Serial Ulama Kharismatik Bima (10)

Serial Ulama Kharismatik Bima (10)

Category : Uncategorized

Biografi dan Jejak Dakwah TGH. Muhammad Said Ngali

Informasi tentang TGH. Muhammad Said ini diperoleh penulis dari buku suntingan Marwan Sarijo yang berjudul “Mengenang KH. Muhammad Said dan KH. Usman Abidin”. Buku ini mengurai secara lengkap sosok kedua Tuan Guru tersebut mulai dari kelahiran, jenjang pendidikan, peran-peran yang dimainkan selama hidup sampai akhir hayat mereka.

Walaupun kisah hidup beliau sudah diurai lengkap dalam sebuah buku, tidak salah juga penulis menceritakan ulang intisari dari buku tersebut sebagai pembelajaran penulis dan penikmat sejarah hidup seorang tokoh dalam menggali nilai-nilai yang dapat dijadikan pegangan dalam kehidupan.

TGH. Muhammad Said lahir di desa Ngali pada tahun 1912 M. Tidak disebutkan tanggal dan bulan berapa beliau dilahirkan. Dijelaskan bahwa beliau lahir setelah beberapa tahun terjadinya perang Ngali (1905-1909 M). Pada usia yang relatif muda (remaja), beliau berangkat ke Makkah al-Mukarramah dan mukim di sana selama 13 tahun dalam rangka berangkat haji dan memperdalam ilmu agama.

Disana beliau belajar secara formal di madrasah Falaqiyah yang mengajarkan materi agama dan umum. Selebihnya beliau menggembleng diri dengan mengaji di masjidil haram. Guru-guru yang mengajarnya berasal dari berbagai latarbelakang, ada yang dari Bima, ada yang dari semenanjung Malaka dan Indonesia dan ada yang dari negara lain.

Guru-gurunya yang dari Bima diantaranya adalah orang tuanya sendiri Syaikh Abubakar Ngali, Tuan Guru Hamzah Cenggu dan Tuan Guru Haji Abidin, dan lain-lain. Guru-guru dari semenanjung Malaka dan Indonesia diantaranya al-Alim al-Hajj Muhammad bin Dawud Fathani, Malaya Patani Thailand Selatan, al-Alim al-Hajj Ibrahim Fathani, Malaya Patani Thailand Selatan, al-Alim al-Hajj Ahyad al-Bagari, Bogor Jawa Barat, al-Alim Husein bin Abdul Gani Palembang Kamri, Komering Palembang Sumatera Selatan, dan al-Alim al-Falaqi Syaikh M. Yasin al-Fadangi, padang Sumatera Barat.

Selain diajar oleh ulama Nusantara, beliau juga diajar oleh guru-guru manca negara seperti Syaikh Omar Hamdan, Syaikh Alawi Maliki, Syaikh Amin Qurthubi, Syaikh Said Yaman, dan lain-lain.

Setelah mendapatkan “Syahadatut Tadris” atau “Syahadah” beliau dipercaya untuk mengajar di masjidil Haram mengikuti jejak sang ayah Syaikh Abubakar, bersama Tuan Guru Abdurrahman Idris.

Di Makkah inilah beliau menemukan jodoh yang menjadi isterinya, siti Zainab, putri al-Marhum Syaikh Ali Yunus Sila Bolo. Mereka pada awal tahun 1930 di Gaza Makkatul Mukarramah. Saat itu Zainab berumur 15 tahun dan TGH. Muhammad Said berumur 20 tahun. Menjelang dua tahun usia pernikahan dan sang isteri dalam keadaan hamil tua, TGH. Muhammad Said memutuskan untuk pulang ke Bima.

Kepulangan ke kampung halaman ini disebabkan beberapa pertimbangan di antaranya: pada saat itu di Makkah terjadi perebutan kekuasaan antara dinasti Syarif Husein yang berpaham ahli sunnah bermazhab Syafi’iyah dengan dinasti al-Saud yang berpaham Wahabi bermazhab Hanbali, yang dimenangkan oleh dinasti al-Saud, sehingga paham Wahabilah yang digunakan sebagai paham negara sehingga membuat keresahan di kalangan masyarakat dan mendapat resistensi keras di kalangan ulama Syafi’iyah karena kebijakan-kebijakannya yang bertolak belakang dengan paham kebanyakan ulama seperti hendak memindahkan makam Nabi Besar Muhammad Saw. dan makam sahabat Nabi yang terdapat dalam masjid nabawi ke kompleks makam Baqi’ yang lokasinya jauh dari masjid Nabawi.

Gerakan Wahabi ini terkenal keras dalam membasmi segala macam bentuk bid’ah, khurafat, dan berbagai tindakan musyrik lainnya. Gerakan ini bermusuhan dengan kelompok ahli tasawuf dan Syi’ah karena dianggap telah melenceng dari ajaran Rasulullah Saw. sehingga karena ketidaksetujuannya dengan penguasa, banyak ulama mukimin yang pulang ke negaranya masing-masing yang mengakibatkan berkurangnya intensitas pengajian kitab kuning di Masjidil Haram.

Alasan lain kepulangannya adalah adanya perintah dari sultan Muhammad Salahuddin agar mukimin di Makkah segera pulang ke Bima untuk mengajar di sekolah yang telah didirikan oleh Sultan yakni Darut Tarbiyah di Raba (saat ini SMA Yasim Raba) dan sekolah Darul Ulum di Suntu Bima (sebelah selatan Sigi Nae Bima, TK Perwanida) yang dirintis oleh Persatuan Islam Bima (PIB).

Dan alasan yang paling mendasar adalah adanya surat dari Abahnya Syaikh Abubakar bin Nawawi yang meminta TGH. Muhammad Said dan ibunya Saleha untuk segera pulang ke Bima. Atas dasar surat itu, pulanglah TGH. Muhammad Said beserta ibunya Saleha, isterinya Zainab dan anak semata wayangnya menuju kampung halaman di Ngali Bima. Sesampainya di Ngali, abahnya kaget dan heran melihat kepulangan TGH. Muhammad Said beserta ibu, isteri dan anaknya karena tidak dikabarkan terlebih dahulu.

Memperhatikan abahnya yang kaget, TGH. Muhammad Said malah merasa heran, padahal kepulangannya beserta ibu, isteri dan anaknya ke Ngali atas perintah abahnya melalui surat yang dikirim ke Makkah al-Mukarramah.

Dalam kebingungan seperti ini, muncul Aisyah, adik dari Saleha dan yang melahirkan Marwan Saridjo, datang bersimpuh dihadapan Syaikh Abubakar bin Nawawi meminta maaf yang sebesar-besarnya bahwa tanpa sepengetahuan Syaikh Abubakar, ia mengirim surat ke Makkah al-Mukarramah meminta agar kakaknya Saleha segera pulang ke Bima. Surat yang pertama atas namanya tidak digubris oleh kakaknya, lalu ia mengirim lagi surat yang kedua dengan mengatasnamakan Syaikh Abubakar bin Nawawi, suaminya Saleha.

Setelah berada di Bima pada tahun 1932, ia diminta oleh sultan Muhammad Salahuddin untuk mengajar di madrasah Darut Tarbiyah Raba Bima dan di madrasah Darul Ulum Suntu Bima. Oleh karena itu, untuk mempermudah mobilisasi, Tuan Guru memilih tinggal di rumah tempat tinggal abahnya dulu. Setelah pensiun, abahnya memilih tinggal di Ngali beserta isteri dan anak-anaknya yang lain.

Rumah tersebut berlokasi di kampung Sigi, di samping masjid sultan Muhammad Salahuddin. Di rumah inilah Tuan Guru, secara informal mengajar santri-santrinya pada sore atau malam hari dimana banyak siswa yang menginap di rumahnya sehingga mereka jadikan rumah Tuan Guru sebagai semacam “pondok pesantren”.

Murid-muridnya berasal dari berbagai pelosok desa, diantaranya M. Nur Parado, Abdurrahim Parado, M. Said Dena, M. Taher Rade, Hasan Sondosia, dan lain-lain.

Menurut informasi Hj. Aminah Muchtar, putri keduanya, Tuan Guru juga diangkat oleh sultan Muhammad Salahuddin menjadi Khatib Toi (khatib pengganti). Ketika menjadi Khatib Toi ini, ada kejadian menarik yang menimpa Tuan Guru. Pada saat itu, khatib di semua masjid di tanah Bima berkhutbah menggunakan bahasa Arab. Teks khutbah diambil di Bima untuk dibacakan tiap kali jum’atan. Jika tidak sempat mengambil teks khutbah, maka khatib membaca teks khutbah minggu sebelumnya.

Memperhatikan bahasa yang digunakan oleh Khatib adalah bahasa arab seluruhnya, yang berarti jama’ah tidak mengerti isi khutbah yang dibaca oleh khatib, maka ketika Tuan Guru menjadi khatib, ia membaca khutbah dengan tiga bahasa yakni bahasa Arab, bahasa Bima dan bahasa Melayu. Tujuannya agar materi khutbah dapat dipahami oleh jama’ah sehingga dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mendengar Tuan Guru Muhammad Said membaca teks Khutbah dengan tiga bahasa tersebut, maka Ruma Bicara Abdul Hamid menemui mantan Imam Kerajaan Syaikh Abubakar bin Nawawi bapak dari TGH. Muhammad Said di Ngali memintanya untuk menegur putranya mengenai khutbah tiga bahasa tersebut. Bertepatan dengan hari itu juga, TGH. Muhammad Said berkhutbah di masjid Ngali dengan menggunakan tiga bahasa, Arab, Bima dan Melayu.

Menyikapi hal ini, maka diadakanlah semacam dialog untuk mengetahui apakah khutbah denga menggunakan tiga bahasa sebagaimana yang dilakukan oleh TGH. Muhammad Said tersebut, sah atau tidak.

Dalam dialog tersebut, TGH. Muhammad Said menjelaskan dalil-dalil yang tertera dalam kitab kuning tentang mana-mana yang diperbolehkan menggunakan bahasa Arab dan mana-mana yang tidak boleh menggunakan bahasa Arab. Dari penjelasan TGH. Muhammad Said tersebut maka disepakati bahwa khutbah menggunakan selain bahasa Arab itu diperbolehkan. Walaupun ada beberapa Tuan Guru saat itu yang tidak sependapat, namun praktek khutbah dengan selain bahasa Arab berlaku hingga saat ini.

Selain menjadi khatib Toi, sejak tahun 1920 M, beliau menjadi pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Bima bersama paduka sultan Muhammad Salahuddin, TGH. Usman Abidin, Zakariah Landrente, H. Sulaiman, H. Sanuddin, H. Mansyur Abu La Hila, dan Ama Kau Sangga (M. Hasyim) yaitu orang istana yang memegang bagian kepanduan Anshor.

Ketika itu, bangsa Indonesia dijajah oleh Jepang dan sekutu datang membombardir wilayah kota Bima sehingga menjadi porak-poranda termasuk masjid sultan dan rumah beliau sendiri. Karya-karya kaligrafi yang beliau tulis dan digantung didinding rumah menjadi tidak berbekas.

Di kala situasi mencekam seperti itu, Jepang meminta kepada sultan Bima agar mengumpulkan gadis-gadis Bima untuk menjadi “pelayan bar” guna melayani tentara Jepang. Permintaan tersebut ditolak mentah-mentah oleh sultan Bima dan segenap jajaran kesultanan serta masyarakat secara umum serta diprotes keras atas permintaan Jepang tersebut.

Memperhatikan nada protes dari masyarakat Bima itu, maka Jepang mendatangkan wanita-wanita dari luar Bima untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dalam situasi seperti ini, sultan Bima menganjurkan warga masyarakat yang memiliki anak gadis untuk segera dinikahkan untuk menghindari pemaksaan dari Jepang.

Maka berlomba-lombalah kaum bapak mencarikan jodoh untuk anak-anak perempuan mereka. Pada masa itu harga laki-laki menjadi mahal dan lunturlah adat kebiasaan yang berlaku, dimana biasanya perempuan yang dilamar oleh laki-laki. Biasanya laki-laki datang melamar dengan merendahkan diri “kabawa ku weki ku ka su’u kai ku tuta ku, mada ma mai kili rofa ro popo mama di tando penta ro tini ita doho” (dengan segala kerendahan hati, saya junjung di atas kepala segala titah, kiranya ibu/bapak berkenan menerima lamaran saya).

Namun pada saat itu, sang gadis menjadi turun wibawanya dengan menjadi pelamar seorang laki-laki. Begitulah yang terjadi pada diri TGH. Muhammad Said, dimana beliau dilamar oleh calon mertuanya Ja’far Rato RasanaE, bangsawan Melayu yang memiliki kedudukan tinggi dan menjabat sebagai Khatib To’i, menulis surat lamaran dengan aksara arab Melayu yang ditujukan kepada TGH. Muhammad Said agar mau menikahi putrinya yang bernama Chadijah (ince dadu).

Pada masa itulah yang dikenal dengan “kawin baronta” yaitu suatu terobosan yang terpaksa dilakukan menyebabkan dilanggarnya adat kebiasaan. Dimana biasanya gadis Melayu hanya boleh dinikahi oleh orang Melayu sendiri, tidak boleh menikah dengan selain suku Melayu. Tapi karena keadaan yang memaksa, maka adat tersebut dilanggar juga.

Sosok TGH. Muhammad Said ini, berdasarkan catatan Syamsudin Haris dapat dirangkai dengan tiga kata kunci, yaitu kepemimpinan, keulamaan, dan keteladanan. Tiga kata kunci ini merupakan warisan yang cukup luar biasa, tidak hanya bernilai bagi keluarganya tapi juga bernilai bagi masyrakat Bima secara keseluruhan. Namun, Syamsudin Haris menyayangkan tiga kata kunci tersebut, kepemimpinan, keulamaan dan keteladanan hampir-hampir terputus pada generasi tokoh Bima pada saat ini.

Sejak rumahnya terkena bom oleh sekutu pada tahun 1944, mengharuskan beliau pindah tempat tinggal ke Ngali dengan keluarganya. Beliau kadang pulang pergi Ngali Bima yang dilalui dengan dokar. Kadang juga menginap di kampung Melayu bersama isterinya Ince Dadu dan ikut bergabung juga bersama rombongan sultan dan keluarga dalam lubang prlindungan di Dodu bersama tokoh NU lainnya.

Akibat pengeboman sekutu yang bertubi-tubi itu, menyebabkan banyak korban jiwa yang bergelimpangan, sehingga kewajiban yang hidup untuk menguburkannya dengan baik. Tuan Guru pun ikut andil dalam mengumpulkan mayat-mayat yang banyak itu kemudian dikafani dan di sholati. Kebanyakan jenazah tidak dikuburkan dengan kain kafan tapi dikuburkan dengan tikar saja.

Dalam kondisi yang cukup melelahkan itu, kesehatan Tuan Guru pelan-pelan tambah menurun drastis. Barangkali karena kurang tidur dan kurang minum sehingga beliau menghembuskan napas terakhirnya dalam usia 34 tahun sebelum kemerdekaan RI. Wallahu a’lam

Dara Bima, 16 Januari 2019

Sumber ruujukan disarikan dari buku:
Marwan Sarijo (penyunting), Mengenang KH.Muhammad Said dan KH. Usman Abidin, Bogor, Yayasan Ngali Aksara dan Pesantren al-Manar Press, 2001.


Leave a Reply