Peringatan Isra’ Mi’raj di Dadibou

Peringatan Isra’ Mi’raj di Dadibou

Category : Kronik

Untuk kedua kalinya, pelaksanaan peringatan isra’ mi’raj dilaksanakan di masjid at-Taqwa desa Dadibou hari Ahad, 24 Maret 2019.  Perlaksanaan isra’ mi’raj ini terwujud berkat kalaborasi antara lembaga STIT Sunan Giri Bima dengan pengurus masjid al-Taqwa desa Dadibou.

Kegiatan ini diikuti oleh rombongan mahasiswa STIT Sunan Giri Bima dan masyarakat desa Dadibou. Kegiatan seperti ini menurut pengurus masjid tetap dilaksanakan setiap tahun. Namun tahun ini terasa istimewa karena diisi oleh penceramah dari kampus STIT Sunan Giri Bima ustad Julkarnain, S.Pd.I. atau biasa disapa UJ.

Pra acara diisi pembacaan shalawat oleh grup SDN Dadibou yang dilanjutkan oleh grup shalawat STIT Sunan Giri Bima. Demikian juga yang menjadi qari’ dan qari’ah perwakilan dari warga Dadibou dan mahasiswa STIT Sunan Giri Bima.

Dalam uraiannya selama satu jam itu, ustad Jul menyampaikan banyak hal, di antaranya; bahwa bukti cinta kita kepada Rasulullah Saw. adalah dengan cara selalu membaca sholawat  kepadanya.  Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. menurutnya memiliki pahala yang banyak pahala, sesuai dengan hadis Nabi Saw.

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat padanya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan.”

Jika seseorang membaca shalawat kepada Nabi Saw di bulan Rajab, maka dia akan mendapatkan tambahan pahala di sisi Allah. Dia akan mendapatkan minuman segar kelak di surga. Hal ini sebagaimana telah disebutkan oleh Syaikh Utsman bin Hasan al-Khaubari dalam kitabnya Durratun Nashihin, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda;

رأيت ليلة المعراج نهرا ماؤه احلى من العسل وابرد من الثلج واطيب من المسك. فقلت لجبريل : لمن هذا؟ قال : لمن صلى عليك في رجب

“Pada malam Mi’raj, saya melihat sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih dingin dibanding salju, lebih wangi dibanding minyak misik. Kemudia aku bertanya kepada Malaikat Jibril, ‘Untuk siapa ini?.’ Jibril menjawab, ‘Untuk orang yang membaca shalawat kepadamu di bulan Rajab.’”

Ustad Jul melanjutkan bahwa sebelum isra’ mi’raj dilakukan, Nabi Muhammad Saw. sedang berbaring di antara pamannya Hamzah dan sepupunya Ja’far bin Abi Thalib di Hijr Ismai’il. Tiba-tiba tiga malaikat, Jibril, Mika’il dan Israfil mendatangi beliau dan dibawanya ke arah sumur zam-zam. Dada Nabi dibedah dan hatinya dikeluarkan dan dicuci dengan air zam-zam, lalu dikembalikan ke tempatnya dan diisi dengan keimanan dan hikmah.

Pembersihan ini dalam rangka menambah kesucian hati Nabi agar lebih mantap dan kuat menjalani perjalanan yang maha dahsyat dan penuh hikmah serta mempersiapkan diri  berjumpa dengan Allah Swt. Oleh karena itu, ketika kita hendak sholat menghadap Allah Swt., di samping tempat dan badan kita yang dibersihkan, hati kita juga harus ikut dibersihkan.

Pelaksanaan peringatan isra mi’raj seperti ini, menurut ustad Jul harus terus digalakkan dalam rangka syi’ar Islam dan saling mengingatkan bahwa dulu Nabi Muhammad Saw. pernah mengalami peristiwa isra’ dan mi’raj menghadap sang Khaliq di Sidratul Muntaha dalam rangka menerima perintah sholat lima waktu.

Ustad Jul juga menjelaskan bahwa ketika menghadap Allah Swt. di Sidratul Muntaha, terjadi dialog antara Allah Swt. dengan Nabi Muhammad Saw. sebagai berikut:

Nabi Muhammad Saw. bersabda:

Attahiyatul Mubaraatush Shalawatut Thoyyibatu Lillah (Semua ucapan penghormatan, pengagungan dan pujian hanyalah milik Allah)

Kemudian Allah Swt. menjawab:

Assalamu Alaika Ayyuhan Nabiyyu Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh (Segala pemeliharaan dan pertolongan Allah untukmu wahai Nabi, begitupun rahmat Allah dan segala karunianya).

Nabi Muhammad Saw. menjawab lagi:

Assalamu’alainaa Wa Alaa Ibadillahis Shalihiin (Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kepada kami dan semua hamba Allah yang Shalih).

Melihat dan mendengar peristiwa  tersebut di luar Sidratul Muntaha, Para Malaikat terkagum-kagum, betapa mulianya Rasulullah Saw. maka mereka pun berucap dengan penuh keyakinan:

Asyhadu Alla Ilaha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah (Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah).

Demikian dialog yang terjadi antara Allah Swt. dengan Nabi Muhammad Saw. ketika bertemu di Sidratul Muntaha yang kemudian dialog tersebut diabadikan dalam tahiyat awal dan tahiyat akhir dalam sholat sunnah dan sholat fardhu. Wallahu a’alam.

Bima, 30 Maret 2019


Leave a Reply