini tidak semata mata karna tinggi pengetahun atau titelnya namun kalau tidak di gunakan maka tetap menyandang sebagai pengangguran itu titel yang sakral berada di lapisan masyarakat jika tidak melalukan sesuatu  sesuai dengan porsi keilmuannya sebagai seorang yang telah di latih dan didiik di bangku kuliah.

Mahasiswa STIT Memberikan banyak materi  ekstra yang harus mereka hadapi di setiap harinya baik itu Tahfiz, yang di setor tiap ba’ada subuh, ta,alim setelah sholat dzuhur, bahasa arab, Inggris tiap sorenya, kreatifitas dan kewirausahan sore hingga malam, maka pengalaman ini merupakan jenjang karir yang akan membantu mahasiswa  kelak menjadi alumni STIT dan bisa berkonstribusi di tengah masyarakatnya dengan lebih.

Kampus agama jangan menjadi momok yang menakutkan bagi siapa saja sebelum di coba dan bersamanya, maka belum sama sekali di ketahui intisari dan pelajaran yang ada di dalamnya, abdurrahaman mahasiswa baru tersebut memberikan pernyataan “ternyata kampus agama bukan berarti di suguhkan hanya persoalan agama namun banyak persoalan lain yang akan di terima terutama di dalam mata kuliah. inilah mungkin yang di katakan bahwa manusia dengan agamanya selalu mencari keseimbangan antara kebutuhan dunia dan kebutuhan akhirat”

STIT Sunan Giri Bima dengan gagasan barunya membina kreativitas terhadap mahasiswanya dengan pola penenlitian atau gagasan kreativitas yang terbaru, beberapa kreatifitas di antaranya membuat aksesoris lampu tidur, gantungan kunci, asbak rokok dan tempat pensil dari bambu dengan cara yang tak kalah menarik di bandingkan buatan sebelumnya yang ada di bali, jogja serta lainya yang memiliki keunikan masing-masing maka dengan ini Mahasiswa STIT pun membuat kerajinan dari bambu dengan ciri khas  tersendiri yang menarik pula. Dengan cara mentransfer gambar pada media tersebut, dengan gambar apa saja dan bahkan fotopun bisa terlepas pada yang sudah pernah di lakukan oleh kelompok kreativitas yang belum di ketahui. Dengan inovasi ini mahasiswa STIT Sangat bermotivasi untuk melakukan lebih dari yang mereka lakukan saat ini.


Leave a Reply