Serial Ulama Kharismatik Bima (5)

Serial Ulama Kharismatik Bima (5)

Category : Tokoh Lokal

Jejak Intelektual TGH. Thalib Usman

Thalib lahir di desa Roi pada tanggal 7 Maret 1934 dari pasangan Usman bin Muhammad dan Zainab binti Maryam. Ayahnya termasuk orang sholeh dan mengerti agama sehingga beliau dijadikan sebagai guru ngaji di kampungnya. Ayahnya bercita-cita agar Thalib kecil, kelak menjadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa, terutama dalam masalah agama, sehingga beliau menginginkan suatau saat nanti, bisa menyekolahkan Thalib di tempat kelahiran Nabi Besar Muhammad Saw., Makkah al-Mukarramah.

Thalib kecil disekolahkan di Sekolah Dasar yang berlokasi di Desa Cenggu. Di Sekolah Dasar itu ditempuhnya selama 3 tahun, yaitu dari tahun 1939 sampai dengan 1942. Setelah menyelesaikan Sekolah Dasar ini, Thalib melanjutkan belajar di Sekolah Rakyat yang berlokasi di Tente. Sekolah Rakyat ini pun dilaluinya selama 3 tahun, yaitu tahun 1943 sampai dengan 1945.

Sekolah berikutnya yang Thalib masuki adalah Madrasah Islam (MI) Nata. Di sekolah ini, Thalib jalani selama 1 tahun yaitu pada tahun 1946. Ketika belajar di MI Nata ini, menurut penuturannya, ia selalu mendapatkan nilai tinggi. Teman-temannya sekelas merasa curiga, mengapa Thalib bisa mendapatkan nilai tinggi. Mereka mengira, Thalib ada main dengan sang guru, karena Thalib sangat dekat dengan sang guru bahkan setiap pulang, Thalib selalu mengantar gurunya pulang ke rumah dengan sepeda miliknya. Menurutnya, nilai tinggi yang diperolehnya itu, tidak ada kaitannya dengan kedekatannya dengan sang guru, tapi karena memang ia rajin belajar sehingga nilai yang diperoleh sangat memuaskan.

Pada tahun 1947, keinginan sang ayah untuk menyekolahkan Thalib di Makkah al-Mukarramah mulai ditemukan titik terangnya. Ini berawal ketika Thalib dapat menyelesaikan belajar di Madrasah Islam Nata dengan nilai yang memuaskan. Melihat perkembangan dan kemampuan putranya secara keilmuan terus meningkat, maka sang ayah memutuskan memberangkatkan Thalib ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu agama. Keberangkatannya di Makkah al-Mukarramah ini, ditemani oleh H. Sanudin atau biasa dipanggil Muma Lebe yang berasal dari desa Ro’i.

Mereka berdua berangkat ke Makkah al-Mukarramah dengan menumpang kapal yang bernama Taliwang yang dimulai dari Bima menuju Makassar, dari Makassar menuju Jakarta dan dari Jakarta menuju Makkah al-Mukarramah. Perjalanan ini memakan waktu selama enam belas hari. Setelah menunaikan ibadah haji, Thalib menetap di sana untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. sementara H. Sanudin meninggal di Makkah al-Mukarramah ketika melaksanakan ibadah haji.

Di sana Thalib belajar di Sekolah Darul Ulum Makkah. Ketika dites, Ia diterima di kelas lima dan dijalaninya sampai kelas dua belas yaitu mulai tahun 1947 sampai dengan tahun 1955. Beliau termasuk anak yang cerdas karena selalu mendapatkan peringkat ke dua dari empat puluh orang murid. Sementara yang mendapatkan peringkat pertama selalu diraih oleh anak dari Ampenan Mataram yang bernama M. Hidir. Pada kelas terakhir (kelas 12 Aliyah) disamping beliau mendapatkan peringkat kedua, beliau juga mendapatkan hadiah pulpen yang terbuat dari emas. Penghargaan ini sangat membanggakannya sehingga sampai sekarang selalu dikenangnya.

Murid Sekolah Darul Ulum berasal dari berbagai negara, yaitu Arab Saudi, Malaysia, Bangkok, Philipina, Syam, dan Indonesia. Tenaga pengajar kebanyakan berasal dari Malaysia dan Indonesia. Salah satu gurunya adalah ulama Besar Indonesia Syeikh Yasin al-Padangi. Adapun guru-gurunya yang lain adalah Syeikh Abdullah Nuh, Syeikh Al-Atthos, dan Syeikh Mansur. Thalib banyak menimba ilmu dari guru-gurunya tersebut terutama dari Syeikh Yasin al-Padangi yang selalu memberi semangat untuk terus memperdalam ilmu agama terutama ilmu Tafsir dan Hadist. Kitab-kitab yang dikaji adalah kitab-kitab yang cukup masyhur di kalangan ulama, yaitu kitab-kitab Tafsir, Hadist, Fiqh dan lain-lain. Salah satu kitab yang dikaji adalah kitab al-Wajiz mukhtasar al-Bukhari.

Setelah tamat dari sekolah Darul Ulum Makkah, Thalib mengikuti ujian di Departemen Wajaratul Ma’arif (Departemen Pendidikan) dan dinyatakan lulus. Atas kelulusannya ini, Thalib ditugaskan di sebuah Madrasah yang bernama Madrasatus Su’udiyah. Tugas ini dijalaninya selama 2 tahun, mengajar mata pelajaran Fiqh dan mata pelajaran berhitung. Adapun tujuan mengajar di sekolah ini adalah untuk melanjutkan studi di Mesir. Namun karena orang tua memanggil untuk pulang kembali ke Tanah air, maka pulanglah ia pada tahun 1957.

Sepulang dari Makkah al-Mukarramah, pada tahun 1957, ia menikah dengan seorang gadis yang bernama Siti Ma’ani, putri dari H. Sanudin atau Muma Lebe yang menemaninya berangkat Haji dahulu. Gadis ini dibesarkan oleh orang yang cukup terpandang di Desa Roi karena yang bersangkutan menduduki jabatan sebagai Gelarang. Pernikahannya ini, menurutnya atas prakarsa orang tuanya karena sebelumnya ia tidak mengenal dekat dengan sang calon isteri. Hal semacam ini, sudah lazim terjadi pada masa lalu, dimana perjodohan seperti itu sudah menjadi tradisi.

Dari hasil pernikahannya tersebut, melahirkan tujuh orang anak dan dua belas orang cucu. Anak pertama seorang perempuan yang sudah terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Empunya hidup, Allah Swt. Anak kedua, seorang putra satu-satunya yang diberi nama H. Fauzi menikah dengan Hj. Fauziah yang dikaruniai tiga orang putra yang bernama Muhammad Fahrurroji, Muhammad Farhan, Muhammad Fajar. Anak ketiga, bernama Hj. Faijah menikah dengan H. Taufikurrahman yang dikaruniai dua orang anak putra dan putri yang bernama Abdurrahman Asy-Syakur yang saat ini menjadi dosen UDAYANA Denpasar dan Haifaturrahmah saat ini menjadi dosen luar biasa di UIN Mataram. Anak keempat, Hj. Fatahiyah menikah dengan H. Muhidin (saat ini menjabat sebagai wakil ketua PA Bima) dikaruniai tiga putra, masing-masing Muhammad Tajus Subki, Muhammad Taqiyuddin dan Tamlihatul Khalisah. Anak kelima, bernama Siti Maryam menikah dengan Abubakar. Anak keenam, Ida Laila menikah dengan Awad yang dikaruniai dua orang putri cantik yang diberi nama Anggira Miftahussakinah (Zihan) dan Zehan dan anak yang terakhir Nuraini menikah dengan Syukri Abubakar dikaruniai tiga orang anak yaitu M. Faridunnafis, Nailus Sa’adah dan M. Faiq Ramadhan.

Keenam putra putrinya, saat ini sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. H. Fauji bekerja di Mahkamah Agung RI, Hj. Faijah sebagai ibu rumah tangga, Hj. Fatahiyah bertugas di Pengadilan Tinggi Mataram, Siti Maryam bekerja di Pengadilan Agama Sumbawa, Ida Laila ditugaskan di Pengadilan Agama Dompu, dan Nuraini di Pengadilan Negeri Raba Bima.

Sepulang dari Makkatul Mukarramah pada tahun 1957, di samping menghelat acara pernikahan, Thalib juga diangkat sebagai Khatib Lawili di Badan Hukum Syara’ Bima yang diketuai oleh TGH. Jaharudin Rontu, sambil ditugaskan sebagai guru PGA 4 tahun dan mengajar di PGA 6 tahun. Mengajar juga di madrasah PGA Negeri, Madrasah Aliyah, dan PGA Muhammad Salahudin sebagai guru honor. Di sekolah yang disebut terakhir ini, beliau mengajar materi Bahasa Arab.

Pada tahun 1972, Thalib dipercayakan sebagai dosen luar biasa di Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya cabang Bima. Pada saat itu, yang menjabat sebagai dekan adalah H. Abdurrahman, MA. yang berasal dari desa Ntonggu. Di Fakultas ini, Thalib mengajar mata kuliah Bahasa Arab, Tafsir dan Hadist. Untuk mata kuliah tafsir, Thalib menekankan mahasiswanya untuk merujuk ke kitab-kitab klasik seperti Tafsir Ayatul Ahkam dan Tafsir Ibnu Katsir, sementara untuk mata kuliah hadist merujuk pada Kitab Syarh Shohih Bukhari, Shohih Muslim, Bulugul Maram dan kitab-kitab hadist lainnya.

Selain mengajar, Thalib juga pernah bekerja di Kantor Urusan Agama Daerah (KUAD), kemudian pindah ke kantor Perwakilan Departemen Agama yang saat itu dikepalai oleh bapak Yusuf Sulaiman. Setelah bapak Yusuf Sulaiman pensiun, kantor tersebut dikepalai oleh TGH. Amin Ismail.

Pada tahun 1973, Thalib mengikuti ujian Inspeksi Peradilan Agama (Inspra) di Surabaya untuk menjadi ketua Pengadilan Agama. Dalam ujian ini, beliau dinyatakan lulus dan ditawarkan untuk menjadi ketua Pengadilan Agama Jember, Ponorogo dan Lombok Tengah. Tawaran tersebut beliau tolak karena sebelumnya sudah ada perjanjian untuk berbakti di daerah sendiri (Bima). Berselang dua tahun (1975) beliau mendapatkan SK dari Departemen Agama Republik Indonesia untuk menjadi ketua Pengadilan Agama Dompu. Di Pengadilan Agama Dompu dijalaninya sampai tahun 1986. Banyak suka dan duka yang beliau alami selama menjalani tugas sebagai Ketua PA Dompu. Sukanya, Thalib bisa mengimplementasikan kemampuannya dalam masalah keagamaan yang diajukan disana, dengan memutuskan perkara sesuai dengan apa yang ditulis dalam kitab-kitab klasik tersebut. Sedangkan dukanya, kadang-kadang dalam memimpin suatu lembaga, ada saja yang tidak suka dengan gaya kepemimpinannya. Namun demikian, sebagai pimpinan, apapun resiko yang ada harus dihadapi dengan sikap yang bijaksana sehingga hubungan dengan karyawan dan orang yang berperkara dapat terjalin dengan baik.

Pada tahun 1986 beliau dipindahkan ke Pengadilan Agama Sumbawa. Di Pengadilan Agama Sumbawa ini, Thalib jalani tugasnya sebagai ketua Pengadilan selama sepuluh tahun, yaitu hingga tahun 1996 karena pensiun.

Selama berada di Bima, di samping mengajar dan bekerja di kantor, Thalib juga berkecimpung di organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU), pernah menjabat sebagai Sekretaris Umum. Ketika aktif di NU ini, Thalib sering berdakwah dan mengikuti forum dialog yang digelar untuk mencari titik temu silang pendapat tentang pemahaman keagamaan di antara ormas-ormas Islam di Bima. Pernah suatu saat, Thalib terlibat perdebatan dengan pemuka ormas keagamaan lainnya yang mendiskusikan masalah-masalah yang dianggap Bid’ah. Dengan kemampuannya menguasai kitab-kitab kuning (kutubut turast), Thalib berargumentasi dengan berpijak pada kitab-kitab tersebut sehingga persoalan yang diberdebatkan dapat dengan mudah beliau urai satu demi satu.

Setelah pensiun dari Pengadilan Agama Sumbawa pada tahun 1996, Thalib beserta keluarga memutuskan untuk pindah ke Dompu, karena di Dompu inilah tempat tinggalnya yang permanen. Selama tinggal di Dompu ini, ia tetap melanjutkan misi dakwah dengan mengisi pengajian baik di masjid maupun di tengah masyarakat. Ia adalah salah seorang guru bagi masyarakat sekitar, jika ada persoalan keagamaan yang masih belum mereka fahami, mereka segera bertanya kepadanya. Berbekal kemampuannya dalam memahami masalah agama, maka persoalan-persoalan yang diajukan dapat dijelaskannya dengan tuntas dengan merujuk pada al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad Saw. serta pendapat pada ulama yang tercatat dalam beberapa kitab.

Sebagai bahan rujukan masyarakat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang sering muncul, beliau berupaya untuk menggali beberapa pandangan ulama terkait dengan masalah yang diajukan kepadanya yang tersebar dalam berbagai kitab. Hasil kajiannya tersebut kemudian ditulis dalam buku catatan harian beliau. Buku itu cukup lama tersimpan, terlihat dari wujudnya yang terlihat agak lapuk. Dan catatan itu hanya bisa dibaca oleh beliau sendiri, mengingat tulisannya tidak terlalu jelas kalau dibaca oleh orang lain.

Agar catatan itu memiliki nilai kemanfaatan dan bisa diakses oleh masyarakat luas, penulis menyarankan kepada beliau agar catatan itu diketik ulang dikomputer sehingga suatu saat nanti dapat diterbitkan menjadi sebuah buku. Beliau pun menerima saran tersebut dan mulailah kami mengerjakannya dengan cara beliau membaca dan penulis mengetikkannya di laptop. Kegiatan ini berjalan selama kurang lebih satu tahun karena jarak antara tempat tinggal penulis dengan beliau begitu jauh sehingga tidak bisa bertemu setiap hari. Ketika penulis berlibur tiap akhir pekan di kediamannya, barulah pengetikan itu dilakukan. Walaupun tidak semua catatan beliau berhasil diketik, karena faktor kemampuan fisik beliau yang semakin menurun, atas inisiatif dari anak-anaknya, hasil pengetikan itu pun berhasil dicetak pada tahun 2015 dengan judul Nailussa’adah; Jalan menuju Surga.

Ketika hasil karyanya ini sudah dicetak, secara fisik, beliau tidak mampu lagi membacanya karena faktor usia, namun secara perasaan nampak dari raut mukanya, beliau merasa bangga memiliki satu-satunya karya yang menjadi amal jariyahnya di kemudian hari. Karyanya ini dicetak sebanyak seribu eksemplar dan sebagian besarnya sudah disalurkan ke masyarakat luas.

Di mata anak-anaknya, beliau dianggap sebagai figur seorang bapak yang bertanggungjawab. Jika anak-anak membutuhkan bantuannya, maka segera dibantunya dengan senang hati. Beliau tidak membeda-bedakan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Beliau juga figur bapak sekaligus kakek yang penyayang. Beliau sangat sayang kepada cucu-cucunya melebihi sayangnya kepada anak-anaknya sebagai contoh beliau selalu mendo’akan khusus cucu-cucunya agar menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Beliau juga dianggap sebagai figur yang suka menolong, baik kepada keluarga maupun kepada orang lain.

Di masa tuanya, beliau berusaha untuk memperbanyak amalan-amalan yang bermanfaat, memperbanyak sedekah, sekali-sekali tadabbur alam ke beberapa lokasi yang belum pernah beliau datangi, dengan harapan agar kehidupannya diakhiri dengan khusnul khotimah. Beliau meninggal pada tanggal 10 Pebruari 2016 setelah sebulan sebelumnya ditinggal pulang kerahmatullah oleh sang isteri pada tanggal 10 Januari 2016.

Surabaya, 18 Desember 2018


Leave a Reply