Ukirlah jejak terbaik dalam hidup mu !

Ukirlah jejak terbaik dalam hidup mu !

Category : Inspirasi Pagi

Berkumpul dengan orang-orang pintar itu sangat menyenangkan karena kita bisa mendapatkan banyak wejangan keilmuan dari mereka. Contohnya kemarin saya mendapatkan pencerahan dari seorang Profesor kondang, yang sudah banyak menulis buku dan sudah malang melintang di dunia dakwah, di dalam maupun luar negeri, beliau adalah Profesor Ali Aziz.

Memulai pembicaraan, beliau bertanya kepada jama’ah, apakah mungkin manusia bisa berumur ribuan tahun lebih?, tidak mungkin, jawab para jama’ah serempak. Beliau melanjutkan, coba cek berapa umur manusia terlama yang tinggal muka di bumi. Menurut ulama, manusia terlama tinggal di bumi adalah Nabi Adam As, umurnya seribu tahun, disusul nabi Nuh 950 tahun, nabi Idris As 865 tahun (Nabi Idris sendiri disebut masih hidup sampai sekarang), nabi Hud 464 tahun dan seterusnya.

Menurut informasi yang beredar, belum ada orang di bumi yang umurnya melewati umur Nabi Adam. Namun demikian, Prof. Ali Aziz menegaskan bahwa manusia ada yang berumur bahkan lebih dari lima ribu tahun. Bukankah mereka yang sudah meninggal itu bisa dihidupkan lagi oleh Allah Swt. seperti kisahnya Nabi Idris yang meminta dicabut nyawanya oleh Allah Swt. untuk menambah ketaqwaannya. Kemudian beliau meminta untuk diperlihatkan neraka dan surga. Namun sesampainya di surga, beliau tidak mau keluar dari sana, maka Allah mengabulkan tanpa dicabut lagi nyawanya.

Demikian pula kisah Nabi Ilyas As yang merasa sedih ketika akan dicabut nyawanya, beliau menangis seketika itu kerena tidak bisa lagi berdzikir kepada Allah Swt. jika telah meninggal. Keluh kesah Nabi Idris As ini didengar oleh Allah Swt. dan Allah Swt. pun menaqdirkannya untuk hidup sampai ia meminta untuk dicabut nyawanya. Pun demikian kisah Nabi Khidir As yang dianggap memiliki ilmu hikmah dan menjadi penghulunya para wali yang masih hidup sampai saat ini, dan Nabi Isa As yang akan datang kembali pada hari akhir nanti. Juga Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu.

Allah Swt. berfirman dalam Qs. Yasin: 12
“Sesungguhnya kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh mahfuzh)”.

Terhadap ayat di atas Prof. Ali Aziz menjelaskan bahwa manusia itu bisa saja memiliki umur yang panjang, seperti yang terjadi pada para Nabi dan Imam Mahdi tersebut. Keistimewaan itu juga bisa dimiliki oleh manusia biasa seperti kita dengan memaknai yang hidup kembali itu adalah “jejak kehidupan” masa lalu bukan dimaknai secara secara fisik.

Kata “nuhyi” pada ayat di atas, secara tata bahasa Arab adalah fi’il mudhori’ yang menunjukkan arti “terus menerus”, “sekarang dan akan datang”. “Nuhyi” artinya hidup secara terus menerus sampai kapan pun. Bahwa orang yang telah mati kemudian dihidupkan lagi oleh Allah Swt. pada kehidupan yang kedua dalam jangka waktu yang cukup lama.

Demikian juga semua amal perbuatan manusia yang telah dilakukan dulu, baik berupa amal baik maupun amal buruk telah dicatat dan catatan itu akan terus ada sampai hari akhir, dikumpulkan dalam catatan induk (lauhul mahfud). Catatan itulah yang menjadi salah satu rujukan apakah orang itu layak masuk surga atau neraka.

Oleh karenanya, Prof. Ali Aziz berpesan agar kita banyak-banyak membuat atsar atau jejak yang baik dalam kehidupan ini sehingga dikenang sampai akhir masa. Dengan demikian, walaupun kita secara fisik telah tiada, tapi karya dan jejak baik kita selalu dikenang. Itulahlah yang terjadi pada orang-orang besar nan sholeh zaman dahulu, nama mereka tetap dikenang hingga kini. Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad b. Hanbal dan Imam-imam lainnya, walaupun secara fisik sudah tiada, tapi namanya tetap disebut dan dikenang hingga saat ini bahkan waktu-waktu yang akan datang karena karya-karya monumental mereka dipelajari dan diajarkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kita, walaupun tidak sehebat mereka, tetap berupaya sekuat tenaga untuk berbuat baik dan mengukir jejak hidup yang terbaik sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing, sehingga dapat dikenang dan diikuti secara terun temurun oleh anak cucu dan generasi kita berikutnya. Hindari menciptakan jejak hidup yang buruk karena berkaitan dengan pahala dan dosa yang akan terus mengalir selama jejak hidup itu masih terus diikuti dan dipraktekkan oleh generasi berikutnya, na‘udzubillah min dzalika tsumma na’udzubillah. Wallahu a’lam.

Surabaya, 12 Desember 2018


Leave a Reply