Serial Ulama Kharismatik Bima (2)

Serial Ulama Kharismatik Bima (2)

Category : Tokoh Lokal

Biografi dan Karomah TGH. Ibrahim Rontu-Ntobo (2)

Secara geneologis, TGH. Ibrahim merupakan keturunan dari Sayyid Adam yang berasal dari Luru Gaja Makkah al-Mukarramah beranak pinak hingga melahirkan Syaikh Nurul Mubin (Ama Bibu) Soro Sape, salah seorang ulama kharismatik Sape dari anaknya yang bernama Sulaiman yang tinggal di Rontu Bima. Beliau dilahirkan di Rontu Bima dari pasangan Halijah dengan H. Musa. Tidak banyak diperoleh informasi yang cukup memadai terkait masa kecilnya. Hanya diperoleh informasi bahwa ia orang biasa, sama dengan kebanyakan anak-anak kecil lainnya, biasa mandi di sungai, main di ladang dan hal lainnya yang biasa dilakukan oleh anak-anak kecil Bima pada umumnya. Ketika itu juga, belum terlihat kelebihan yang menonjol pada diri beliau.

Afandi Ibrahim, salah seorang anaknya, menjelaskan bahwa di kalangan keluarga, ada semacam keyakinan yang berkembang bahwa keluarga ini tidak akan bisa sampai ke Makkah. Kalaupun sampai di Makkah, maka tidak akan kembali lagi karena akan meninggal disana. Hal ini merujuk pada kejadian yang dialami oleh nenek moyang beliau, Sayyid Adam ketika hendak pulang ke tanah kelahirannya di Luru Gajah Makkah al-Mukarramah, Sayyid Adam hanya sampai kota Jeddah saja dan meninggal di sana.

Untuk membuktikan bahwa keyakinan itu tidak benar, maka ibunya, biasa disapa Nene Laju memintanya untuk pergi ke Makkah al-Mukarramah dengan dua tujuan (1) dalam rangka mematahkan anggapan bahwa keluarga besarnya tidak bisa sampai kota Makkah (2) mencocokkan ilmu nenek moyang beliau Sayyid Adam yang dipraktekkan di Bima dengan ilmu yang sebenarnya diajarkan di Makkah al-Mukarramah.

Menuruti permintaan ibundanya tersebut, Ibrahim telah berusaha dua kali berangkat menuju kota Makkah al-Mukarramah, namun selalu gagal, ia hanya bisa sampai di Batavia (Jakarta). Untuk kali yang ke tiga, barulah ia bisa sampai di kota Makkah al-Mukarramah ketika berumur 16 tahun. Peristiwa ini mematahkan keyakinan yang berkembang ketika itu bahwa keturunannya bisa saja berangkat ke Makkah tanpa adanya gangguan sebagaimana keyakinan kebanyakan keluarga.

Di Makkah, beliau mengaji di masjidil Haram, memperdalam ilmu agama khususnya ilmu syariat dan tasawuf dibawa bimbingan para Syeikh. Untuk ilmu tasawuf, beliau mendapatkan ijazah dari gurunya yang bernama Abdul Hamid bin Suhud. Setelah mendapatkan ijazah tersebut, beliau membagi ilmunya kepada orang lain dengan menjadi tenaga pengajar di Masjidil haram, digaji dengan 60 biji dukat. Belajar di Makkah ini, beliau lalui selama kurang lebih 25 tahun. Beliau berada di kota Makkah sekitar tahun 1902, dimana ketika itu, terjadi huru hara antara pihak kerajaan dengan kaum wahabi. Dalam kesendirannya di sana, beliau ditemani oleh seorang gadis Arab yang dinikahinya bernama Mariyamah. Ketika beliau hendak pulang ke tanah air, sang isteri tidak berkenan ikut ke Indonesia, maka beliau kembalikan sang isteri kepada mertuanya.

Ketika pulang ke tanah air tahun 1933, beliau tidak langsung ke Indonesia tapi mampir terlebih dahulu di Kelantan Malaysia. Disana beliau mengajar dan mengakhiri masa kesendiriannya dengan menikahi seorang gadis Malaysia bernama Fatimah. Disana, biasanya beliau dipanggil dengan nama H. Badulik. Tidak diketahui secara pasti apa alasan dipanggil dengan nama tersebut. Setelah beliau merasa cukup tinggal di Kelantan Malaysia, beliau bersama isterinya berpamitan kepada keluarga hendak pulang ke Bima. Dari Malaysia, beliau menuju Batavia (Jakarta) dan langsung ke Bima.

Setelah tinggal beberapa saat di Bima, ternyata isterinya, Tuan Fatimah, karena satu dan lain hal, meminta ijin kepada sang suami untuk kembali ke Malaysia. Akhirnya, beliau mengantar sang isteri menuju Malaysia. Pernikahannya ini tidak membuahkan anak. Oleh sebab itu, sang isteri Tuan Fatimah mencarikan seorang gadis dari keturunannya sendiri untuk dinikahi beliau. Menikahlah beliau dengan gadis pilihan isterinya yang bernama Aisyah. Ketika Aisyah tengah hamil, beliau hendak mengajaknya pulang ke Indonesia, namun kedua isterinya tidak ada yang mau ikut. Namun begitu, isteri-isterinya ini meminta agar tidak diceraikan, biarkan tetap menjadi isteri beliau, agar dapat ketemu lagi di akhirat kelak. Begitu pinta mereka kepada suami kala itu.

Sepulang dari Malaysia, beliau meneruskan kegiatan dakwah di Rontu Bima dengan memenuhi undangan masyarakat untuk melakukan do’a RASU, atau permintaan untuk do’a-do’a selamatan lainnya di rumah-rumah orang yang mengundang. Disaat itulah beliau memberikan tausiah mengenai ilmu agama dihadapan para undangan yang hadir. Biasanya kalau beliau yang memimpin do’a, maka banyak orang yang hadir. Kegiatan seperti ini rutin dilakukan di berbagai kelurahan dan desa di Bima.

Di rumahnya di Rontu, beliau juga menerima tamu hampir setiap hari, dengan tujuan meminta do’a dan berguru pada beliau, sehingga beliau memiliki banyak murid yang bersebaran mulai dari Sumbawa, Dompu, Bima hingga Flores NTT. Tidak sedikit juga ulama-ulama dari Makassar dan Jawa datang ke Bima hanya sekedar bersilarurrahmi dengan beliau.

Di samping itu, beliau juga mempraktekkan tarekat dzikir Qadariah Naqsabandiyah. Kegiatan dzikir tarekat qadariyah dilaksanakan tiap sore selasa dan jum’at dan dzikir tarekat Naqsabandiyah dilaksanakan tiap malam tanggal 11 bulan Qamariah. Ditengah-tengah kegiatan berdakwah ini, beliau mempersunting seorang putri keturunan raja Permata Sumbawa yang bernama Siti Aminah. Buah pernikahannya dengan Siti Aminah, melahirkan enam orang anak, tiga orang laki-laki, tiga orang perempuan, yaitu H. Muhammad Nur, H. Muhtar, Abdul Suhud alias Abdus Syukur, Gamariah (pr), Sariyano (pr), dan Darma (pr).

Diceritakan juga bahwa suatu saat di Rontu, Abdurrahim Ama Raja Dai mengajak beliau bertani di Ntobo, sekaligus ingin memberantas kepercayaan Parafu atau Pamboro yang sudah mentradisi di sana. Maka beliau minta ijin pada isterinya Siti Aminah untuk bertani di sana. Atas permintaan suaminya tersebut, isterinya mengijinkan dengan catatan, semua hasil pertanian harus dibawa ke Rontu. Catatan ini diamini oleh beliau dan dilaksanakan hingga akhir hayat.

Suatu ketika berjalan-jalan di Ntobo, beliau melihat seorang gadis yang bernama Maemunah sedang menumbuk padi (mbaju). Beliau jatuh hati padanya lalu membelikan sepotong baju untuknya. Kemudian beliau meminta kepada orang tuanya agar putrinya itu beliau nikahi. Pada awalnya, Maemunah merasa segan karena akan dinikahi oleh ulama besar. Namun setelah diberi pengertian oleh orang tuanya karena masih ada hubungan keluarga juga dari Panggi, akhirnya Maemunah setuju dan mau dinikahi. Dari pernikahan ini melahirkan delapan orang anak, empat orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan, yaitu Mariamah, H. Afandi, H. Muhammad Husain, Najmah, H.Muhammad Yusuf, Umi Salamah, Hanafi dan Harijah.

Untuk memberantas kepercayaan Parafu di desa Ntobo ini, beliau mengadakan pendekatan dengan masyarakat setempat dengan cara berdakwah dengan berdo’a dari rumah ke rumah, baik do’a Rasu, do’a Aqiqah, do’a qurban dan do’a selamatan lainnya. Setelah melakukan do’a, biasanya beliau memberikan tausiah mengenai ajaran Tauhid. Kadang-kadang tausiahnya ini begitu panjang hingga sampai subuh. Namun para undangan tetap mendengarnya dengan penuh antusias.

M. Saleh Yasin, salah seorang menantunya yang mendampingi beliau selama 17 tahun, menceritakan bahwa suatu saat, ketika beliau datang ke rumah muridnya, sepanjang jalan, orang-orang menyambutnya dengan antusias dan berebut menyalami beliau lalu mengikuti do’a dan tausiah beliau sampai akhir. Selain itu, karena begitu taatnya mereka kepada Ruma Guru, sampai-sampai air sisa wudhu beliau berebut diambil untuk diminum bahkan kakinya dicium.

Selain masyarakat biasa yang mengundang beliau, sultan Muhammad Salahuddin dan Sultan Abdul Kahir II pun jika ada hajat, sering memanggil beliau untuk memimpin do’a di istana dan di pandopo. Ketika sultan Muhammad Salahuddin meninggal, beliau dipanggil khusus untuk memimpin do’a arwah sultan. Walaupun terkenal dekat dengan pihak istana, beliau selalu menolak jika diberi jabatan. Suatu saat, beliau diminta oleh sultan untuk menjadi Lebe Dala atau pimpinan Lebe/Imam, beliau merasa bahwa menjadi Lebe Dala itu memiliki tanggung jawab yang besar, maka beliau menolak secara halus permintaan tersebut dengan mengatakan “jadikan saja saya marbot”. Begitu beliau merendah.

Selain di Rontu, beliau juga melakukan praktek dzikir tarekat Qadariyah Naqsabandiyah di Ntobo. Dzikir tarekat Qadariyah dilaksanakan pada setiap sore Selasa dan Jum’at. Sementara dzikir tarekat Naqsabandiyah dilaksanakan setiap malam tanggal 11 bulan Qamariah. Dzikir tarekat ini beliau laksanakan di samping rumah dengan membuat lingkaran yang dipagari dengan kayu jati. Lama-kelamaan, muridnya di Ntobo juga semakin banyak, maka pada tahun 1959, beliau mendirikan mushollah pertama di Ntobo yang diberi nama al-Khitab, meskipun pembangunan ini ditentang oleh pemerintah karena tidak mau berpolitik. Musholla ini dibangun dari hasil penjualan dua ekor kuda miliknya. Sementara kayu jati dan pengerjaan dilakukan secara gotong royong oleh murid-murid beliau serta partisipasi masyarakat setempat. Selanjutnya, di mushollah inilah sebagai pusat dakwah dan pelaksanaan do’a dan dzikir tarekat. Dengan cara dakwah seperti ini, beliau dianggap berhasil menyingkirkan kepercayaan Parafu di kalangan masyarakat Ntobo hingga saat ini.

Pengajaran ilmu syariat dan Tarekat ini tentu saja tidak semua orang mengikutinya, hanya orang-orang tertentu yang memiliki minat memperdalam Tarekat yang menjadi muridnya. Diperkirakan murid tarekatnya di Ntobo berjumlah kurang lebih seratus orang. Biasanya mereka ini sudah mendalam ilmu syari’ahnya. Adapun materi yang biasa diajarkan antara lain berkaitan dengan Istinja’, Thoharah, kalimat La ilaha Illallah, Sholat dan sifat-sifat Allah. Sebagai panduan dalam melakukan dzikir tarekat qadariah naqsabandiyah, beliau menulis buku yang diberi judul al-Hikmah.

Tiga tahun sebelum meninggal, beliau sempat jatuh sakit, namun pada saat itu, beliau katakan bahwa beliau akan meninggal tiga tahun lagi. Benar, tiga tahun kemudian, beliau jatuh sakit dan meninggal dunia pada tanggal 12 Muharram yang bertepatan dengan tahun 1980 M di makamkan di Ntobo Kota Bima. Ketika beliau meninggal, ribuan orang melayat mengantar jenazah beliau, bahkan banyak orang berebutan menggali kuburan beliau. Hal ini terjadi karena mereka hendak mengambil berkah terhadap karomah beliau. Akhirnya, gelarang atau kepala desa memberi kesempatan tiap satu orang lima kali galian.

Sepeninggal beliau, praktek tarekat qadariyah naqsabandiyah tersebut dipercayakan kepada putra keduanya yang bernama TGH. Afandi Ibrahim yang telah dibaiatnya pada tanggal 17 Ramadhan yang bertepatan dengan tahun 1979 M. Dzikir tarekat tersebut tetap dilaksanakan hingga saat ini sebagaimana pesan almarhum, walaupun tidak seramai yang dulu.

Untuk melanjutkan misi dakwahnya tersebut, beliau juga berwasiat kepada putra putrinya untuk membangun pesantren. Saat ini, wasiat tersebut sudah diwujudkan oleh putra-putranya dengan membangun dua pondok sekaligus yaitu pondok pesantren Nurul Ihsan dan pondok pesantren al-Khitab al-Islami. Pondok pesantren Nurul Ihsan diasuh oleh putra keduanya TGH. Afandi Ibrahim, mendirikan Madrasah Aliyah (MA) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sedangkan pondok pesantren al-Khitab al-Islami diasuh oleh TGH. Muhammad Husain dan TGH. Muhammad Yusuf (al-Marhum) dengan mendirikan Madrasah Tsanawiyah.

Keistimewaan yang dimiliki

Beliau juga dikenal sebagai sosok kharismatik yang memiliki karomah tertentu. Untuk membuktikan itu, ada beberapa kesaksian yang dituturkan oleh putra-putranya atau kerabat yang pernah mendampingi beliau, diantaranya sebagai berikut:

(1) Beliau mengetahui terlebih dahulu tamu yang akan datang mengunjunginya (2) Begitu juga ketika tidak ada ikan untuk dimakan, lalu beliau menginginkan ayam hutan (peo), maka dengan seketika ayam hutan tersebut datang masuk ke kolong rumah, ditangkap, disembelih lalu dimakan (3) almarhum H. Muhtar pernah bercerita bahwa ketika pergi ke Busu, dusun sebelah, hujan turun dengan lebatnya tapi selama perjalanan mereka tidak basah karena dinaungi.

(4) Begitu juga Jamal Ama Dija bercerita ketika berangkat dari Rontu menuju Ntobo, datanglah banjir besar di kali Rontu yang menyebabkan mereka tidak bisa menyebrang. Kalau mau menyebrang, harus menunggu air banjir surut. Jika menunggu air banjir surut, maka membutuhkan waktu yang agak lama. Sementara hari sudah mulai gelap. Lalu beliau berjalan bersama si Jamal Ama Dija bolak balik dipinggir sungai sebanyak tujuh kali. Ketika si Jamal Ama Dija sadar, tiba-tiba mereka berdua sudah berjalan di sebelah barat penjara.

(5) Syeikh Abdarab Dompu, setelah TGH. Ibrahim meninggal dunia, datang ke Ntobo untuk berziarah dan bersilaturrahmi dengan keluarga beliau. Ketika waktu sholat tiba, Syeikh Abdarab mengimami sholat berjama’ah di Masjid. Syeikh Abdarab mengimami sholat tersebut sambil menangis terisak-isak. Ketika beliau sedang memberi tausiah, masuklah isteri Ruma Guru ke dalam mushollah, langsung saja beliau mendatangi istri Ruma Guru lalu mencium tangannya sambil berkata; “Saya bukan mencium tangan umi tapi mencium tangan Ruma Guru H. Ibrahim”, karena menurut beliau Ruma Guru H. Ibrahim adalah seorang wali. “Suami umi itu seorang wali”. Begitu ujarnya sampai tiga kali.

(6) Suatu saat beliau pernah memberitahukan murid-murid dan keluarganya untuk berjaga-jaga bahwa akan ada suatu hal yang ditakuti tahun depan, setahun kemudian terjadilah peristiwa G30S PKI. Begitu juga dengan gagal panen, keadaan pemerintahan, semuanya bisa beliau ketahui lebih dahulu. Wallahu a’lam. By Syukri Abubakar dan Iwan Sadaruddin

Surabaya, 15 Desember 2018


Leave a Reply