Mengenal Sosok Bediuzzaman Said al-Nursi

Mengenal Sosok Bediuzzaman Said al-Nursi

Category : Tokoh Lokal

Dr. KH. Imam Mawardi, MA. yang saat ini menjabat sebagai wakil sekretaris Kopertais wilayah IV Surabaya adalah guru dan dosen favorit saya sejak kuliah S1 di Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Beliau lulusan s2 McGill Montreal Canada. Dulu, beliau mengajarkan kami tentang bagaimana memahami teks berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Hingga kini pun, beliau tetap menjadi salah satu dosen favorit karena keluasan ilmu dan kesahajaannya dalam menyampaikan materi kuliah.

Kemarin, dalam sebuah pertemuan, beliau memperkenalkan kepada kami tentang sosok cendekiawan muslim Turki abad ke-19 yakni Said Nursi. Nama ini, bagi saya terasa asing karena sebelumnya tidak pernah mendengarnya apalagi bersentuhan dengan karya-karyanya. Barangkali karena terbatasnya karya beliau yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga saya jarang menemuinya di perpustakaan atau di toko-toko buku. Berbeda dengan karya-karya Yusuf Qardhawi yang banyak beredar di tanah air sehingga mudah diakses.

Said Nursi, berdasarkan beberapa literatur yang ada, terkenal dengan sebutan Bediuzzaman (keajaiban zaman) (1877-1960 M). Ia berasal dari desa Nurs, wilayah Isparit, Anatolia bagian timur, Turki. Nursi kecil termasuk anak yang bersemangat dalam menimba ilmu pengetahuan (ilmu agama dan ilmu modern) dan memiliki kekuatan hafalan yang sungguh luar biasa. Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan hal-hal yang bernuansa sufistik karena memang keluarganya sangat dekat dengan tarekat Naqsabandiyah di kampung halamannya.

Berkat kecerdasan dan kesungguhannya dalam mencari ilmu pengetahun, Said Nursi dewasa, tampil sebagai sosok yang diperhitungkan di akhir kekhalifahan Turki Usmani dan masa peralihan Turki menjadi negara republik yang dipelopori oleh Mustafa Kemal Ataturk yang terkenal dengan bapak sekularisme Turki.

Said Nursi, pada saat itu, termasuk salah seorang cendekiawan muslimTurki yang menentang kebijakan sekularisme yang disponsori oleh Partai Rakyat Republik yang didirikan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Akibatnya, ia menjadi musuh negara sehingga ia dipenjara beberapakali dan diasingkan di beberapa tempat di Turki selama kurang lebih 30 tahun.

Di pengasingan, Said Nursi dapat menghasilkan banyak karya. Karya-karya hebat itu kemudian disatukan dalam sebuah kitab yang diberi judul “Risalah An-Nur”. Didalamnya membahas makna tauhid, hakikat kehidupan, akhirat, kebenaran risalah Nabi Muhammad Saw. dan keadilan hukum Islam.

Di samping karya monumentalnya tersebut, banyak lagi karya lain yang ia karang, bahkan dalam tiga hari, ia mampu mengarang satu kitab. Kemampuannya ini, membuat muridnya yang menjadi juru tulis bertanya-tanya kepadanya, bagaimana bisa sang guru mengarang buku sebanyak dan secepat itu. Said Nursi menjawab, “seakan-akan ada cahaya terang dipohon itu dan saya tinggal membacakannya saja apa yang tertera dalam cahaya itu”.

Jawabannya tersebut mengingatkan kita bahwa ada orang-orang tertentu yang diberikan kemampuan oleh Allah Swt. untuk mendapatkan ilmu secara ladunni, ilmu pemberian Allah Swt. secara langsung melalui hati sanubarinya kepada mereka yang sangat mencintai Allah Swt. lebih dari segalanya, apa pun yang mereka inginkan seakan-akan langsung terhampar dihadapannya seperti membaca di layar laptop atau layar Hp.

Kita mengenal maqam dalam ilmu tasawuf terdiri dari maqam syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat. Nah Said Nursi ini, secara ilmu tasawuf, kira-kira sudah mencapai maqam ma’rifat, karena beliau sudah bisa mendapatkan ilmu melalui metode internal. Dalam istilah Abid al-Jabiri dikenal dengan istilah metode irfani, yaitu cara mendapatkan pengetahuan melalui olah hati, mukasyafah.

Imam Ghazali, dalam kitab Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa cara mendapatkan ilmu itu bisa melalui dua metode. Metode eksternal dengan cara pembelajaran di sekolah sampai perguruan tinggi dan metode internal dengan cara olah jiwa, pembersihan hati dengan cara mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui jalan mukasyafah tadi.

Untuk mendapatkan maqam seperti yang dijelaskan di atas, tidak datang dengan sekonyong-konyong, tapi dilalui secara setapak demi setapak oleh salik yang dituntun oleh sang guru. Tahapan-tahapan tersebut diantaranya adalah (1) takhalli (pembersihan diri melalui taubat-wara’i-zuhud), (2) tahalli (menghias diri dengan tawakkal-ridha-syukur), (3) tajalli (termanifestasi dengan jalan mahabbah-tuma’ninah-ma’rifat). Jika ketiga tangga tasawuf tersebut dapat dilalui, maka mukasyafah akan didapatkan dengan mudah. Wallahu a’lam.

Surabaya, 16 Nopember 2018


Leave a Reply